Ilmu mukasyafah dan mu'amalat

Ke-Outline 




 Ilmu mukasyafah dan mu'amalat

 Pengantar:


Didalam perjalanan manusia mencari kebenaran dan mendalami esensi dari eksistensi, membuka lebar dua pintu ilmu yang memiliki peran sentral dalam upaya ini: ilmu mukasyafah (ilmu yang membuka rahasia batin) dan ilmu muamalah (ilmu yang berkaitan dengan interaksi sosial dan etika). Dalam mengulik tafsir batin dan memahami bermacam-macam interaksi manusia dengan sesamanya, terungkaplah dua bidang pengetahuan yang memiliki peran penting dalam mengarahkan manusia pada pemahaman yang lebih mendalam mengenai jalan menuju akhirat.


Dalam pandangan seorang pencari kebenaran, pertanyaan yang diajukan untuk memahami secara rinci tentang jalan menuju akhirat terbuka lebar: "Tolong beri penjelasan dengan ilmu rinci yang mengarahkan kita pada akhirat, meskipun kita mungkin tidak mampu menggali seluruh detailnya." Ini adalah pertanyaan yang selaras pada keterkaitan erat antara dua bidang ilmu yang tak terpisahkan: ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah.


Seiring berlanjutnya pembahasan, kita akan berusaha memahami bahwa ilmu mukasyafah adalah ilmu yang mempelajari pemahaman tentang dunia batin manusia, membuka tabir rahasia hati, dan menuntun pada pengenalan yang lebih mendalam tentang Tuhan. Di sisi lain, ilmu muamalah mendalami aspek interaksi sosial dan etika, dapat membimbing kita dalam memahami bagaimana berperilaku dengan sesama manusia, dan menuntun kita untuk menjalani kehidupan yang penuh nilai-nilai moral.


Dua bidang ilmu ini, ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah, tidak berdiri sendiri. Mereka saling melengkapi dan membangun pemahaman kita tentang akhirat. Sebagaimana telah ada penjelasan sebelumnya, bahwa ilmu mukasyafah adalah cahaya yang menyebar ke hati, memurnikan jiwa, dan mengutarakan hakikat-hakikat yang dulunya tersembunyi. Sementara itu, ilmu muamalah membimbing kita dalam mengejawantahkan ajaran-ajaran spiritual dalam interaksi sehari-hari, menjadikan nilai ketaqwaan sebagai dasar dalam menjalani kehidupan dunia.


Dalam artikel ini, kita akan berusaha membahas kedua ilmu tersebut, memahami seberapa pentingnya kedua aspek ini dalam perjalanan spiritual dan moral manusia. Dalam panduan yang diinspirasi oleh para ulama dan visi berbagai tradisi keagamaan, kita akan memahami bahwa ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah bukan sekedar pengetahuan intelektual, melainkan penerapan praktis dalam membentuk landasan perilaku kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup yang cerah, bermakna, dan mendekatkan diri pada hakikat keberadaan kita di dunia ini.


Ilmu mukasyafah


Ketahuilah bahwa jika kita ingin lebih mendalami ilmu mukashafah, kita akan menemukan bahwa ini adalah bagian puncak dari segala ilmu dan yang paling agung. Ilmu ini dianggap sebagai cahaya yang muncul dalam hati setelah dibersihkan dari sifat-sifat negatif dan duniawi. Ini adalah ilmu yang membuka pintu pemahaman yang mendalam tentang makna keberadaan dan komunikasi rohaniah dengan Tuhan. Melalui ilmu ini, pengajarannya muncul hal-hal yang sebelumnya hanya didengar namanya, tetapi tidak sepenuhnya dimengerti. Jika pemahaman ini tercapai, manusia akan menemukan hakikat keberadaan dan rahasia penciptaan, serta mencapai pengetahuan mendalam tentang Allah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna, serta bagaimana Dia mengatur alam semesta dan hukum-hukumnya.


Ilmu mukashafah bukanlah hanya ilmu semata, tetapi merupakan pengalaman nyata yang muncul dari penyucian hati dan membersihkannya dari kotoran-kotoran. Ini adalah pengalaman hati yang menggabungkan antara pengetahuan dan pengalaman rohaniah, dan melalui ilmu ini, pengajarannya, seorang guru menjadi mampu melihat dunia dalam dimensi-dimensi baru dan mencapai komunikasi yang mendalam dengan Tuhan.


