Judul: Mengenal bahaya ilmu dan Ciri-ciri Ulama Akhirat dan Ulama Buruk (ulama' dunia)
Sumber:الباب السادس في آفات العلم وبـيان علامات علماء الآخرة والعلماء السوء
Dalam bab keenam ini, kita akan membahas tentang bahaya-bahaya ilmu dan menyoroti tanda-tanda ulama akhirat dan ulama buruk. Telah disebutkan sebelumnya tentang keutamaan ilmu dan ulama. Namun, juga disebutkan dalam berbagai hadis tentang ancaman besar bagi ulama buruk, yang menunjukkan bahwa mereka adalah golongan yang paling sangat akan dihukum di Hari Kiamat.
Adalah penting bagi kita untuk memahami perbedaan antara ulama dunia dan ulama akhirat. Ulama dunia adalah mereka yang mengejar ilmu untuk kepentingan duniawi, seperti mencari kekayaan, kedudukan, dan pengakuan dari orang-orang. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sesungguhnya orang yang paling keras siksaannya di Hari Kiamat adalah seorang alim yang tidak mendapatkan manfaat dari ilmunya."
Seorang yang dianggap sebagai alim sejati adalah orang yang mengamalkan ilmunya. Nabi ﷺ bersabda, "Seseorang tidak dianggap sebagai alim sampai ia mengamalkan ilmunya."
Ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu yang terlihat dalam perkataan dan itu adalah hujjah (argumen) Allah yang Dia gunakan untuk makhluk-Nya. Dan ada ilmu yang berada di dalam hati, dan ini adalah ilmu yang bermanfaat.
Nabi ﷺ juga telah mengingatkan tentang masa akhir zaman di mana akan ada orang-orang yang bodoh dan ulama yang fasik.
Beliau ﷺ juga memperingatkan agar ilmu tidak dipelajari semata-mata untuk dipamerkan kepada ulama atau untuk menyesatkan orang-orang awam, atau bahkan untuk memikat perhatian manusia kepada diri kita. Jika seseorang memanfaatkan ilmu dengan cara ini, ia akan berada dalam neraka.
Nabi ﷺ menjelaskan tentang hukuman bagi mereka yang menyembunyikan ilmu yang dimiliki. Allah akan menjepit mereka dengan tali api neraka.
Nabi ﷺ juga mengatakan bahwa dia lebih khawatir tentang "pemimpin-pemimpin yang sesat" daripada tentang Dajjal itu sendiri.
Nabi ﷺ mengingatkan bahwa seseorang yang bertambah ilmunya tanpa meningkatkan petunjuknya, ia akan semakin menjauh dari Allah.
Isa عليه الصلاة السلام juga telah mengingatkan agar kita tidak menghalangi jalan bagi orang-orang yang bingung dan ragu dalam mencari kebenaran, sementara kita sendiri tidak berusaha untuk memahami.
Dari berbagai hadis ini, kita dapat melihat bahaya besar yang melekat pada ilmu. Seorang alim bisa jadi berada dalam kebinasaan abadi atau kebahagiaan abadi, tergantung pada bagaimana ia memperlakukan ilmunya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya mengejar ilmu, tetapi juga mengamalkannya dengan benar dalam hidup kita.
Penting untuk memahami dampak-dampak dari ilmu yang kita miliki. Para ulama dan bijak telah memberikan pandangan berharga mengenai perilaku dan sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang alim. Berikut adalah beberapa pernyataan yang menggambarkan pandangan mereka:
Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah mengatakan, "Apa yang paling saya takutkan untuk umat ini adalah munafik yang berpengetahuan. Mereka memiliki pengetahuan di lidah mereka, tetapi kebodohan di dalam hati dan amal perbuatan."
Al-Hasan Al-Basri رحمه الله mengingatkan, "Janganlah kamu menjadi orang yang menggabungkan ilmu ulama dengan kebodohan orang awam dalam tindakanmu."
Ada cerita mengenai Abu Hurairah رضي الله عنه yang ketika ditanya tentang kekhawatirannya untuk mempelajari ilmu, beliau menjawab, "Meninggalkan ilmu itu sendiri sudah merupakan bentuk penghancurannya."
Ibrahim bin 'Iyad ditanya, "Siapakah orang yang paling merasa menyesal?" Beliau menjawab, "di dunia, orang yang berbuat baik kepada orang yang tidak menghargai, dan pada saat kematian, orang yang berpengetahuan yang berlebihan."
Al-Khalil bin Ahmad berkata, "Orang-orang terbagi menjadi empat kelompok: orang yang tahu dan menyadari bahwa dia tahu, dia adalah seorang alim, maka ikutilah dia; orang yang tahu tetapi tidak menyadari bahwa dia tahu, dia dalam keadaan tertidur, maka bangunkanlah dia; orang yang tidak tahu tetapi menyadari bahwa dia tidak tahu, dia adalah orang yang mencari petunjuk, maka tunjukkanlah jalan kepadanya; dan orang yang tidak tahu dan tidak menyadari bahwa dia tidak tahu, dia adalah orang bodoh, maka jauhilah dia."
Sufyan al-Thawri رحمه الله mengatakan, "Ilmu memanggil untuk diamalkan. Jika ia dijawab, baiklah. Jika tidak, maka tinggalkanlah."
Ibnu al-Mubarak berkata, "Seseorang akan selalu dianggap memiliki pengetahuan selama ia terus belajar. Namun, saat ia berpikir bahwa ia telah memiliki ilmu, sebenarnya ia sedang menjadi bodoh."
Al-Fudail bin 'Iyad رحمه الله mengatakan, "Aku merasa kasihan kepada tiga golongan: orang yang memiliki derajat namun merendahkan diri, orang kaya yang menjadi miskin, dan orang alim yang mengikuti kesenangan dunia."
