Lanjutanالباب السادس في آفات العلم وبـيان علامات علماء الآخرة والعلماء السوء
Sikap Rendah Hati Para Ulama:
Abu Hafs al-Naysaburi berkata, "Seorang alim adalah yang merasa takut ketika ditanya di Hari Kiamat: 'Dari mana kamu memperoleh jawaban ini?'." Ibrahim al-Taimi ketika ditanya tentang suatu masalah, dia akan menangis dan berkata, "Mengapa kalian tidak menemukan orang lain selainku sehingga kalian harus datang kepada saya?"
Abu al-A'la al-Riyahi, Ibrahim ibn Adham, dan al-Thawri berbicara kepada segelintir orang, kemudian pergi ketika orang yang mendengar semakin banyak.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri pernah berkata, "Aku tidak tahu apakah Ayyub adalah seorang nabi atau bukan. Aku tidak tahu apakah pengikut-pengikut yang dikutuk atau tidak. Aku tidak tahu apakah Dhul-Qarnayn adalah seorang nabi atau bukan." Ketika ditanya tentang tempat terbaik dan terburuk di muka bumi, Nabi ﷺ berkata, "Aku tidak tahu." Hingga akhirnya Jibril turun dan memberikan pengetahuan pada beliau bahwa masjid adalah tempat terbaik dan pasar adalah tempat terburuk.
Iben Umar ditanya tentang sepuluh masalah, namun dia hanya menjawab satu dan diam tentang sembilan lainnya. Sementara Iben Abbas menjawab sembilan pertanyaan dan diam pada satu.
Di kalangan fuqaha (ahli fikih), ada yang lebih sering mengatakan "Aku tidak tahu" daripada "Aku tahu". Sufyan al-Thawri, Malik ibn Anas, Ahmad ibn Hanbal, al-Fudhail ibn 'Iyadh, dan Bashr ibn al-Harith termasuk di antara mereka yang sering mengatakan "Aku tidak tahu".
Abdurrahman ibn Abi Layla berkata, "Saya mengenal 120 sahabat Nabi ﷺ yang berada di masjid ini. Tidak ada di antara mereka yang ingin menjawab pertanyaan atau memberikan fatwa, kecuali mereka menginginkan saudaranya yang lebih mampu untuk melakukannya."
Di antara mereka, pertanyaan akan diajukan kepada salah satu dari mereka, kemudian dia akan mengembalikannya kepada yang lain, dan begitu seterusnya hingga kembali ke yang pertama.
Suatu kisah menyebutkan bahwa sebuah kepala daging yang dimasak diberikan kepada salah satu di antara mereka yang sedang sangat dalam kesusahan. Namun dia mengembalikannya kepada yang lain, begitu seterusnya hingga kembali lagi ke yang pertama.
Pentingnya Kewaspadaan Dalam Memberi Fatwa:
Praktik yang lebih baik adalah merujuk pertanyaan kepada yang lebih kompeten atau berwenang. Hal ini tergambar dari sikap para ulama yang menjawab hanya jika mereka memiliki pemahaman yang cukup. Kewaspadaan dalam memberi fatwa adalah tanda kebijaksanaan dan tanggung jawab terhadap umat.
Sikap Zurriyah Para Ulama:
Seorang ulama bermimpi melihat salah seorang pendukung opini di Kufah dan berkata, "Apa yang kamu lihat dalam apa yang kaujelaskan dan pendapatmu?" Wajahnya menjadi merah dan dia berpaling serta berkata, "Kami tidak menemukan apa-apa dan kami tidak memuji akhirnya."
Ibnu Hisyam berkata, "Salah satu dari mereka akan memberikan fatwa tentang suatu masalah, jika hal itu diberikan kepada Umar ibn al-Khattab, dia akan mengumpulkan orang-orang Badar untuk menjawabnya."
Para ulama selalu menjaga untuk tidak berbicara kecuali dalam situasi yang memerlukan.
Dalam hadis, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Jika kamu melihat seseorang yang dianugerahi kemampuan diam dan keinginan untuk meninggalkan dunia, maka dekatilah dia, karena dia diajari hikmah."
Disebutkan bahwa seorang ulama mungkin adalah ulama umum, yang terlibat dalam pemberian fatwa dan hubungan dengan penguasa, atau ulama khusus, yang menguasai ilmu tauhid dan amalan hati, biasanya berada di zawiya (tempat belajar agama) yang terpencil dan menyendiri.
Suatu perumpamaan menggambarkan perbedaan di antara ulama: Imam Ahmad ibn Hanbal disamakan dengan sungai Dajlah, semua orang mengambil dari sumbernya. Sedangkan Bashr ibn al-Harith disamakan dengan sumur tawar yang tertutup, hanya satu orang yang datang setelah satu orang.
Mereka pernah berkata, "Fulanan adalah seorang alim, fulanan adalah seorang berbicara, fulanan paling banyak bicara, dan fulanan paling banyak beramal." Abu Sulaiman berkata, "Pengetahuan lebih dekat dengan diam daripada dengan bicara." Juga dikatakan, "Ketika ilmu bertambah banyak, bicara berkurang, dan ketika bicara bertambah banyak, ilmu berkurang."
Salman menulis surat kepada Abu al-Darda, "Wahai saudaraku, aku mendengar bahwa kamu telah menjadi dokter yang merawat pasien. Jika kamu seorang dokter, maka bicaralah karena kata-katamu adalah obat. Namun jika kamu hanya seorang pengobat, maka berhati-hatilah, jangan membunuh seorang muslim." Setelah itu, Abu al-Darda sering berhenti untuk memberikan jawaban jika dia ditanya.
