Rukun-rukun iman

 
















Ke-outline/daftar isi

Berikut adalah artikel mengenai "الركن الأول من أركان الإيمان" (Pilar Pertama dari Rukun Iman) dengan referensi yang telah disediakan:

Rukun pertama dari Rukun Iman dalam Islam adalah keyakinan akan eksistensi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang Maha Esa, dan keberadaannya dapat dibagi menjadi sepuluh aspek penting.

Aspek pertama: Pengenalan akan keberadaan Allah Subhanahu wa Ta'ala dan cahaya pertama yang menyinari jalan pemahaman kita, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran. Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak hanya mengungkapkan keberadaannya dalam Al-Quran, tetapi juga melalui ciptaan-Nya di alam semesta ini. Allah berfirman, "Apakah Kami tidak menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai penopang? Dan Kami menciptakan kamu berpasang-pasangan, dan Kami menjadikan tidur kamu sebagai peristirahatan. Dan Kami menjadikan malam sebagai pakaian, dan Kami menjadikan siang sebagai waktu mencari nafkah. Dan Kami bangun di atas kamu tujuh lapisan langit yang kokoh. Dan Kami jadikan (pula) cahaya yang terang benderang dan api yang bersinar, dan Kami turunkan dari awan air hujan yang deras, agar Kami keluarkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam, dan kebun-kebun yang ditutupi (dengan tanaman-tanaman yang) berlapis-lapis." (Quran, Al-Naba: 6-12).

Allah juga berfirman, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Dan (demikian juga) dalam kapal-kapal yang berlayar di laut membawa barang-barang yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu Allah menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya, dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan peniupan angin yang diatur sendiri oleh-Nya, dan awan yang bergentayangan antara langit dan bumi, sungguh, (pada semuanya itu) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memahami." (Quran, Al-Baqarah: 164).

Allah juga menunjukkan kebesaran-Nya dengan menciptakan tujuh lapisan langit yang saling bertumpuk dan menempatkan matahari sebagai sumber cahaya serta bulan sebagai cahaya yang meneranginya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan makhluk hidup di bumi dan mengendalikan angin serta awan antara langit dan bumi sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya. Seperti yang Allah firmankan, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit yang tujuh lapisan dan matahari, bulan, dan bintang-bintang itu, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Dan demikian (pula) dalam penciptaanmu yang bermacam-macam bahasa dan warna; sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki pengetahuan." (Quran, Al-Rum: 22-23).

Semua tanda-tanda ini menunjukkan bahwa ada Pencipta yang mengatur dan mengendalikan segala sesuatu di alam semesta ini. Keberadaan Allah adalah hakikat yang dapat dipahami oleh akal sehat, dan semua makhluk alam ini bersaksi akan keagungan-Nya. Seperti yang Allah firmankan, "Apakah ada keraguan tentang Allah, Sang Pencipta langit dan bumi?" (Quran, Ibrahim: 10).

Oleh karena itu, para nabi Allah Subhanahu wa Ta'ala diutus untuk mengajak manusia kepada tauhid, yaitu keyakinan bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Mereka tidak pernah meminta manusia untuk menyembah tuhan selain-Nya. Keyakinan ini telah tertanam dalam fitrah akal sehat manusia sejak awal kehidupan mereka.

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Mereka pasti akan menjawab, 'Allah.'" (Quran, Luqman: 25).

Allah juga berfirman, "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetapkan) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Quran, Ar-Rum: 30).

Inilah pilar pertama dari Rukun Iman dalam Islam, yaitu keyakinan akan keberadaan Allah yang Maha Esa dan keagungan-Nya dalam penciptaan alam semesta ini. Keyakinan ini adalah dasar dari seluruh ajaran Islam dan merupakan fitrah yang ada dalam setiap jiwa manusia.

Dalam konteks ini, kita menemukan dalam fitrah manusia dan bukti-bukti yang terkandung dalam Al-Quran, cukup untuk membuktikan eksistensi Allah tanpa perlu membawa bukti tambahan. Namun, demi kejelasan dan mengikuti teladan para ilmuwan, kita bisa mengatakan bahwa dalam akal budi, hal yang terjadi tidak dapat terjadi tanpa penyebab yang menghasilkannya. Kita tahu bahwa dunia ini adalah hasil dari suatu penciptaan, oleh karena itu, ada suatu Pencipta yang menyebabkan semua ini.