Al-Hasan Al-Basri mengatakan, "Hukuman bagi para ulama adalah matinya hati mereka. Matinya hati terjadi saat mencari dunia dengan bekerja untuk akhirat."
Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang alim yang berdosa akan dihukum dengan hukuman yang digunakan oleh penghuni neraka untuk menyakiti dirinya sendiri, sebagai akibat dari intensitas siksaannya."
Semua pandangan ini mengingatkan kita akan pentingnya mengamalkan ilmu dengan niat yang tulus dan menghindari perbuatan yang merusak nilai-nilai dan kehormatan ilmu.
وقال أسامة بن زيد: سمعت رسول الله ﷺ يقول: Referensi yang Anda berikan mengandung pengajaran berharga mengenai tindakan dan perilaku ulama serta pemahaman tentang pentingnya ilmu dan pengamalan yang tepat. Dalam rangka melanjutkan, berikut ini penjabarannya:
Pengajaran dari Hadis dan Tanda-tanda Ulama:
Dalam hadis yang disampaikan oleh Usamah bin Zaid, Rasulullah ﷺ menyebutkan, "Pada Hari Kiamat, seorang alim akan dibawa dan dilemparkan ke dalam api neraka. Tali api neraka akan ditarik menuju kakinya dan akan mengitari alim tersebut seperti keledai yang menggerakkan alat penggiling. Orang-orang yang berada di dalam neraka akan bertanya, 'Mengapa kamu berada di sini?' Alim tersebut akan menjawab, 'Aku menyuruh berbuat baik tetapi aku tidak melakukannya, serta melarang perbuatan buruk tetapi aku melakukannya.'" Dengan demikian, pelanggaran ilmu yang diperoleh merupakan faktor yang memperberat hukuman.
Allah menjelaskan dalam Al-Qur'an mengenai hipokrisi, bahwa mereka yang mengetahui tetapi kemudian mengingkari kebenaran setelah mendapatkan ilmu, akan berada pada lapisan terbawah neraka. Sebagai perbandingan, Allah menyatakan dalam Al-Qur'an bahwa orang-orang Yahudi lebih buruk daripada orang-orang Nasrani, meskipun keduanya memiliki kesalahan, karena orang Yahudi menolak kebenaran setelah mengetahuinya.
Kisah Belaam bin Baura juga diambil sebagai contoh. Ketika dia memiliki ilmu, dia jatuh dalam hawa nafsu dan mengikuti setan. Ia disamakan dengan anjing yang jika dilempari, ia akan mengikuti batu itu, tetapi jika tidak dilempari, ia akan tetap di tempat.
Isa عليه السلام (Nabi Isa) juga memberikan perumpamaan tentang ulama buruk. Mereka diibaratkan seperti batu besar yang menutupi akses air sungai, tidak membiarkan air mengalir untuk mengairi tanaman. Mereka juga diumpamakan seperti parit di ladang yang tampak baik dari luar namun penuh dengan kotoran di dalamnya. Dan mereka diibaratkan seperti kuburan yang terlihat baik di permukaan, namun di dalamnya penuh dengan tulang belulang mayat.
Semua pesan ini menegaskan bahwa seorang alim yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mengamalkannya dan malah terjerumus dalam dosa, akan menderita akibat yang lebih parah daripada orang awam. Keberhasilan hakiki adalah bagi ulama akhirat yang mengamalkan ilmunya dengan tulus dan benar. Mereka memiliki tanda-tanda yang membedakan mereka dari ulama dunia, dan merekalah yang akan mendapatkan keberuntungan sejati di akhirat.
Ciri-ciri Ulama Akhirat:
Ciri-ciri ulama akhirat yang sejati adalah, pertama-tama, mereka tidak mencari dunia melalui ilmu yang dimiliki. Bahkan, tanda paling dasar dari seorang alim adalah bahwa ia menyadari kehinaan dunia, kelemahannya, perubahan-perubahan di dalamnya, dan ia memandang rendah pada dunia. Di sisi lain, ia menghargai dan menyadari keagungan akhirat, kekekalan dan keindahannya, serta kemuliaan kerajaan-Nya. Ulama akhirat tahu bahwa dunia dan akhirat adalah dua hal yang saling bertentangan, seperti air dan minyak yang tidak dapat dicampurkan. Oleh karena itu, mereka tidak berusaha untuk mencampurkan keduanya.
Seorang alim akhirat tidak menganggap enteng nilai dunia, tidak merasa terikat oleh hal-hal duniawi, dan tidak terjebak oleh keinginan hawa nafsu. Justru mereka memahami bahwa kedua dunia ini, dunia dan akhirat, adalah seperti dua piring timbangan. Apapun yang membuat salah satunya menjadi lebih berat, akan membuat yang lain menjadi lebih ringan.
Penting untuk menyadari bahwa ulama akhirat memiliki kesadaran akan kehinaan dunia dan ketinggian nilai akhirat. Mereka juga tahu bahwa menggabungkan keduanya hanya akan mengantarkan pada kegagalan dan kesia-siaan. Setiap pandangan dan pengalaman dalam hidup mengkonfirmasi hal ini. Bagaimana mungkin seorang ulama tidak memiliki akal pikiran?
Kisah Nabi Daud dan Ulasannya:
Dalam cerita mengenai Nabi Daud عليه الصلاة والسلام, Allah Ta'ala berfirman, "Hal yang paling sedikit yang Aku lakukan terhadap seorang alim yang lebih memilih nafsunya daripada cintaku adalah Aku akan menghalangi dia dari merasakan kelezatan berbicara langsung dengan-Ku. Hai Daud, janganlah engkau mencari tahu tentang seseorang yang memiliki pengetahuan, karena ia telah diperdaya oleh dunia sehingga akan menghalangi engkau dari mencintai-Ku. Mereka adalah penghalang jalan bagi hamba-hamba-Ku. Hai Daud, jika engkau melihat seseorang yang mencari tahu, maka jadilah pelayannya. Hai Daud, siapa pun yang Aku arahkan untuk-Mu dan dia berbalik lari dari-Mu, maka tulislah namanya sebagai pembenci agama-Ku. Jika engkau menuliskan namanya sebagai pembenci agama-Ku, maka Aku tidak akan pernah menghukumnya."