Anas ibn Malik apabila ditanya, dia akan menjawab, "Tanyakan kepada tuan kami al-Hasan (al-Basri)." Sedangkan ibn Abbas akan mengatakan, "Tanyakan kepada Harithah ibn Zayd." Ibn Umar akan mengatakan, "Tanyakan kepada Sa'id ibn al-Musayyib."
Ada kisah bahwa seorang sahabat Nabi pernah meriwayatkan dua puluh hadis di depan Hasan al-Basri, lalu saat ditanya tentang tafsirnya, ia berkata, "Aku tidak memiliki apa pun selain apa yang aku dengar." Hasan al-Basri kemudian secara perlahan mulai menjelaskan satu hadis demi satu hadis, mengagumkan mereka dengan pemahamannya. Kemudian sahabat Nabi tersebut mengambil sebutir kerikil dan melemparkannya pada mereka seraya berkata, "Kamu semua bertanya padaku tentang ilmu dan ini adalah tinta yang ada di antara wajah-wajah kalian."
Ciri ciri:
Pentingnya Fokus pada Pengetahuan Batin:
Salah satu aspek yang penting adalah mengarahkan perhatian pada ilmu batin, memantau hati, mengetahui jalan menuju akhirat, mengamalkannya, dan memiliki harapan yang tulus dalam mencapai tujuan tersebut. Semua ini bisa dicapai melalui upaya spiritual dan pemantauan diri.
Upaya spiritual (mujahadah) merupakan kunci untuk meraih pemahaman yang lebih dalam dan mendalam tentang ilmu hati. Dari sinilah sumber hikmah batin tumbuh dan cahaya hikmah terpancar dari hati.
Pemahaman dalam ilmu hati ini tidak cukup hanya dengan membaca buku-buku atau mengikuti pengajaran formal. Hikmah yang sebenarnya dan pengetahuan yang mendalam hanya akan terbuka melalui upaya spiritual, pemantauan diri yang cermat, pelaksanaan perbuatan baik, dan introspeksi baik dalam hal-hal yang tampak maupun tersembunyi.
Pentingnya pengendalian diri dan menjalani perbuatan baik mencerminkan pentingnya menghabiskan waktu dalam koneksi batin dengan Tuhan. Ini terjadi saat kita menyendiri dengan Tuhan, membawa hati kita bersih dari pikiran lain, dan mengalirkan hati ke dalam meditasi batin, berinteraksi dengan-Nya dengan pikiran yang murni.
Cara ini adalah kunci untuk inspirasi ilahi dan pemahaman mendalam. Terkadang, seorang yang belajar dengan giat namun tidak dapat melampaui apa yang ia dengar, sementara orang lain yang fokus pada hal-hal yang penting dalam belajar dan mengamalkannya, mendapatkan pemahaman mendalam yang mengagumkan.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa mengamalkan ilmu yang dimilikinya, Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui." Karena itu, penting bagi seseorang untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya dengan sungguh-sungguh, dan Allah akan membuka pintu pengetahuan yang lebih dalam dan inspirasi ilahi.
Ada juga nasihat dalam beberapa kitab lama, bahwa ilmu bukanlah sesuatu yang turun dari langit atau muncul dari tempat-tempat terpencil. Ilmu terletak di dalam hati kita, di mana kita harus memuliakan diri kita dengan adab-adab spiritual dan memperoleh akhlak yang baik.
Seperti yang diungkapkan oleh Sahl ibn Abdullah al-Tustari, ulama dan orang-orang yang mendekati Allah mengabaikan dunia dan hati mereka terkunci bagi dunia. Hanya hati-hati yang suci dan martir-martir yang mendapatkan pengungkapan pengetahuan dari Tuhan. Pengetahuan ghaib hanya Allah yang mengetahuinya.
Ketika hati yang penuh cahaya mendapatkan pemahaman, hati ini akan menjadi penguasa atas pengetahuan yang terlihat. Karena itu, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tanyakanlah hatimu, jika hatimu memberimu nasihat yang benar, mintalah nasihat lagi, dan jika hatimu masih memberimu nasihat yang sama, tanyakan kepada orang lain."
Allah juga menyatakan dalam ayat-Nya, "Dan Dia memegang kunci yang ghaib; tidak ada yang mengetahui selain Dia." (QS. al-An'am, 6:59). Ini mengindikasikan bahwa pengetahuan yang mendalam, terutama pengetahuan batin, adalah milik Allah semata.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ menyatakan bahwa Allah berfirman, "Hamba terus mendekat kepada-Ku dengan melakukan amal-amal tambahan hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku menjadi pendengar yang mendengar melalui dia." Ini menggambarkan hubungan khusus dengan Allah melalui amal dan upaya spiritual, mengarahkan pada pemahaman lebih dalam tentang rahasia Al-Qur'an dan pengetahuan mendalam yang tidak terungkap dalam tafsiran konvensional. Pemahaman ini mungkin muncul pada mereka yang berusaha keras, memiliki hati yang jernih, dan mengarahkan semangat tinggi mereka kepada Allah.
Kedalaman Ilmu dan Spiritualitas:
Ilmu-ilmu seperti ilmu mukasyafah (penampakan) dan rahasia-rasah ilmu tarbiyah (pendidikan), serta detik-detik hati, semuanya adalah lautan yang tak terbatas dalam kedalaman pengetahuannya. Setiap pencari ilmu akan menyelami lautan ini sejauh pemberian ilmu yang diberikan padanya dan sesuai dengan kebaikan perbuatannya.