Ada tiga klaim dalam argumen ini:

Kita mengatakan bahwa "benda-benda tidak bisa lepas dari gerakan dan ketenangan," dan ini adalah konsep yang jelas dan tidak memerlukan pemikiran tambahan. Kita tahu bahwa semua benda, baik yang diam maupun yang bergerak, bergantung pada izin akal budi. Setiap benda diam memerlukan izin akal budi untuk bergerak, dan setiap benda bergerak memerlukan izin akal budi untuk diam. Oleh karena itu, hal-hal yang tidak terduga adalah hasil dari sesuatu yang lebih tinggi.

Kami mengatakan bahwa "mereka adalah peristiwa," dan buktinya adalah urutan mereka dan keberadaan beberapa setelah yang lainnya. Hal ini tampak dalam semua benda, baik yang kita lihat maupun yang tidak kita lihat. Tidak ada benda yang diam tanpa izin akal budi untuk bergerak, dan tidak ada benda yang bergerak tanpa izin akal budi untuk diam. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terjadi adalah hasil dari kejadian sebelumnya dan tidak akan ada yang pertama tanpa yang kedua. Jika demikian, maka keberadaan yang pertama ini harus bergantung pada yang kedua.

Kami mengatakan bahwa "apa pun yang tidak dapat melepaskan diri dari kejadian adalah peristiwa," dan buktinya adalah bahwa jika itu tidak terjadi, maka akan ada serangkaian peristiwa tanpa akhir yang tidak memiliki awal. Hal ini mustahil, karena akan ada keberadaan saat ini yang tidak pernah berakhir, dan ini adalah konsep yang mustahil. Oleh karena itu, dunia ini adalah peristiwa, dan keberadaan ini bergantung pada Yang Maha Pencipta.

Dengan argumen ini, kita dapat memahami bahwa dunia ini adalah hasil dari suatu penciptaan yang terus bergerak dan bahwa ada Suatu Pencipta yang telah menciptakan dan masih mempertahankan semuanya. Ini adalah dasar keyakinan dalam Islam dan sesuai dengan akal sehat manusia.


Aspek Kedua: Keyakinan bahwa Allah adalah Qadim (Abadi) dan tidak memiliki awal, tetapi adalah awal dari segala sesuatu. Allah bukanlah makhluk yang memiliki permulaan, tetapi adalah yang pertama sebelum segala yang hidup atau mati. Bukti dari keyakinan ini adalah bahwa jika Allah adalah makhluk yang tidak abadi, maka Dia juga memerlukan Pencipta yang menciptakannya, dan demikian seterusnya dalam rangkaian tak terbatas. Namun, ini mustahil karena akan menghasilkan rangkaian tak berujung yang tidak memiliki permulaan. Jika kita memperbolehkan bahwa ada Pencipta pertama dalam rangkaian ini, maka yang kita cari adalah Pencipta yang abadi, awal dari segalanya, dan Pencipta yang abadi inilah yang kita sebut sebagai "Pencipta Alam Semesta," "Pembuat Segalanya," "Pemula Segalanya," "Pencipta Segalanya," dan "Pembuat Segalanya."


Dengan keyakinan ini, kita memahami bahwa Allah adalah yang pertama tanpa permulaan, abadi tanpa akhir, dan adalah yang tampak dan yang tersembunyi. Tidak ada tempat bagi keberadaan-Nya yang tidak ada atau dihilangkan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kita percaya bahwa Allah adalah awal dan akhir segalanya, dan jika Dia tidak ada, tidak akan ada sesuatu pun yang ada. 

Aspek Ketiga: Keyakinan bahwa Allah adalah Yang Transenden dan tidak terbatas oleh batasan ruang. Allah tidak terbatas oleh ruang atau tempat, dan tidak bisa dibatasi oleh dimensi fisik. Bukti dari keyakinan ini adalah bahwa segala sesuatu yang memiliki tempat harus ada di dalamnya atau di luarnya, dan jika ada yang tidak ada, itu harus ada dalam sebuah tempat atau di luarnya. Dengan demikian, jika kita memungkinkan ada sesuatu yang tidak ada, kita harus memungkinkan juga ada yang tidak ada di dalam dirinya sendiri atau di luar dirinya sendiri. Namun, ini adalah pemikiran yang bertentangan dengan keyakinan bahwa Allah adalah yang pertama dan yang terakhir. Oleh karena itu, kita percaya bahwa Allah tidak terbatas oleh ruang atau tempat.

Aspek keempat: Keyakinan bahwa Allah bukanlah suatu zat yang dibentuk oleh esensi atau substansi, tetapi adalah Yang Transenden dan Sempurna. Semua zat yang dibentuk oleh substansi memiliki batasan, baik dalam hal ruang, waktu, atau sifat. Jika Allah dianggap sebagai suatu zat yang dibentuk, maka Dia akan terbatas oleh batasan-batasan tersebut, yang bertentangan dengan keyakinan akan kesempurnaan-Nya. 