Kesimpulan dari Pandangan Ulama:
Penting untuk diingat bahwa hukuman bagi ulama yang tidak mengamalkan ilmu dengan benar adalah matinya hati, yang mengarah pada pencarian dunia dengan mengesampingkan akhirat. Karena itu, ilmu yang tidak disertai dengan pengamalan yang benar dan kesadaran akan kebenaran akan mengakibatkan hukuman yang berat.
Kewajiban Umat untuk Menjaga Cahaya Ilmu:
Seorang pria menulis kepada saudaranya, "Kamu telah diberi ilmu, janganlah padamkan cahaya ilmu dengan kegelapan dosa, sehingga kamu akan tetap dalam kegelapan saat orang-orang berlomba-lomba di dalam cahaya ilmu mereka. Yahya bin Mu'adh al-Razi رحمه الله biasa mengingatkan para ulama dunia dengan mengatakan, 'Hai para pemilik ilmu, kastilmu hanyalah benteng, rumahmu retak, pakaianmu terlihat bagus, namun dirimu sangat lemah, perahu-perahumu adalah perahu Qarun, barang-barangmu adalah barang milik Fir'aun, dosa-dosamu adalah dosa jahiliyah, pandanganmu adalah pandangan setan. Di mana hukum Muhammad yang mulia?'"Ucapan Bijak dari Para Ulama:
Banyaklah ulama yang menasihati agar ilmu tidak semata-mata dipegang dan disimpan, tetapi harus dihayati dan diamalkan. Salah seorang shair berkata, "Si penggembala melindungi domba dari serangan serigala, tapi bagaimana jika penggembalanya adalah serigala?" Dalam kata-kata lain, orang yang memiliki ilmu seharusnya melindungi agamanya, bukan merusaknya.
Sebagai tambahan, seseorang yang menganggap dosa-dosa sebagai kesenangan dan tidak menghiraukan Allah dalam pilihan-pilihan hidupnya, dia sebenarnya tidak mengenal Allah sama sekali. Dalam kisah-kisah ulama, kita mengetahui bahwa mereka yang lebih mencintai dunia daripada akhirat, sebenarnya kehilangan pengenalan mereka terhadap Allah.
Hikmah dalam Berbicara dan Berbicara tentang Ilmu:
Ulama-us-Salaf juga memberikan panduan tentang bagaimana menyampaikan ilmu dan menunjukkan kualitas ketika mencarinya. Ada ungkapan bahwa kelezatan dalam memberikan manfaat kepada orang lain dan berperan dalam memberikan petunjuk lebih nikmat daripada semua kenikmatan dunia. Oleh karena itu, mereka yang menggantungkan hasratnya dalam memberikan nasihat atau berbicara tentang ilmu memiliki prioritas terhadap dunia dan bukan akhirat.Pentingnya Niat dan Tujuan Ilmu:
Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang mencari ilmu untuk mendapatkan wajah Allah Ta'ala, tetapi akhirnya mengharapkan imbalan duniawi, dia tidak akan mendapatkan bau surga di Hari Kiamat." (Hadis riwayat Abu Hurairah)Pemisahan Antara Ulama Dunia dan Ulama Akhirat:
Allah menggambarkan ulama yang bersifat duniawi dengan menyebutkan bahwa mereka membeli ilmu untuk tujuan mengais dunia semata, sementara ulama akhirat dikarakteristikan dengan rasa takut dan kezuhudan mereka.
Ayat-ayat yang Menyebutkan Ulama Dunia dan Ulama Akhirat:
Allah berbicara tentang ulama dunia dengan mengungkapkan sikap mereka terhadap ilmu yang mereka terima dari kitab suci, sedangkan ulama akhirat adalah mereka yang tunduk kepada Allah, tidak menjual ayat-ayat-Nya dengan harga murah.
Penghormatan terhadap Ulama dalam Umat Islam:
Sahabat Abu Darda' رضي الله عنه meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan dari Allah, "Sesungguhnya Allah telah mengisarkan kepada beberapa nabi: 'Katakanlah kepada orang yang mencari pemahaman tanpa niat beramal dan belajar tanpa niat amal, serta mencari dunia dengan amal akhirat: mereka adalah seperti domba yang diliputi oleh kulit kambing, dan hati mereka lebih berbahaya daripada serigala. Lidah mereka lebih manis daripada madu, tetapi hati mereka lebih keras daripada batu. Mereka menipu-Ku dan mencemooh-Ku. Dengan Aku mereka berpura-pura, namun Aku akan memberikan cobaan kepada mereka sehingga orang yang sabar akan terkejut.'"Dua Jenis Ulama:
Ibnu Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Ulama umat ini ada dua tipe. Pertama, seorang yang diberi ilmu oleh Allah dan ia membagikannya tanpa meminta imbalan atau harga. Dia diberkahi oleh burung-burung di udara, ikan-ikan di laut, dan binatang-binatang di daratan. Pemimpin para penulis mencatatkan amal perbuatan mulia baginya di hadapan Allah Ta'ala di Hari Kiamat sehingga dia ditemani oleh para rasul. Kedua, seorang yang diberi ilmu oleh Allah, tetapi dia menyebarkannya kepada hamba-hamba Allah dengan harapan mendapatkan balasan dan dia menjualnya. Dia akan datang di Hari Kiamat dengan tali api di lehernya dan akan teriak memanggil atas kepala semua makhluk, 'Inilah Fulan bin Fulan yang diberi ilmu oleh Allah di dunia, tetapi dia menyebarkannya kepada hamba-hamba-Nya, menjualnya, dan membeli dengannya. Dia akan dihukum hingga dia terbebas dari perhitungan manusia.'"