Deskripsi dari para ulama dalam hadis yang panjang oleh Ali radhiyallahu 'anhu menggambarkan perbedaan antara tiga tipe manusia: pertama, para ulama yang mendekati Allah; kedua, orang-orang yang belajar dengan tujuan keselamatan; dan ketiga, orang-orang yang terpinggirkan yang hanya mengikuti setiap pendapat yang ada tanpa menggali cahaya pengetahuan. Ulama adalah pemimpin, dan ilmu adalah pelindung. Ilmu membersihkan seseorang melalui pengeluaran, sedangkan harta akan habis bila dieluarkan. Ilmu adalah agama yang seseorang berdagang dengannya untuk mendapatkan ketaatan selama hidupnya dan memancarkan keindahan perkataan setelah kematiannya.
Kunci dalam perbandingan antara ilmu dan harta, adalah bahwa ilmu adalah penguasa dan harta adalah yang diperintah. Manfaat harta akan hilang bersama dengan hilangnya harta itu sendiri, sementara ilmu akan tetap abadi selama ada manusia. Sehingga, para ulama masih hidup meskipun harta mereka telah tiada.
Di akhir riwayat tersebut, Ali radhiyallahu 'anhu menyatakan bahwa ada seorang ulama yang memiliki pengetahuan yang sangat luas namun tidak memiliki perlindungan yang kokoh untuk agamanya. Dia menggunakan agama sebagai alat untuk mencari dunia dan menunjukkan hubungannya dengan para wali Allah, serta memamerkan kebenaran di hadapan manusia. Namun, keraguan muncul dalam hatinya saat dia dihadapkan pada keraguan pertama, dan dia kehilangan pandangan tajam dalam memahami hujjah (argumen) yang baik. Ada juga orang yang tergoda oleh kenikmatan duniawi dan terbawa oleh nafsu hawa, atau tergoda oleh akumulasi harta dan mengejar keinginan duniawi.
Dalam pandangan Ali radhiyallahu 'anhu, demikianlah ilmu akan mati ketika orang yang membawanya tiada, dan bumi tidak akan pernah kekurangan orang yang berdiri teguh membela kebenaran Allah. Orang-orang ini mungkin terlihat secara terang-terangan atau tersembunyi, tetapi mereka hadir untuk memastikan argumen Allah dan bukti-bukti-Nya tetap ada, sehingga tidak ada keraguan yang bisa merusaknya.
Selanjutnya, ulama ini akan menanamkan argumen-argumen ini dalam hati mereka yang sejenis, membawakan cahaya kebenaran dan keyakinan mutlak. Dengan pengetahuan dan kebenaran ini, mereka mengatasi kesombongan para pembesar dan melupakan hal-hal yang tidak penting. Mereka menjalani dunia ini seperti tubuh yang ada tetapi roh mereka melekat pada tempat yang lebih tinggi. Orang-orang ini adalah wali-wali Allah yang diberdayakan untuk memimpin makhluk-Nya, menjadi amanat dan pekerja di bumi-Nya, serta pembawa dakwah kepada agama-Nya.
Ali radhiyallahu 'anhu mengakhiri dengan ungkapan kerinduannya untuk berjumpa dengan orang-orang ini dan berharap untuk melihat mereka. Ini adalah gambaran tentang para ulama yang memiliki ilmu tentang akhirat dan yang lebih banyak mendapatkan pemahaman dan pengalaman dari amal dan perjuangan mereka.
Ciri ciri:
Keteguhan Keyakinan sebagai Landasan Agama:
Salah satu aspek penting adalah memiliki keyakinan yang kuat dalam memperkuat iman. Keyakinan adalah modal utama dalam agama. Rasulullah ﷺ bersabda, "Keseluruhan iman adalah keyakinan." Oleh karena itu, penting untuk belajar ilmu keyakinan, yaitu memahami dasar-dasarnya. Setelah itu, hati akan terbuka menuju jalan keyakinan. Rasulullah ﷺ juga bersabda, "Pelajarilah keyakinan," yang artinya, duduklah bersama orang-orang yang penuh keyakinan dan dengarkanlah ilmu keyakinan dari mereka. Kemudian, teladani dan contohi mereka agar keyakinan kalian semakin kuat seperti mereka, karena keyakinan yang sedikit lebih baik daripada banyaknya amal.
Rasulullah ﷺ juga memberi contoh mengenai pentingnya keyakinan. Ketika seseorang bertanya kepadanya tentang seorang pria yang memiliki keyakinan yang kuat tetapi banyak melakukan dosa, dan seorang pria yang tekun dalam ibadah tetapi memiliki keyakinan yang lemah, beliau menjawab bahwa setiap manusia memiliki dosa, tetapi orang yang memiliki akal dan keyakinan yang kuat, dosa-dosanya tidak akan membahayakan dia. Ketika dia berbuat dosa, dia akan bertaubat, memohon ampun, dan menyesal sehingga dosa-dosanya diampuni. Karena itulah, Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada yang paling sedikit dari yang telah diberikan kepada Anda: keyakinan dan tekad untuk bersabar. Dan siapa yang mendapatkan bagian dari keduanya, dia tidak peduli apa yang telah dia lewatkan dari berdiri di malam hari dan berpuasa di siang hari."
Dalam wasiat Lukman kepada putranya, dia berkata, "Wahai anakku, tidak mungkin seseorang mampu berbuat kecuali dengan keyakinan. Seseorang tidak akan berusaha kecuali sejauh keyakinannya. Tidak ada batas bagi seseorang yang berusaha hingga keyakinannya melemah."