Aspek Kelima: Keyakinan bahwa Allah bukanlah suatu entitas fisik yang terdiri dari bagian-bagian. Kita tidak percaya bahwa Allah adalah suatu entitas yang terdiri dari bagian-bagian fisik seperti benda-benda lainnya. Bagian-bagian fisik adalah ciri-ciri dari sesuatu yang terbentuk dan terbatas, sedangkan Allah adalah Yang Transenden dan tidak terbatas oleh dimensi fisik. Menganggap Allah sebagai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian fisik adalah kesalahan dalam penggunaan istilah, meskipun pemahaman tentang sifat-Nya tetap benar.


Aspek Keenam: Keyakinan bahwa Allah  terbatas oleh ruang atau tempat, dan Dia bukanlah entitas yang dapat menjadi bagian dari objek fisik. Allah adalah Yang Maha Transenden, dan konsep tentang "ruang" dan "tempat" tidak dapat diterapkan pada-Nya. Ini karena ruang dan tempat terkait dengan objek fisik, dan Allah bukanlah objek fisik. Allah adalah yang pertama dan tidak terbatas oleh batasan fisik, dan konsep tentang Dia berada dalam suatu tempat adalah suatu pemahaman yang tidak tepat.

Asas Ketujuh: Keyakinan bahwa Allah adalah Maha Transenden dan tidak terikat oleh arah atau lokasi fisik. Allah tidak dapat dihubungkan dengan arah tertentu seperti atas, bawah, kanan, kiri, depan, atau belakang. Ini karena Allah adalah Yang Maha Transenden dan tidak terbatas oleh dimensi fisik. Konsep tentang Allah sebagai sesuatu yang memiliki arah fisik adalah suatu pemahaman yang tidak tepat. Konsep tentang arah atau lokasi fisik adalah berlaku hanya untuk objek-objek fisik.

Aspek Kedelapan: Keyakinan bahwa Allah bersemayam di atas 'Arsy (Singgasana-Nya) adalah sesuai dengan makna yang dikehendaki oleh Allah, yang tidak bertentangan dengan sifat-Nya yang Maha Agung dan tidak melibatkan sifat-sifat penciptaan atau perubahan. Allah bersemayam di atas 'Arsy sebagai tanda keagungan-Nya, bukan sebagai sesuatu yang mengimplikasikan kesamaan dengan makhluk atau batasan fisik. Allah bersemayam di atas 'Arsy dengan cara yang sesuai dengan kekuasaan-Nya, tanpa melibatkan perubahan atau pergerakan fisik.

Aspek Kesembilan: Keyakinan bahwa Allah adalah Maha Transenden dan tidak terkait dengan bentuk fisik, ukuran, atau arah. Meskipun Allah tidak terkait dengan ruang dan dimensi fisik, di akhirat, kita akan melihat Allah dengan mata dan penglihatan yang berbeda dari penglihatan di dunia. Hal ini sesuai dengan ayat yang menyatakan bahwa pada hari itu, wajah-wajah akan berseri-seri, menatap Tuhan mereka (QS. Al-Qiyamah: 22-23). Ini adalah pemahaman bahwa dalam keadaan setelah kematian, Allah akan memberikan kemampuan bagi manusia untuk melihat-Nya dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya.

Namun, pemahaman ini tidak dapat diterapkan pada kehidupan dunia, seperti yang dijelaskan dalam ayat bahwa "Mata manusia tidak dapat mencapainya (Allah), dan Dia mencapai mata manusia" (QS. Al-An'am: 103). Jadi, Allah memiliki pemahaman yang berbeda dalam keadaan setelah kematian yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam pengalaman manusia di dunia ini.

Aspek Kesepuluh: Keyakinan bahwa Allah adalah Satu-satunya Tuhan, tidak memiliki sekutu atau lawan. Allah adalah Yang Maha Tunggal dalam penciptaan, kejadian, dan penciptaan. Tidak ada yang menyamai atau menandingi-Nya dalam kekuasaan dan otoritas. Ini tercermin dalam firman Allah, "Seandainya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu rusak binasa" (QS. Al-Anbiya: 22). Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa jika ada lebih dari satu ilah, maka akan ada konflik dan kekacauan. Oleh karena itu, keyakinan dalam kesatuan dan ke-Tunggal-an Allah adalah prinsip mendasar dalam Islam.

Semua asas di atas mengilustrasikan keyakinan dasar dalam Islam bahwa Allah adalah Yang Maha Transenden, tidak terikat oleh dimensi fisik atau pengalaman manusia di dunia ini. Allah adalah Yang Maha Kuasa, Maha Tunggal, dan tidak ada yang setara dengan-Nya.






Komentar