Cerita tentang Kehilangan Tujuan Ilmu:
Adalah diceritakan bahwa ada seorang pelayan Nabi Musa عليه الصلاة والسلام yang mengklaim bahwa Musa telah memberinya akses ke pengetahuan tersembunyi. Ia terus-menerus mengatakan bahwa Musa telah memberinya akses kepada Allah yang penuh rahmat dan keselamatan. Dia mengklaim bahwa Musa telah memberinya pengetahuan tentang asmaul husna (nama-nama indah Allah) dan kata-kata pujian untuk berbicara kepada Allah. Akibat klaim-klaim ini, ia menjadi terkenal dan kekayaannya bertambah. Ketika Musa mengetahui tentang klaim ini, ia mencari informasi tentang pria tersebut tetapi tidak dapat menemukannya. Suatu hari, seorang pria dengan tangan yang memegang seekor babi dan leher yang diikat dengan tali hitam mendekati Musa. Musa bertanya, "Apakah kamu mengenali seseorang bernama Fulan?" Pria itu menjawab, "Ya, itulah babi ini." Musa memohon kepada Allah untuk mengembalikannya ke kondisi semula. Kemudian Musa bertanya kepada pria tersebut tentang penyebab kejadian tersebut. Allah memberi wahyu kepada Musa, "Jika kamu memanggil-Ku dengan cara yang Adam gunakan saat ia memanggil-Ku, maka Aku akan menjawabmu tentang hal ini. Namun, Aku akan memberi tahumu mengapa Aku melakukannya. Ia terlalu sibuk mencari dunia daripada agamanya."Kehancuran Seorang Ahli Ilmu yang Terjebak oleh Kebanggaan:
Diceritakan oleh Mu'adh bin Jabal رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Salah satu cobaan bagi seorang alim adalah ketika bicaranya lebih dicintai daripada mendengar orang lain." Kehadiran kata-kata yang indah, kemampuan untuk berbicara dengan pengetahuan yang mendalam, dan keterampilan dalam berbicara terkadang membuat seseorang terlena dalam kepuasan diri. Namun, dalam keheningan ada ketenangan dan pengetahuan yang benar.Jadi, pesan yang dapat diambil dari semua referensi ini adalah betapa pentingnya niat murni dalam menuntut ilmu dan bagaimana kecenderungan untuk mencari popularitas, kekayaan, atau penghargaan duniawi bisa merusak tujuan sejati dari memperoleh ilmu.
Berbagai Jenis Ulama:
Ada berbagai jenis ulama berdasarkan niat dan perilaku mereka terkait ilmu:
Ada ulama yang menyembunyikan ilmunya dan tidak ingin orang lain mengetahuinya, hal ini akan berdampak pada tempat mereka di neraka tingkat pertama.
Ada ulama yang merasa ilmunya setara dengan kekuasaan, sehingga jika ada yang menentang atau meremehkan ilmunya, ia akan marah. Mereka ini akan berada di neraka tingkat kedua.
Ada ulama yang menggunakan ilmu dan khazanah hadisnya untuk berbicara dengan orang-orang terhormat, sementara mereka tidak melihat kebutuhan orang-orang yang membutuhkannya. Mereka akan berada di neraka tingkat ketiga.
Ada ulama yang mengklaim dirinya sebagai mujtahid dan memberikan fatwa dengan salah. Allah tidak menyukai orang yang pura-pura. Mereka akan berada di neraka tingkat keempat.
Ada ulama yang mengutip ucapan Yahudi dan Nasrani untuk meningkatkan ilmunya. Mereka akan berada di neraka tingkat kelima.
Ada ulama yang menjadikan ilmunya sebagai kebanggaan dan pameran di depan orang lain. Mereka akan berada di neraka tingkat keenam.
Ada ulama yang tersulut oleh kesombongan dan rasa takabur, sehingga mereka bersikap sombong atau meremehkan orang lain. Mereka akan berada di neraka tingkat ketujuh.
Oleh karena itu, disarankan untuk tetap diam dan menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang dapat merusak tujuan ilmu. Jangan tertawa tanpa alasan atau berjalan dengan kesombongan.
Dalam sebuah hadis lain, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba akan memperoleh pujian yang sebanding dengan antara timur dan barat, tetapi bobotnya di sisi Allah hanya seberat sayap nyamuk."
Cerita lain melibatkan Al-Hasan al-Basri, seorang ulama besar, yang ditawari hadiah oleh seorang pria. Al-Hasan menolaknya dan berkata bahwa tidak ada kebutuhan bagi mereka untuk hal itu. Al-Hasan menjelaskan bahwa jika seseorang menghabiskan waktu seperti yang dia lakukan, duduk dalam majelis semacam itu dan mengakui pujian dari orang-orang semacam itu, ia akan menghadap Allah di Hari Kiamat tanpa pengampunan.
Dalam hadis lain, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengatakan, "Janganlah kalian duduk di hadapan setiap alim, kecuali yang memanggil kalian dari satu kondisi ke kondisi lainnya: dari keraguan menjadi keyakinan, dari riya' menjadi ikhlas, dari keinginan duniawi menjadi zuhud, dari kesombongan menjadi kerendahan hati, dan dari permusuhan menjadi nasihat."
Allah juga menekankan pentingnya mengutamakan akhirat daripada dunia dalam Al-Quran. Dalam surah Al-Qasas, Allah menyebutkan bahwa pilihan yang lebih baik adalah pahala dari Allah dan pilihan tersebut diberikan kepada orang-orang yang beriman.