Yahya bin Mu'adz berkata, "Tawhid memiliki cahaya dan syirik memiliki api. Cahaya tawhid membakar dosa-dosa orang-orang mukmin seperti api syirik membakar amal-amal orang-orang musyrik."
Keyakinan ini adalah yang dimaksud. Allah juga menunjukkan dalam Al-Quran mengenai ulama dalam konteks positif, menunjukkan bahwa keyakinan adalah ikatan yang menghubungkan kepada kebaikan dan kebahagiaan.
Referensi:
HR. Muslim dalam kitab "Al-Iman" (hadis nomor 39)
HR. Al-Bukhari dalam kitab "Fadailu Al-Sahabah" (hadis nomor 3685)
HR. Al-Bukhari dalam kitab "At-Tauhid" (hadis nomor 6499)
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, "Al-Fawaid"
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, "Jami' Al-Ulum wal-Hikam"
Imam Ibnu Al-Qayyim, "Miftah Dar As-Sa'adah"
Makna dan Tingkat Keyakinan:
Jika kamu bertanya, "Apa arti keyakinan dan apa arti kekuatan serta kelemahannya?," maka kamu perlu memahaminya terlebih dahulu sebelum mencari dan mempelajarinya. Karena apa yang tidak kamu pahami bentuknya, maka tidak mungkin kamu dapat mencarinya.
Maka ketahuilah bahwa kata "keyakinan" adalah istilah yang digunakan oleh dua kelompok dengan dua makna yang berbeda.
Bagi para pandai dan pembicara, mereka menggunakan istilah "keyakinan" untuk menyatakan ketiadaan keraguan. Ini terjadi ketika pikiran cenderung untuk mempercayai sesuatu. Hal ini memiliki empat tingkat:
Pertama, ketika kepercayaan dan keraguan seimbang dan dinyatakan dengan istilah "ragu." Ini terjadi ketika kamu ditanya tentang seseorang yang belum kamu ketahui apakah Allah akan menghukumnya atau tidak. Pikiranmu tidak cenderung untuk mengambil keputusan positif atau negatif, melainkan seimbang antara keduanya. Ini disebut "ragu."
Kedua, pikiran cenderung pada salah satu pilihan sambil menyadari bahwa pilihan lain juga mungkin. Namun, pilihan yang lebih mungkin mendominasi, seperti saat kamu ditanya tentang seseorang yang kamu tahu adalah orang baik dan taat, apakah dia akan dihukum jika dia mati dalam keadaan ini? Kamu mungkin merasa bahwa dia tidak akan dihukum, meskipun kamu menyadari kemungkinan tersembunyi dalam hatinya. Ini disebut "zann" (praduga).
Ketiga, pikiran cenderung kuat pada satu pilihan dan tidak menerima pemikiran sebaliknya. Meskipun kamu menyadari bahwa ada pilihan lain, kamu tetap meyakini pilihan pertama dengan kuat. Namun, ini tidak didasarkan pada pengetahuan yang mendalam, karena jika seseorang menghabiskan waktu untuk mempertimbangkan keraguan dan kemungkinan lainnya, pikirannya mungkin akan cenderung pada pilihan lain. Ini disebut "i'tiqad" (keyakinan yang mendekati).
Keempat, ini adalah pengetahuan yang sebenarnya yang diperoleh melalui bukti yang tidak dapat diragukan lagi. Dalam situasi ini, keraguan tidak muncul dan tidak mungkin, dan ini disebut "keyakinan." Misalnya, ketika seseorang bertanya kepada orang bijak, "Apakah dalam keberadaan ini ada sesuatu yang bersifat abadi?" Sang bijak tidak akan langsung mengakui hal itu karena yang bersifat abadi tidak dapat dipersepsikan seperti matahari dan bulan, oleh karena itu, ia tidak akan langsung percaya pada keberadaan hal itu. Pemahaman seperti ini disebut "keyakinan."
Referensi:
Imam Al-Ghazali, "Ihya' Ulumuddin"
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, "I'lam Al-Muwaqqi'in"
Imam Al-Qushayri, "Al-Risalah Al-Qushayriyyah"
Imam Ibnu Al-Qayyim, "Hidayatul Hayara Fi Ajwibat As-Salaam Ala Man Ajaba 'An Al-Qadariyyah Wa
Al-Jabariyyah"
Imam Fakhr Al-Din Al-Razi, "Al-Mahsul"
Imam Ath-Tha'labi, "Lata'if Al-Ma'arif"
Makna dan Tingkat Keyakinan (Lanjutan):
Ada beberapa orang yang percaya kepada suatu hal berdasarkan bukti, yaitu jika dia diberitahu bahwa jika tidak ada yang bersifat abadi dalam kenyataan, maka semua yang ada adalah hal yang terjadi begitu saja. Namun, jika semuanya adalah hal yang terjadi begitu saja, maka ada kejadian yang terjadi tanpa sebab atau ada yang tidak memiliki sebab, dan ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Jadi, hal yang mengarahkan pada sesuatu yang tidak mungkin adalah juga sesuatu yang tidak mungkin. Dengan demikian, otak kita harus meyakini adanya sesuatu yang bersifat abadi dengan keharusan, karena ada tiga kemungkinan: semua yang ada bersifat abadi, semuanya adalah yang terjadi begitu saja, atau sebagian bersifat abadi dan sebagian lainnya adalah yang terjadi begitu saja.
Jika semuanya bersifat abadi, maka tujuan telah tercapai karena semuanya adalah abadi.