Ilmu mu'amalah 


Beralih ke bagian kedua dari ilmu, yaitu "ilmu mu'amalah" atau ilmu interaksi sosial, kita menemukan bahwa ini merupakan sisi praktis dari kehidupan manusia. Berbeda dengan ilmu mukashafah yang berfokus pada rohaniah dan komunikasi internal dengan Tuhan, ilmu mu'amalah berkaitan langsung dengan interaksi manusia dengan lingkungannya dan sesama manusia. Ini mencakup aturan-aturan etika, keadilan, belas kasihan, kerja sama, dan nilai-nilai lainnya yang menjadi dasar bagi pembangunan masyarakat yang seimbang dan makmur.


Dalam kesimpulannya, ilmu mukashafah dan ilmu mu'amalah hadir sebagai dua bagian inti dalam perjalanan manusia menuju kebenaran dan interaksi yang benar dengan dunia di sekitarnya. Sementara ilmu mukashafah membimbing para pencari dalam menjelajahi kedalaman roh dan mencapai komunikasi yang dalam dengan Tuhan, ilmu mu'amalah mengajarkan manusia bagaimana hidup dengan etika dan berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Keseimbangan antara kedua sisi ini dapat membantu manusia mencapai makna hidup yang lebih bercahaya dan berarti.




Berbagi pendapat tentang ilmu mukasyafah 

Pendapat-pendapat tentang ilmu mukashafah dan pemahaman tentang Tuhan memiliki variasi yang beragam di kalangan para pemikir. Ada yang berpendapat bahwa sebagian dari pengalaman ini adalah perumpamaan, sementara sebagian lainnya menganggap bahwa beberapa di antaranya mencerminkan kebenaran yang dapat dipahami melalui kata-katanya. Beberapa individu menganggap bahwa puncak pengetahuan tentang Allah adalah mengakui keterbatasan pemahaman, sementara yang lain mengklaim pemahaman yang mendalam tentang-Nya. Ada yang mengatakan bahwa batas pengetahuan tentang Allah adalah keyakinan yang dipegang oleh kebanyakan orang awam: bahwa Dia adalah Pencipta yang berkuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Maha Berbicara. Dalam konteks ilmu mukashafah, tujuannya adalah agar tirai terangkat sehingga kebenaran dalam hal ini menjadi jelas, tanpa keraguan, seperti pengamatan yang tak terbantahkan. Ini bisa terjadi dalam esensi manusia, kecuali bahwa cermin hati telah terlumuti oleh karat dan keburukan dunia. Oleh karena itu, ilmu tentang jalan akhirat adalah pengetahuan tentang cara membersihkan cermin ini dari kontaminasi yang menjadi penghalang antara kita dan Allah, serta mencegah kita mengenali sifat dan tindakan-Nya. Proses membersihkan cermin ini dan penyucian hati dari ketidakmurnian mencakup menahan diri dari hawa nafsu dan meneladani perilaku para nabi dalam segala situasi. Semakin jelas bagian dari kebenaran yang terpancar dari hati, semakin nyata pula pengetahuan tentang Allah. Namun, tidak ada jalan menuju pemahaman ini kecuali melalui latihan yang lebih terperinci, serta dengan pengetahuan dan pendidikan. Ini adalah ilmu yang tidak dicatat dalam buku-buku atau dibicarakan oleh seseorang yang diberi anugerah oleh Allah kecuali kepada orang-orang yang mendalami dan mengamalkannya, yang saling berbagi dalam bentuk diskusi rahasia. Ini adalah ilmu tersembunyi yang diinginkan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau bersabda, "Sesungguhnya, bagian dari ilmu adalah seperti harta yang tersembunyi, hanya yang mengenal Allah Ta'ala yang mengetahuinya. Jika mereka berbicara tentangnya, hanya orang-orang yang menyatakan ketidakberdayaan mereka di hadapan Allah Ta'ala yang tidak mengetahuinya, maka jangan meremehkan seorang alim yang Allah Ta'ala telah memberinya bagian darinya, karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak meremehkan seseorang yang diberi bagian oleh-Nya." (Hadits riwayat al-Hakim)


Lanjutan Artikel:


Adapun bagian kedua, yaitu ilmu mu'amalah atau ilmu interaksi sosial, ini adalah ilmu tentang kondisi hati. Ada beberapa hal yang dipuji dalam kondisi hati, seperti kesabaran, rasa syukur, rasa takut dan harapan, kerelaan, ketidakpedulian terhadap dunia materi, ketakwaan, rasa puas, kedermawanan, dan pengakuan terhadap nikmat-nikmat Allah dalam segala keadaan. Ilmu ini juga mencakup pemahaman tentang kebaikan hati, batas-batasnya, penyebabnya, serta hasil dan tanda-tandanya. Selain itu, ilmu ini melibatkan penanganan atas kelemahan-kelemahan dalam hati agar semakin kuat dalam pemahaman agama, serta bagaimana mengatasi kelemahan tersebut hingga kembali ke ilmu tentang akhirat.