Kaidah-Kaidah Penting dalam Mempraktikkan Ilmu:
Salah satu prinsip penting adalah tidak bertentangan antara perbuatan dengan perkataan. Seorang ulama seharusnya tidak memerintahkan sesuatu kecuali dia sendiri adalah orang yang pertama mengamalkannya. Allah berfirman, "Mengapa kalian menyuruh orang lain berbuat kebajikan, sementara kamu melupakan diri kalian sendiri?" (Q.S. Al-Baqarah, 44)
Dalam suatu ayat lain, Allah menyatakan, "Mengapa kamu berkata-kata apa yang tidak kamu kerjakan?" (Q.S. Ash-Shaff, 2)
Allah juga berbicara tentang Nabi Syu'aib, "Aku tidak ingin melanggar larangan yang telah Kufirmankan kepadamu." (Q.S. Hud, 88)
Allah menegaskan, "Takutlah kepada Allah dan Dia akan mengajarkanmu." (Q.S. Al-Baqarah, 282)
Allah juga menyebutkan, "Takutlah kepada Allah dan Dengarkanlah." (Q.S. Al-Baqarah, 285)
Nabi Isa a.s. dikatakan, "Wahai putra Maryam, nasehatilah dirimu sendiri. Jika engkau sudah memberi nasehat kepada dirimu sendiri, maka nasehatilah orang lain. Jika tidak, maka jangan sombong padaku." (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Rasulullah ﷺ berkisah, "Pernah suatu malam aku melewati sekelompok orang yang bibir mereka dirobek dengan tusukan dari api neraka. Aku bertanya, 'Siapa kalian?' Mereka menjawab, 'Kami dulu selalu memerintahkan kebaikan, tetapi tidak pernah melakukannya, dan kami melarang kejahatan, namun kami melakukannya.'" (Hadis Riwayat Muslim)
Beliau ﷺ juga mengingatkan, "Kehancuran umatku disebabkan oleh ulama yang fasik dan ibadah yang bodoh. Orang-orang yang paling buruk di antara orang jahat adalah ulama yang jahat, dan orang-orang yang paling baik di antara orang baik adalah ulama yang baik." (Hadis Riwayat Tirmidzi)
Al-Awza'i berkata, "Bertempurilah dengan wanita-wanita jahat. Kamu tidak akan menemukan hal yang lebih berbahaya dari mereka seperti racun yang paling keras. Allah menginspirasikan kepada mereka bahwa perut ulama jahat seperti mereka." (Silsilah al-Ahadits as-Sahihah, no. 573)
Fudail bin 'Iyad berkata, "Sesungguhnya orang-orang yang fasik di antara para ulama akan dimulai dengan mereka pada Hari Kiamat sebelum para penyembah berhala."
Abu ad-Darda' berkata, "Celakalah orang yang tidak tahu sekali pun dalam satu hal, dan celakalah orang yang tahu tetapi tidak mengamalkannya sebanyak tujuh kali."
Imam asy-Syabi mengatakan, "Di Hari Kiamat, sekelompok orang dari Surga akan melihat sekelompok orang dari Neraka dan berkata kepada mereka, 'Kami masuk Surga karena bimbingan dan pengajaran kalian. Kami melarang kejahatan dan kamu melakukannya.'"
Hatim al-Asam berkata, "Tidak ada penyesalan yang lebih besar pada Hari Kiamat daripada seorang yang mengetahui ilmu namun tidak mengamalkannya, sedangkan orang lain berhasil berkat ilmu tersebut."
Malik bin Dinar berkata, "Seseorang yang memiliki pengetahuan namun tidak mengamalkannya, nasehatnya akan meleset dari hati manusia, sebagaimana embun tergelincir dari atas rumput."
Ishaq bin Rahawaih berkata, "Kami berbicara dengan kata-kata yang jelas dan jelas dalam ucapan kami. Kami mencampurkan perkataan dalam tindakan kami."
Sumber: Dikutip dari berbagai sumber Al-Qur'an, Hadis, dan perkataan para ulama yang terkenal.
Ciri-ciri:
Pentingnya Mengamalkan Ilmu yang Dipelajari:
Abdurrahman bin Ghannam berkata, "Saya mendengar sepuluh dari sahabat Rasulullah ﷺ berkata, kami sedang belajar ilmu di Masjid Quba ketika Rasulullah ﷺ keluar dan bersabda, 'Pelajarilah apa yang kalian inginkan untuk dipelajari, karena Allah tidak akan memberi pahala sampai kalian memahami (dan mengamalkannya).'" (Hadis Riwayat Ibnu Majah)
Nabi Isa a.s. pernah mengibaratkan orang yang mempelajari ilmu tapi tidak mengamalkannya seperti wanita yang merahasiakan zinanya, tetapi kemudian hamil dan kehamilannya menjadi tampak. Demikian pula, orang yang tidak mengamalkan ilmunya akan diungkapkan oleh Allah pada Hari Kiamat di depan para saksi. (Hadis Riwayat Ibn Hibban)
Mu'adh r.a. berkata, "Hati-hatilah dengan kesalahan seorang alim, karena reputasinya di mata manusia sangat besar sehingga orang-orang akan mengikuti kesalahannya."
Umar r.a. berkata, "Jika seorang alim bersalah, ia bersalah dalam kesalahannya, dan seorang alim yang bersalah akan menyebabkan banyak orang tersesat."
Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Akan datang suatu zaman di mana manusia akan merasa manis dalam hati mereka, dan pada saat itu ilmu tidak akan memberi manfaat bagi seseorang, baik itu orang yang memiliki ilmu atau yang sedang mempelajarinya. Pada saat itu, hati para ulama akan seperti garam yang terkena hujan, sehingga manisnya hilang darinya. Hal ini terjadi ketika hati para ulama lebih cenderung mencintai dunia dan memilihnya daripada akhirat. Pada saat itulah Allah akan mencabut sumber-sumber hikmah dari hati mereka dan memadamkan cahaya petunjuk dari hati mereka. Dalam pandangan mereka, ilmu adalah hanya pengakuan dengan mulut semata, sedangkan perbuatan mereka mencerminkan keburukan. Hati mereka akan menjadi penuh dengan kata-kata berbobot pada waktu itu, namun hati mereka akan menjadi kosong. Demi Allah, tidak ada yang menyebabkan hal ini kecuali karena para pengajar telah mengajarkan ilmu kepada orang lain selain Allah, dan para murid belajar ilmu untuk selain Allah. Dalam Taurat dan Injil tertulis, 'Janganlah kamu mencari ilmu kecuali dengan cara mengamalkannya.'" (Dikutip dari kitab "Tafsir Ibnu Katsir")
Hudzaifah r.a. berkata, "Kamu berada di zaman di mana meninggalkan sepuluh dari ilmu yang kamu ketahui akan menyebabkan kehancuran, dan akan datang suatu zaman di mana bekerja dengan sepuluh dari ilmu yang kamu tahu akan menyelamatkanmu, karena banyaknya orang yang malas dalam bekerja."
Diketahui bahwa ulama serupa dengan hakim. Nabi ﷺ bersabda, "Para hakim terbagi menjadi tiga kelompok: Hakim yang memutuskan dengan keadilan karena dia mengetahui kebenarannya, dia akan di dalam surga. Hakim yang memutuskan dengan kezaliman, baik dia tahu atau tidak, dia akan di dalam neraka. Hakim yang memutuskan dengan hal-hal yang Allah tidak perintahkan, dia akan di dalam neraka." (Hadis Riwayat Ahmad)
Ka'ab rahimahullah berkata, "Akan ada pada akhir zaman ulama yang memandang remeh dunia di mata manusia dan tidak, mereka menakuti manusia dan tidak takut, mereka melarang tiran (penguasa yang sewenang-wenang) dan datang kepada mereka, mereka mengutamakan dunia di atas akhirat dengan ucapan mereka, mereka mendekatkan orang kaya daripada orang miskin, mereka berselisih pandang dalam ilmu seperti wanita yang berselisih pandang dalam urusan laki-laki; kemarahan muncul pada seorang teman hanya karena duduk bersama orang lain. Mereka adalah orang-orang yang dzalim dan musuh-musuh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Penyayang)."
Nabi ﷺ bersabda, "Sesungguhnya setan kadang-kadang mengajak kalian kepada ilmu." Para sahabat bertanya, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Ia berkata, 'Carilah ilmu, tetapi jangan mengamalkannya sampai kamu benar-benar mengerti.' Maka ilmu akan terus berbicara, dan amal tidak akan pernah terwujud sampai kalian meninggal, dan kalian tidak pernah melakukan amal." (Hadis Riwayat Ahmad)
Sari as-Saqathi rahimahullah berkata, "Seorang pria meninggalkan ibadah karena keinginan untuk mencari ilmu yang tampak. Saya bertanya kepadanya mengapa, dan dia berkata, 'Saya melihat dalam mimpi seseorang yang berkata padaku, 'Berapa lama lagi kau akan membuang-buang ilmu? Allah telah menghapusmu.' Saya berkata, 'Saya telah menghafal ilmu.' Dia berkata, 'Menghafal ilmu bukanlah tujuannya, tetapi mengamalkannya.' Saya pun meninggalkan pencarian ilmu dan beralih kepada amal."
Ciri-ciri:
Pentingnya Fokus pada Ilmu yang Bermanfaat dan Meninggalkan Ilmu yang Tidak Bermanfaat:
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengamalkan ilmu: perhatian harus diarahkan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat di akhirat, menghindari ilmu yang kurang bermanfaat dan cenderung menuai perdebatan serta perdebatan yang tidak penting.
Contohnya adalah ketika seseorang memprioritaskan berdebat mengenai sifat-sifat obat-obatan dan penyakit yang rumit, sementara mengabaikan pengetahuan tentang tindakan medis yang lebih penting. Ini hanya mengindikasikan kebodohan.
Dalam satu riwayat, seseorang datang kepada Nabi Muhammad ﷺ dan meminta diajari hal-hal yang aneh dalam ilmu. Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang sudah kau kerjakan di bidang ilmu?" Dia menjawab, "Aku mengenal Tuhan." Nabi ﷺ melanjutkan, "Apa yang sudah kau kerjakan untuk-Nya?" Ini menunjukkan bahwa mengenal Tuhan dan beramal sesuai dengan-Nya adalah prioritas.
Seorang alim bernama Hatim al-Asamm menceritakan bahwa saudaranya bertanya, "Berapa tahun kita bersama?" Hatim menjawab, "Tiga puluh tiga tahun." Saudaranya bertanya lagi, "Apa yang sudah kau pelajari dariku selama ini?" Hatim menjawab, "Delapan hal." Saudaranya heran, "Sudah tiga puluh tiga tahun dan kau hanya belajar delapan hal?" Hatim menjawab, "Aku tidak belajar hal lain karena aku tidak ingin berbohong."
Hatim kemudian menjelaskan mengapa dia memilih belajar hanya delapan hal dengan menggambarkan pandangan dan pengalamannya. Ini menunjukkan bahwa pentingnya fokus pada hal-hal yang paling penting dalam ilmu dan tindakan.
Terdapat beberapa pandangan dan pemahaman penting yang perlu diperhatikan dalam mengamalkan ilmu:
Menghindari pemborosan waktu dalam hal yang tidak penting.
Memahami pentingnya takwa dalam meraih ilmu dan mengamalkannya.
Memahami bahwa harta dan kedudukan tidak memiliki nilai sejati.
Menghindari iri hati dan memahami bahwa pemberian rezeki adalah dari Allah.