Jika semuanya adalah yang terjadi begitu saja, maka ini mustahil karena akan mengarah pada terjadinya sesuatu tanpa sebab, yang juga mustahil.
Oleh karena itu, kita perlu mempercayai adanya sesuatu yang bersifat abadi. Kemudian, ada yang menyebut ini sebagai "keyakinan" (i'tiqad) dalam pandangan mereka.
Pengertian dalam pandangan ini adalah bahwa keyakinan adalah dominasi dan pengaruh yang kuat pada hati sehingga seseorang berkata, "Seseorang lemah keyakinannya dalam kematian," meskipun tidak ada keraguan tentang hal itu. Dan seseorang berkata, "Seseorang kuat keyakinannya dalam rezeki," meskipun mungkin saja rezeki tidak datang. Apapun arah pikiran itu, jika dominan dan menguasai hati, maka itu disebut "keyakinan."
Namun, semua orang sepakat bahwa tidak ada keraguan tentang kematian dan pemisahan dari dunia. Tetapi, ada orang yang tidak memperhatikannya dan tidak mempersiapkan diri untuk itu, seolah-olah dia tidak memiliki keyakinan terhadapnya. Ada juga yang mengambil alih hatinya sehingga seluruh perhatiannya tertuju pada persiapan menghadapi kematian. Mereka mengungkapkan hal ini dengan kata-kata "kuat keyakinan" (qawwiy al-yaqin). Pada pandangan ini, kuat dan lemah bisa mengacu pada bagaimana keyakinan mempengaruhi pikiran dan hati seseorang.
Pada pandangan pertama (terminologi pertama), keyakinan bisa lemah atau kuat tergantung pada keberadaan keraguan. Namun, pada pandangan kedua (terminologi kedua), kuat atau lemah tidak tergantung pada keraguan, melainkan pada sejauh mana keyakinan itu menguasai hati dan pikiran seseorang.
Dengan memahami ini, kita mengerti bahwa saat kita berkata "Ahli-ahli akhirat memfokuskan perhatian pada memperkuat keyakinan," ini berarti menyingkirkan keraguan dan menguatkan keyakinan dalam arti yang lebih luas. Ini membuat keyakinan menguasai pikiran dan hati kita, mengendalikan kita, dan mengambil alih kendali atas kita.
Referensi:
Imam Al-Ghazali, "Ihya' Ulumuddin"
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, "I'lam Al-Muwaqqi'in"
Imam Al-Qushayri, "Al-Risalah Al-Qushayriyyah"
Imam Fakhr Al-Din Al-Razi, "Al-Mahsul"
Imam Ath-Tha'labi, "Lata'if Al-Ma'arif"
Makna dan Aspek-aspek Keyakinan (Lanjutan):
Setelah Anda memahami arti keyakinan, kekuatan, kelemahan, banyak, sedikit, jelas, dan samarannya dalam arti meniadakan keraguan atau menguasai hati, maka Anda ingin tahu apa yang terkait dengan keyakinan dan bagaimana keyakinan dijalankan. Jika Anda tidak tahu apa yang dicari dalam keyakinan, Anda tidak akan bisa mencarinya.
Ketahuilah bahwa semua yang diajarkan oleh para Nabi, dari awal hingga akhir, adalah bagian dari aspek-aspek keyakinan. Keyakinan adalah pengetahuan khusus yang berhubungan dengan informasi yang ada dalam syariat. Tidak ada tujuan untuk menghitung atau menghimpun semuanya, tetapi hanya beberapa contoh inti dari informasi ini.
Salah satu aspeknya adalah tauhid (kepercayaan kepada satu Tuhan)... di mana seseorang melihat semua hal sebagai hasil penyebab utama, dan tidak memedulikan penyebab perantara. Dia melihat perantara-perantara ini hanya sebagai alat yang tidak memiliki otoritas. Seseorang yang meyakini ini adalah orang yang penuh keyakinan. Jika keraguan tentang hal ini dihilangkan dari hatinya bersama dengan iman, dia akan yakin dengan salah satu makna itu. Jika makna kedua lebih dominan dalam hatinya bersama dengan iman, dia akan memiliki sikap ridha dan syukur terhadap segala perantara, seperti pena dan tangan yang digunakan untuk menulis. Semua hal ini menunjukkan bahwa dia meyakini yang kedua, yaitu pengawasan Ilahi.
Aspek lainnya adalah kepercayaan kepada jaminan rezeki yang diberikan oleh Allah dalam firman-Nya "Tidak ada suatu makhluk di bumi melainkan Allah yang memberi rezekinya." Dia yakin bahwa rezeki itu akan datang kepada dirinya, dan apapun yang telah ditentukan akan diantar kepadanya. Terlepas dari seberapa besar pengaruh ini pada hatinya, dia akan tetap bersikap moderat dalam permintaan dan tidak terlalu tergila-gila dengan apa yang telah lewat. Keyakinan semacam ini juga menghasilkan sejumlah perbuatan baik dan akhlak yang terpuji.
Sebuah aspek lainnya adalah keyakinan bahwa setiap tindakan, baik yang kecil maupun besar, memiliki konsekuensi baik atau buruk. Dia meyakini pahala dan hukuman, sehingga dia memandang setiap tindakannya dengan bijak. Keyakinannya akan mengarahkannya untuk menghindari segala bentuk dosa dan berusaha untuk melakukan kebajikan, sebagaimana dia menghindari bahaya dan racun.