Namun, terdapat pula perilaku-perilaku yang tidak diinginkan dalam hati, seperti ketakutan akan kemiskinan, ketidakpuasan terhadap takdir, iri hati, dengki, keserakahan, keinginan untuk mencari popularitas dan sanjungan, serta hasrat untuk menikmati dunia tanpa batas waktu. Selain itu, ada perilaku-perilaku seperti kesombongan, riya', kemarahan, rasa superioritas, permusuhan, dan ketidakpuasan. Semua ini adalah sifat-sifat yang merusak hati dan menciptakan tindakan-tindakan yang dilarang.


Sementara itu, sifat-sifat baik hati seperti kasih sayang, kejujuran, kesetiaan, kebaikan budi pekerti, serta kemurahan hati adalah sumber amal-amal yang dianugerahkan.


Ilmu tentang batasan-batasan dan hakikat-hakikat dari kondisi hati ini, serta penyebab dan dampaknya, bersama dengan penanganannya, merupakan bagian dari ilmu tentang akhirat. Ini adalah kewajiban yang muncul dari fatwa para ulama akhirat. Menolak untuk memahami dan mengamalkan ilmu ini dapat berujung pada kebinasaan di hadapan kekuasaan Raja Semesta di akhirat. Seperti halnya menolak untuk memahami dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang tampak di dunia dapat mengakibatkan hukuman dari penguasa-penguasa duniawi, sesuai dengan fatwa para ulama dunia. Para ulama mempertimbangkan kewajiban-kewajiban dunia bersama dengan kemaslahatan dunia, dan ini berlaku juga dalam konteks akhirat.

Jika seseorang bertanya kepada seorang faqih tentang makna dari berbagai konsep ini, bahkan tentang keikhlasan, tawakal, atau alasan untuk menghindari riya', mereka mungkin akan berhenti pada topik tersebut. Padahal, ini adalah bagian dari kewajiban utama yang jika diabaikan dapat menyebabkan kebinasaan di akhirat. Jika Anda bertanya kepada mereka tentang tata cara la'an (kutukan), dzahar (kemarahan terbuka), sabq (mengalahkan), atau rami (menghujat), maka mereka akan menyajikan begitu banyak cabang dan subtipe yang detailnya memakan waktu bertahun-tahun, dan sebenarnya tidak perlu semuanya dipelajari. Jika diperlukan, beberapa orang di kota akan melibatkannya, dan cukup baginya dengan usaha keras dalam memahami dan menguasai hal tersebut.


Namun, seringkali seseorang masih terus sibuk belajar tentang hal-hal ini sepanjang hari dan malam. Bahkan ketika mempelajarinya, mereka melupakan aspek penting dalam agama mereka. Ketika mereka ditanya tentang ini, mereka akan berargumen bahwa mereka fokus pada hal ini karena itu adalah ilmu agama dan merupakan kewajiban berbagi. Tetapi mereka sebenarnya menutup mata terhadap apa yang lebih penting dalam agama mereka.

Fahamilah, jika tujuannya adalah untuk memenuhi kewajiban kolektif, mereka seharusnya mulai dengan kewajiban individu. Bahkan, mereka telah melewatkan banyak kewajiban individu yang seharusnya lebih didahulukan. Terlebih lagi, jika kita melihat bagaimana banyak ahli hukum agama yang sibuk dengan perdebatan dan pertikaian, sedangkan kota penuh dengan para ulama yang sibuk dengan fatwa dan menjawab pertanyaan tentang peristiwa sehari-hari.


Seharusnya pertanyaan kita adalah, mengapa para fuqaha (ahli hukum agama) begitu mudah mengesampingkan kewajiban yang telah dilakukan oleh kelompok orang, sementara mengabaikan hal-hal yang tidak mungkin diabaikan? Apakah ini disebabkan oleh fakta bahwa bidang kedokteran dapat membawa mereka ke posisi kepemimpinan dalam urusan waqaf, wasiat, asuh anak yatim, pengadilan, pemerintahan, atau bahkan melampaui rekan-rekan mereka dan mengambil kendali atas musuh-musuh mereka? Tidak, tidak mungkin. Bidang agama telah dirusak oleh pemahaman yang salah dari para ulama. Maka kepada Allah-lah kita meminta pertolongan dan berlindung, agar Dia melindungi kita dari kebanggaan yang menyakiti Allah dan membuat setan tertawa.