Menghindari konflik dan memahami bahwa perpecahan berasal dari setan.
Tidak memprioritaskan hal-hal duniawi di atas tujuan spiritual.
Meninggalkan ketergantungan pada makhluk dan lebih mengandalkan Allah.
Memahami bahwa ilmu sejati difokuskan pada pencarian ridha Allah daripada upaya duniawi.
Kesimpulannya, penting untuk fokus pada ilmu yang bermanfaat untuk akhirat, menghindari perdebatan yang tidak produktif, dan mengamalkan ajaran-ajaran yang penting bagi perkembangan spiritual dan akhlak. Ilmu sejati harus membimbing individu menuju takwa dan amalan yang bermanfaat di dunia dan akhirat.
Ciri-ciri:
Menjauhkan Diri dari Kemewahan dan Berlebihan dalam Kebutuhan Dunia:
Seorang individu seharusnya tidak condong kepada hura-hura dalam makanan dan minuman, atau berlebihan dalam berpakaian, keindahan furnitur, atau tempat tinggal. Sebaliknya, dia seharusnya lebih memprioritaskan ekonomisitas dan meniru gaya hidup sederhana para generasi Salaf (pendahulu Islam), semoga Allah merahmati mereka.
Dia seharusnya cenderung untuk mencukupkan diri dengan yang sedikit dalam segala aspek. Semakin dia cenderung ke arah kesederhanaan, semakin dekat dia dengan Allah dan semakin tinggi posisinya di antara ulama akhirat.
Contoh nyata keikhlasan dan penghambaan Salaf adalah kisah Hatim al-Asamm yang terkenal. Dia meminta tuan rumah untuk mengijinkannya berwudhu di tempat yang lebih jauh agar dia bisa berwudhu dengan lebih tepat. Ini menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam beragama dan keinginan untuk melakukan yang terbaik.
Cerita ini juga menggambarkan ketidakpedulian Hatim terhadap kemewahan dunia. Dia bahkan tidak menerima ajakan tuan rumah untuk duduk di tempat yang lebih nyaman saat berwudhu. Sikap ini mendorong peneliti ke arah pengabdian yang sejati kepada Allah.
Ketika tiba di Baghdad, Hatim menunjukkan tiga hal penting yang digunakannya dalam berinteraksi dengan orang lain: dia merasa senang saat lawannya berhasil, dia merasa sedih saat lawannya melakukan kesalahan, dan dia selalu memastikan untuk tidak menghina orang lain.
Imam Ahmad bin Hanbal menunjukkan penghormatan terhadap Hatim al-Asamm dan meminta orang untuk datang kepadanya untuk belajar dari kearifan dan akhlaknya.
Cerita diakhir dengan catatan bahwa penghormatan terhadap dunia yang diizinkan oleh Islam bukanlah suatu hal yang dilarang secara hukum. Namun, individu harus mengikuti panduan yang diberikan oleh Salaf dan menjaga keseimbangan antara mencari kenyamanan dalam halal dan menjaga diri dari dosa-dosa.
Berdasarkan pada penelitian ini, perhiasan yang halal bukanlah sesuatu yang dilarang dalam Islam. Namun, keterlibatan berlebihan dalam hal ini bisa menyebabkan ketidakpekaan terhadap nilai-nilai spiritual dan kesalehan. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami bahwa tujuan akhir mereka adalah mendapatkan ridha Allah dengan menjalani kehidupan yang seimbang dan bermanfaat.
Surat Menyampaikan Nasihat Antar Ulama:
Surat ini adalah pertukaran surat antara Yahiya bin Yazyid al-Nawfali dan Imam Malik bin Anas, dua ulama besar pada masanya.
Dalam surat pertama, Yahiya bin Yazyid al-Nawfali menasehati Malik bin Anas agar menjaga sikap rendah hati dan kerendahan diri. Dia menyebutkan bahwa dia mendengar bahwa Malik menggunakan pakaian yang bagus, makanan yang lezat, dan duduk di kursi yang nyaman. Yahiya juga menekankan bahwa sekarang Malik duduk di majelis ilmu, dihormati oleh banyak orang, dan diakui sebagai pemimpin yang diikuti.
Namun, Yahiya menegaskan bahwa Malik seharusnya tetap bersikap rendah hati, menghindari kemewahan berlebihan, dan selalu bertawakal kepada Allah.
Dalam surat balasan, Malik menjawab dengan rasa hormat dan penuh nasihat. Dia mengakui bahwa dia melakukan apa yang telah disebutkan oleh Yahiya, seperti mengenakan pakaian yang baik dan duduk di tempat yang nyaman. Namun, dia menjelaskan bahwa tindakan ini dilakukan dengan memohon ampunan Allah dan dalam batas-batas yang diizinkan oleh agama.
Malik juga menegaskan bahwa dia tahu meninggalkan tindakan-tindakan tersebut lebih baik daripada melibatkan diri dalam praktik berlebihan. Dia mengutip ayat Al-Quran yang mengizinkan orang untuk menggunakan perhiasan yang dihalalkan.
Melalui sikap rendah hati dan pengakuan akan kebenaran, Malik menunjukkan keteladanan dalam menerima nasihat dan menerima kritik secara positif.
Dalam pandangan ini, Malik bin Anas menunjukkan sikap rendah hati dan penilaian yang bijaksana terhadap praktik-praktik tertentu. Dia memahami batas-batas yang diberikan oleh agama dan tetap menjalani hidup yang sederhana serta menghindari kemewahan yang berlebihan.
Ciri ciri:
Nasihat untuk Menjauhi Pemimpin:
Mengutip dari referensi tersebut, salah satu prinsip yang disarankan adalah menjauhi pergaulan dengan para penguasa (sultaan) yang zalim. Sebaiknya seseorang tidak terlalu dekat dengan mereka kecuali jika tidak ada cara lain untuk melarikan diri. Seorang beriman harus menjaga jarak dari mereka dan tidak seharusnya terlibat dalam interaksi yang lebih dekat daripada yang diperlukan.