Aspek lainnya adalah meyakini bahwa Allah selalu mengawasi dan menyaksikan segala tindakan dan pikiran kita. Ini menjadi keyakinan bagi setiap mukmin dalam arti pertama yaitu tanpa keraguan. Namun, pada arti yang lebih dalam, keyakinan ini lebih istimewa bagi orang-orang yang mendekat kepada Allah. Dampak dari keyakinan ini adalah bahwa seseorang akan selalu mengawasi dirinya sendiri dalam semua situasi. Dia akan merasa seperti sedang diperhatikan oleh Raja Agung, yang akan membuatnya lebih sopan dalam segala hal.
Keyakinan dalam setiap aspek ini seperti akar pohon. Sikap positif dan perbuatan baik yang muncul dari keyakinan ini seperti ranting-ranting yang bercabang dari pohon itu. Tindakan-tindakan dan perbuatan yang baik ini seperti buah-buah yang tumbuh dari ranting-ranting tersebut.
Referensi:
Imam Al-Ghazali, "Ihya' Ulumuddin"
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah, "Al-Fawaid"
Imam Al-Qushayri, "Al-Risalah Al-Qushayriyyah"
Imam Fakhr Al-Din Al-Razi, "Al-Mahsul"
Imam Ath-Tha'labi, "Lata'if Al-Ma'arif"
Aspek-Aspek Keyakinan (Lanjutan):
Salah satu aspek keyakinan adalah ketika seseorang merasa sedih, patah semangat, merasa hancur, tetapi tetap diam dengan kesunyian. Tampaklah jejak rasa takut di wajahnya, cara berpakaiannya, tingkah lakunya, gerakannya, keheningannya, ucapan dan diamnya. Siapa pun yang memandangnya, akan melihat pandangan matanya selalu mengingat Allah, dan wajahnya menjadi tanda dari amalnya. Para ulama ahli akhirat dikenal dengan sikap tenang, rendah hati, dan tunduk. Dikatakan bahwa Allah tidak pernah menutupi hamba-Nya dengan pakaian yang lebih baik daripada rasa khusyu dalam ketenangan. Itu adalah pakaian para nabi, orang saleh, sahabat, dan para ulama.
Sebaliknya, berbicara dengan cepat, berbicara besar, terlalu tertawa, gerakan kasar, dan berbicara dengan keras semuanya adalah tanda-tanda kesombongan, rasa aman yang berlebihan, dan kelalaian terhadap adzab Allah dan murka-Nya yang dahsyat. Ini adalah karakteristik bagi orang-orang yang terpesona oleh dunia dan jauh dari ilmu, karena ada tiga jenis ulama, seperti yang dikatakan oleh Sahl al-Tustari: ulama yang tahu tentang perintah Allah, tetapi tidak tahu tentang hari-hari Allah, mereka diuji dalam halal dan haram, pengetahuan ini tidak menciptakan rasa takut; ulama yang tahu tentang Allah, tetapi tidak tahu tentang perintah Allah dan hari-hari Allah, ini adalah orang-orang beriman secara umum; ulama yang tahu tentang Allah, perintah-Nya, dan hari-hari-Nya, mereka adalah orang-orang yang benar-benar tunduk dan takut kepada-Nya.
Ada juga pepatah yang mengatakan bahwa siapa pun yang diberikan pengetahuan oleh Allah, juga akan diberi kesabaran, rendah hati, perilaku baik, dan rasa kasih sayang. Inilah ilmu yang bermanfaat.
Dalam hadis disebutkan bahwa seseorang yang diberi pengetahuan, zuhud, rendah hati, dan perilaku baik adalah pemimpin orang-orang bertakwa.
Dalam riwayat lain, "Sesungguhnya dari umatku ada kelompok yang tertawa terbahak-bahak karena rahmat Allah yang luas, dan mereka menangis dalam rahasia karena ketakutan akan adzab-Nya. Tubuh mereka ada di dunia, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di dunia, tetapi akal pikiran mereka di akhirat. Mereka berjalan dengan tenang dan mendekat dengan pengantaraan."
Ada juga perkataan dari Hasan Al-Basri: "Kelembutan adalah penasihat ilmu, dan kerendahan hati adalah ayah ilmu." Begitu pula perkataan dari Bashir bin Al-Harith: "Siapa pun yang mencari kepemimpinan melalui ilmu dan bermusuhan dengan orang karena ilmunya, maka dia akan dimurkai di langit dan di bumi."
Dalam satu riwayat israeliyat, seorang bijak telah menulis 360 karya tentang kebijaksanaan. Dia diberi gelar bijak. Allah kemudian mengilhami nabi mereka untuk memberitahukan kepadanya, "Beritahukanlah kepadanya bahwa dia telah memenuhi bumi dengan kemunafikan, dan tidak ada yang akan diterima darimu dalam hal itu. Aku tidak akan menerima kemunafikanmu." Lalu, orang tersebut merasa menyesal dan meninggalkan perbuatannya. Dia bergaul dengan orang-orang biasa di pasar dan mengajak anak-anak Israel makan bersamanya. Dia merasa rendah hati dalam hatinya. Allah kemudian mengilhami nabi mereka lagi untuk memberitahukan kepadanya, "Katakanlah padanya, 'Sekarang kamu berhasil mencapai keridhaan-Ku.'"
Aspek-Aspek Keyakinan (Lanjutan):
Al-Awza'i meriwayatkan dari Bilal bin Sa'd bahwa ia berkata, "Salah satu dari kalian melihat penjaga (tukang jagal), maka ia memohon perlindungan kepada Allah dari penjaga itu. Dia melihat ulama dunia yang bersikap palsu, ingin menjadi pemimpin, namun dia tidak membencinya, padahal mereka lebih layak untuk dibenci daripada penjaga itu."