Orang-orang yang mementingkan kewarakan dari kalangan ulama ahli hukum tampaknya mengakui nilai dan keutamaan para ulama batin dan orang-orang yang memiliki hati yang suci:


Imam Asy-Syafi'i, semoga Allah merahmatinya, dulu duduk di hadapan Syaiban al-Ra'i, seorang gembala, dan bertanya kepadanya dengan penuh kerendahan hati: "Bagaimana kita seharusnya berbuat dalam situasi ini dan itu?" Mereka berkata kepada Syaiban, "Apakah orang seperti kamu harus ditanya oleh seorang Badawi?" Syaiban menjawab, "Sesungguhnya, ini adalah hasil dari apa yang kami lupakan."


Ahmad bin Hanbal, semoga Allah merahmatinya, dan Yahya bin Ma'in, pernah bertanya kepada Ma'roof al-Karkhi. Meskipun mereka adalah ulama ahli hukum terkemuka, mereka merasa bahwa ilmu mereka dalam hal ini belum mencukupi. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, ketika ditanya tentang bagaimana bertindak jika ada perkara yang tidak ditemukan dalam Kitabullah dan Sunnah-Nya, "Tanyakanlah kepada orang-orang yang shalih dan bersepakat dengan mereka." Oleh karena itu, dikatakan bahwa ulama ahli hukum adalah perhiasan dan penguasa di dunia, sementara ulama batin adalah perhiasan dan penguasa di surga dan kerajaan Ilahi.

Al-Junaid, semoga Allah merahmatinya, mengatakan bahwa guruku yang bersifat rahasia pernah bertanya kepadaku, "Setelah engkau pergi dari sisiku, siapakah yang kamu temui?" Aku menjawab, "Al-Muhasibi." Ia berkata, "Baiklah, ambil ilmu dan etika dari dia, tinggalkanlah kecenderungannya untuk membahas masalah dan merespons orang yang berbicara, kemudian ketika aku berada di tempat lain, aku mendengar dia berkata, "Semoga Allah menjadikanmu teman seorang ahli hadis yang menjadi sufi, dan janganlah engkau menjadi seorang sufi yang menjadi teman seorang ahli hadis." Ini mengindikasikan bahwa siapa yang memperoleh ilmu hadis dan ilmu pengetahuan, kemudian mengikuti tarekat sufi, ia akan berhasil, tetapi sebaliknya, seseorang yang mengikuti tarekat sufi sebelum ilmu pengetahuan, akan menghadapi risiko terhadap dirinya sendiri.

Kesimpulan:

Dalam perjalanan ini, kita telah menjelajahi dua bidang ilmu yang memiliki dampak signifikan terhadap pemahaman kita tentang hakikat hidup, akhirat, dan interaksi sosial. Ilmu mukasyafah membantu kita untuk melongok ke dalam jiwa, merenungkan rahasia batin, dan mendekatkan diri pada pemahaman yang lebih dalam tentang Tuhan. Di sisi lain, ilmu muamalah mengarahkan kita untuk menjalani kehidupan yang bermakna, penuh etika, dan nilai-nilai moral dalam hubungan dengan sesama manusia.

Keduanya bukanlah sekadar pengetahuan intelektual, melainkan landasan tindakan nyata dalam kehidupan kita. Ilmu mukasyafah membuka pintu menuju kebijaksanaan spiritual, sementara ilmu muamalah membimbing kita dalam menghadapi dinamika kompleks interaksi sosial dengan integritas dan kebaikan hati. Kedua bidang ilmu ini, meski berbeda fokus, saling melengkapi dan membentuk fondasi yang kokoh bagi perjalanan rohaniah dan moral kita.

Dengan mengembangkan kedua ilmu ini, kita dapat meraih pemahaman yang lebih mendalam tentang tujuan hidup dan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan-tantangan dunia modern. Sebagai manusia, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran akan aspek spiritual dan sosial, sehingga kita dapat menjalani perjalanan ini dengan sejalan dengan nilai-nilai yang mencerahkan dan memberkati diri kita serta sekitar.



Komentar