Para ulama diingatkan untuk tidak mencampuri urusan penguasa atau memasuki lingkup mereka secara terlalu akrab, karena dunia ini memiliki daya tarik yang kuat dan penguasa memiliki kendali atasnya.
Bergaul dengan penguasa seringkali membutuhkan berpura-pura dan tindakan yang tidak jujur untuk mendapatkan simpati mereka, bahkan jika mereka melakukan tindakan zalim. Oleh karena itu, seorang yang memiliki keyakinan agama yang kuat harus berani menegur ketidakadilan dan kelakuan buruk mereka.
Para ulama diharapkan untuk mengecam tindakan yang salah dari penguasa dan menunjukkan mereka kepada kebenaran, bahkan jika tindakan ini bisa menimbulkan reaksi buruk dari penguasa.
Referensi tersebut juga menyebutkan hadis Nabi Muhammad yang menekankan bahwa ulama harus berani menegur penguasa jika mereka melanggar prinsip-prinsip keadilan dan kebenaran. Namun, jika ulama tunduk kepada penguasa dan mengikuti kemauan mereka, itu bisa menyebabkan mereka tergoda dan tersesat dari jalan kebenaran.
Berdasarkan kutipan tersebut, dijelaskan bahwa ulama yang terlalu dekat dengan penguasa akan terpapar pada bahaya dan krisis. Tindakan seperti itu dapat mengakibatkan mereka berbicara hal-hal yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka, bahkan hingga terlibat dalam kebohongan dan pengingkaran terhadap prinsip-prinsip agama.
Hadis Nabi juga menggarisbawahi bahwa para ulama memiliki tanggung jawab besar sebagai amanah dan utusan Allah untuk menjaga umat-Nya. Namun, jika mereka terlalu dekat dengan penguasa, itu bisa mengkhianati tanggung jawab mereka dan mengaburkan jalan kebenaran.
Referensi ini mengingatkan tentang bahaya terjebak dalam kepentingan duniawi dengan berinteraksi terlalu dekat dengan penguasa, karena tindakan seperti itu bisa merusak iman dan integritas seseorang.
Ciri ciri:
Prinsip Sikap Bijak dalam Memberi Fatwa:
Terdapat prinsip untuk tidak terburu-buru dalam memberikan fatwa. Sebaliknya, seorang ulama harus berhati-hati dan bersikap waspada sampai menemukan jalan keluar yang benar. Jika ditanya tentang sesuatu yang dia ketahui dengan pasti berdasarkan teks Al-Quran, hadis, ijma' (konsensus), atau qiyas (analisis komparatif), maka dia memberikan fatwa. Namun, jika dia ragu, dia mengaku tidak tahu. Jika dia ditanya tentang sesuatu yang memerlukan pendapat pribadi atau perkiraan, dia harus berhati-hati dan menahan diri, terutama jika orang lain yang lebih kompeten dalam hal tersebut.
Keberanian dalam memberikan fatwa yang didasarkan pada ijtihad (penalaran) memiliki risiko yang besar. Oleh karena itu, prinsipnya adalah ketika ragu, lebih baik menahan diri daripada mengambil risiko yang tidak perlu.
Ketidakbanyakannya Berbicara:
Di dalam hadis disebutkan, "Ilmu itu ada tiga: kitab yang berbicara, sunnah yang berdiri, dan 'Aku tidak tahu'." Ini menunjukkan bahwa pengakuan ketidaktahuan adalah setengah dari ilmu. Orang yang diam ketika tidak tahu memiliki pahala yang tidak kalah dengan orang yang berbicara, karena mengakui kebodohan lebih sulit bagi diri sendiri. Itulah cara para sahabat dan generasi Salaf berperilaku.
Iben Umar, misalnya, jika ditanya tentang hukum, biasanya akan merujuk kepada penguasa yang memegang otoritas untuk memutuskan. Iben Mas'ud berpendapat bahwa orang yang memberikan fatwa tentang semua hal yang ditanyakan adalah orang yang gila. Sikap mereka adalah "Aku tidak tahu," dan jika mereka membuat kesalahan, tentara mereka akan tetap terlindungi.
Ibrahim ibn Adham berkata bahwa tidak ada yang lebih menyulitkan setan daripada seorang alim yang berbicara berdasarkan pengetahuan, tetapi diam saat tahu. Diamnya lebih sulit baginya daripada berbicaranya.
Beberapa di antara mereka menggambarkan bahwa alim yang sejati adalah mereka yang hanya berbicara jika ditanya dan diam jika ditanya. Jika mereka terpaksa menjawab, mereka akan melakukannya, tetapi mereka menghitung keinginan untuk berbicara sebelum pertanyaan muncul sebagai keinginan yang tidak sehat.
Iben Umar dan Abdullah bin Mas'ud berbicara tentang seorang yang berbicara terus-menerus dan berusaha mencari perhatian dengan berkata, "Lihat, kenalilah aku!"
Seorang di antara mereka mengatakan bahwa seorang alim sejati adalah mereka yang ketika ditanya tentang suatu hal, terasa seolah-olah giginya dicabut.
Iben Umar mengatakan, "Apakah kalian ingin membuat kami menjadi jembatan yang kalian lewati untuk masuk ke neraka?"
Sumber: Kutipan tersebut mengacu pada penekanan terhadap sikap rendah hati dan hati-hati dalam memberikan fatwa.
Para ulama d ianjurkan untuk tidak berbicara terlalu banyak atau memberikan pendapat tanpa pengetahuan yang memadai.
Akan berlanjut ke halaman 2

Komentar
Posting Komentar