Suatu kali ditanyakan kepada Nabi ﷺ, "Apa amalan terbaik?" Beliau menjawab, "Menjauhi larangan-larangan Allah dan terus-menerus berdzikir kepada Allah." Lalu ditanyakan, "Siapakah sahabat yang paling baik?" Beliau menjawab, "Sahabat yang jika kamu menyebutkan Allah di depannya, dia membantumu, dan jika kamu lupa, dia mengingatkanmu." Ditanyakan lagi, "Siapakah sahabat yang paling buruk?" Beliau menjawab, "Sahabat yang jika kamu lupa, dia tidak mengingatkanmu, dan jika kamu menyebutkan sesuatu, dia tidak memberikan bantuan." Ditanya lagi, "Siapakah orang yang paling berilmu?" Beliau menjawab, "Orang yang paling takut kepada Allah." Ditanya lagi, "Siapakah orang yang paling buruk?" Beliau menjawab, "Ya Allah, ampunilah." Ditanya lagi, "Beritahukanlah siapa yang sebaiknya kita bergaul dengannya?" Beliau menjawab, "Mereka yang ketika kamu melihat mereka, kamu teringat kepada Allah." Ditanya lagi, "Siapakah orang yang paling buruk?" Beliau menjawab, "Orang yang tidak berpikir untuk belajar dari pengalaman dan kesalahan." (Hadis ini muncul dalam kitab Ibnu Hibban)
Nabi ﷺ bersabda, "Sebagian besar manusia yang merasa aman pada Hari Kiamat adalah yang paling banyak berpikir tentang dunia, dan sebagian besar manusia yang paling banyak tertawa di Akhirat adalah yang paling banyak menangis di dunia. Dan sebagian besar manusia yang paling gembira di Akhirat adalah yang paling lama bersedih di dunia."
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata dalam salah satu khutbahnya, "Nilai diriku sebagai jaminan dan aku menjadi pemimpin. Sesungguhnya tak ada yang memicu ketakutan akan ketakwaan seperti sekelompok orang, dan tak ada yang membuat haus akan petunjuk seperti tanaman yang tumbuh di pohon kurma. Orang-orang paling bodoh adalah orang yang tidak mengenali nilai dirinya. Orang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang mengenakan ilmu seolah-olah itu pakaian, mereka iri terhadap kebutuhan fitnah dan itu memimpin mereka menuju kesesatan."
Ali radhiyallahu 'anhu juga berkata, "Jika kamu mendengar ilmu, lindungilah itu dan janganlah merendahkannya dengan omong kosong yang menyebabkan hati menjadi tercemar." Dan ada pepatah dari beberapa Salaf, "Seorang alim jika tertawa, tertawanya akan mencabuti bagian dari ilmu yang dimilikinya."
Dikatakan bahwa ketika seorang guru menggabungkan tiga hal dalam dirinya, ini adalah sebuah nikmat untuk murid-muridnya: kesabaran, kerendahan hati, dan akhlak yang baik.
Dan ketika seorang murid menggabungkan tiga hal dalam dirinya, ini adalah sebuah nikmat untuk guru-gurunya: pikiran yang baik, adab yang baik, dan pemahaman yang baik.
Keseluruhan aspek moral yang dijelaskan dalam Al-Qur'an tidak akan pernah lepas dari para ulama ahli akhirat, karena mereka mempelajari Al-Qur'an untuk mengamalkannya, bukan untuk menjadi pemimpin.
Aspek-Aspek Keyakinan (Lanjutan):
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata, "Kami hidup dalam waktu tertentu dimana salah satu dari kami menerima iman sebelum Al-Qur'an turun. Kemudian turunlah suatu surah, dia belajar mengenai yang halal dan haram, perintah dan larangan di dalamnya, apa yang seharusnya dia pahami darinya. Namun, saya telah melihat orang-orang yang satu di antara mereka menerima Al-Qur'an sebelum iman, ia membaca dari awal hingga akhir tanpa mengetahui perintah dan larangan di dalamnya. Dia menyebarkannya seperti benih-benih hujan."
Dalam riwayat lain yang memiliki makna serupa: "Kami adalah sahabat-sahabat Nabi ﷺ, kami dianugerahi iman sebelum Al-Qur'an. Akan datang sesudah kalian suatu generasi yang menerima Al-Qur'an sebelum iman. Mereka akan membaca huruf-hurufnya dengan benar tetapi akan mengabaikan batasan-batasannya dan hak-haknya. Mereka akan berkata, 'Kami telah membaca, siapa di antara kami yang membaca dan mengetahui, dan siapa di antara kami yang mengetahui?' Maka itulah bagian mereka." (Hadis ini muncul dalam kitab al-Adab al-Mufrad)
Ada pendapat bahwa lima sifat dari akhlak adalah tanda-tanda ulama ahli akhirat, diambil dari lima ayat dalam Al-Qur'an: takut kepada Allah, khusyu', kerendahan hati, akhlak yang baik, dan memberikan prioritas kepada akhirat daripada dunia, yang merupakan sikap zuhud.
Ketakutan kepada Allah didasarkan pada firman-Nya: "Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmu di antara hamba-hamba-Nya yang paling takut kepada Allah." (Q.S. Fāṭir: 28)
Khusyu' berdasarkan firman-Nya: "Yang merendahkan diri kepada Allah, mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah." (Q.S. Al-Ghāshiyah: 21-22)
Kerendahan hati didasarkan pada firman-Nya: "Dan rendahkanlah sayapmu untuk orang-orang mukminin." (Q.S. Al-Ḥijr: 88)
Akhlak yang baik didasarkan pada firman-Nya: "Karena rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka." (Q.S. Āl ʿImrān: 159)
Prioritas pada akhirat daripada dunia, yang merupakan sikap zuhud, didasarkan pada firman-Nya: "Dan orang-orang yang diberikan ilmu mengatakan, 'Kebaikan pahala Allah adalah lebih baik bagi orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih.'" (Q.S. Al-Qaṣaṣ: 80)
Setelah Rasulullah ﷺ membaca ayat, "Barangsiapa yang dikehendaki Allah untuk memberi petunjuk, Dia akan melapangkan dadanya untuk Islam," maka ditanya apa arti lapangan dadanya? Beliau menjawab, "Sesungguhnya cahaya, jika dilemparkan ke dalam hati, akan melebarkan dadanya dan merelaksasikannya." Ditanya lagi, "Apakah ada tanda lainnya?" Beliau menjawab, "Berusaha menjauhkan diri dari tempat-tempat penyesatan, beralih menuju kediaman yang kekal (Akhirat), dan mempersiapkan diri untuk kematian sebelum kedatangannya."
ومنها أن يكون أكثر بحثه عن علم الأعمال وعما يفسدها ويشوش القلوب ويهيج الوسواس ويثير الشر فإن أصل الدين التوقي من الشر
Ciri-ciri
Aspek-Aspek Keyakinan (Lanjutan):
Salah satu aspek yang menunjukkan keutamaan ulama ahli akhirat adalah bahwa sebagian besar usaha mereka difokuskan pada pengetahuan tentang amalan-amalan dan hal-hal yang dapat merusaknya. Mereka memahami betapa pentingnya menjauhkan diri dari potensi kerusakan dan gangguan dalam hati, memadamkan pikiran obsesif, dan menghindari hal-hal yang dapat memicu kejahatan. Karena dasar agama adalah menghindari segala bentuk kejahatan. Oleh karena itu, dikatakan:
"Aku mengenal kejahatan, bukan karena ingin berbuat jahat, tetapi agar dapat menghindarinya.
Dan siapa yang tidak mengenal kejahatan, akan jatuh padanya."
Ciri-ciri
Pentingnya memahami amalan-amalan yang sejalan dengan keyakinan tercermin dalam ketekunan dalam mengingat Allah dengan hati dan lisan. Namun, pengetahuan yang lebih penting adalah yang mampu menjaga hati dari kerusakan dan kekacauan serta menenangkan jiwa. Mengetahui hal ini lebih bernilai daripada mengetahui segala bentuk perincian yang rumit dan jarang terjadi.
Ulasan ini juga mengkritik para ahli ilmu dunia yang terlalu fokus pada perincian-perincian kompleks dalam sistem pemerintahan dan hukum, yang mungkin hanya berguna dalam kondisi tertentu dan tidak relevan dalam kebanyakan situasi. Mereka cenderung mengabaikan apa yang seharusnya menjadi fokus utama mereka, yaitu pengamalan ibadah dan akhlak yang baik.
Tidak bijaknya mencari pengakuan dan penerimaan dari manusia dalam urusan dunia, sementara mengabaikan pengabdian kepada Allah, adalah perilaku yang tercela. Mereka yang mencari popularitas dan pujian dunia dengan mengorbankan hubungan dengan Allah akan menemukan bahwa tindakan mereka tidak memberikan manfaat sejati. Namun, mereka yang fokus pada pengabdian kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya akan mengalami kebahagiaan sejati.
Kehidupan Hasan Al-Bashri, seorang ulama terkenal dari generasi pertama umat Islam, adalah contoh yang baik. Beliau memiliki cara berbicara yang mirip dengan nabi-nabi dan memiliki pemahaman agama yang mendalam, lebih dekat dengan generasi sahabat. Banyak orang sepakat bahwa pemahaman beliau mengenai masalah-masalah hati, kerusakan perbuatan, dan pertentangan dalam jiwa adalah sangat mendalam.
Hasan Al-Bashri mendapatkan banyak pengetahuannya dari sahabat Hudaifah bin al-Yaman, yang seringkali berbicara tentang masalah-masalah yang sulit dan berpotensi merugikan, sebagai bagian dari kerendahan hatinya terhadap diri sendiri. Hal ini juga mendorong sahabat seperti Umar dan Utsman untuk bertanya kepadanya mengenai berbagai masalah, terutama tentang fitnah dan hipokrisi.
Pengetahuan Hasan Al-Bashri juga termasuk pemahaman mendalam mengenai hipokrisi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan kompleksitas fitnah. Saat diminta, ia tidak memberi tahu nama-nama orang munafik, tetapi memberikan informasi tentang jumlah mereka yang masih hidup. Ia juga tidak mengungkapkan nama mereka.
Kemampuan Hasan Al-Bashri dalam mendeteksi potensi hipokrisi membuat sahabat-sahabat senior seperti Umar dan Utsman sering bertanya padanya tentang situasi umum dan pribadi. Bahkan, Umar pernah bertanya apakah dia memiliki ciri-ciri munafik dalam dirinya, dan Hasan Al-Bashri menjawab bahwa Umar bersih dari itu. Kehadiran
Hasan Al-Bashri dalam upacara pemakaman juga menjadi penanda kualitasnya dalam mengidentifikasi hal-hal yang tersembunyi.
Berlanjut ke halaman 3
Komentar
Posting Komentar