Etika Pelajar dalam Mencari Ilmu




Ke-Outline 

Ke sumber asli

Kata Pengantar

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyampaikan sebuah artikel yang kami harapkan dapat memberikan manfaat dan wawasan bagi pembaca sekalian. Dalam kesempatan ini, dengan rendah hati dan semangat belajar yang tinggi, penulis ingin berbagi pemikiran dan pandangan mengenai perjalanan spiritual dalam konteks yang mendalam dan bermakna.

Artikel ini merujuk pada karya monumental Ihya Ulumuddin, sebuah karya besar yang dirangkum oleh Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Karya ini telah menjadi sumber inspirasi dan tuntunan bagi banyak generasi dalam menggapai kesempurnaan dalam hidup dan agama. Namun, penulis sadar betul akan keterbatasannya, terutama dalam hal pengetahuan dan pemahaman. Sebagai manusia yang terus belajar, penulis menyadari bahwa artikel ini mungkin memiliki kekurangan atau bahkan tidak sepenuhnya sejalan dengan referensi yang diambil dari Ihya Ulumuddin.

Oleh karena itu, atas nama penulis, kami ingin dengan tulus memohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian dalam tulisan ini. Meskipun begitu, penulis menghimbau kepada pembaca untuk senantiasa bersikap kritis dan mencari perbandingan dengan sumber lain atau bahkan langsung merujuk pada referensi aslinya. Lebih dari itu, kami ingin menegaskan pentingnya belajar dari seorang guru yang memiliki sanad ilmu yang sahih, terutama ketika mendalami Ihya Ulumuddin.

Kami berharap artikel ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi siapa pun yang membacanya. Meskipun kami menyadari bahwa artikel ini memiliki keterbatasan, kami berdoa semoga setiap kata yang kami tulis dapat menginspirasi, merangsang pemikiran, dan mengantarkan kepada kebaikan yang lebih besar.


Bab Kelima: Etika Pelajar  dalam Mencari Ilmu


Bab kelima mengenai etika pelajar dan pengajar memiliki peran penting dalam memastikan keefektifan proses pembelajaran dan transfer pengetahuan dengan benar. Pelajar harus memegang tanggung jawab dan tugas-tugas banyak yang berkaitan dengan perilaku dan etika mereka, dan ini akan kita bahas dalam artikel ini dengan mengacu pada referensi yang disebutkan.

Tugas pertama pelajar adalah membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan atribut yang tercela. Ilmu harus menjadi bentuk ibadah hati dan doa yang rahasia, di mana pelajar berusaha membersihkan hati dan batinnya serta mendekatkan diri kepada Allah. Sama seperti shalat tidak lengkap kecuali setelah tubuh dibersihkan dari kotoran dan najis, demikian pula ibadah hati dan perkembangannya melalui pengetahuan memerlukan hati yang bersih dari akhlak buruk dan sifat-sifat negatif.

Dalam konteks ini, pelajar harus mengatur hubungannya dengan pengetahuan dan ilmu dengan niat yang murni dan mulia. Mereka harus menghindari kesombongan dan sikap sombong, serta menjaga kerendahan hati dan pengakuan bahwa mereka selalu dalam tahap pembelajaran dan perkembangan. Adab-adab ini muncul dari petunjuk-petunjuk Islam yang mengajarkan untuk memperkuat jiwa dan memperbaiki akhlak melalui ilmu dan pembelajaran.

Pada akhirnya, jelas bahwa adab-adab yang harus diikuti oleh pelajar mencerminkan spiritualitas mendalam yang mendorong membersihkan hati dan jiwa sebelum mencapai perkembangan ilmiah. Pelajar harus berupaya agar hati mereka bersih dari kotoran akhlak dan mengarahkan diri kepada Allah dengan niat tulus dalam perjalanan terus-menerus mereka menuju ilmu dan pembelajaran.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ: "Agama dibangun di atas kebersihan." Hal ini berlaku baik dari segi batin maupun lahir. Allah SWT juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis." Ini adalah peringatan bagi akal bahwa kebersihan dan kotoran tidak terbatas pada hal-hal yang dapat dirasakan oleh indera. Seorang musyrik mungkin memakai pakaian bersih dan tubuhnya dicuci, namun hatinya tetap tercemar dan najis, yakni batinnya ternoda oleh kejelekan.

Najis adalah segala sesuatu yang harus dihindari dan dijauhi, terutama sifat-sifat buruk dalam batin. Meskipun sifat-sifat buruk ini mungkin tidak terlihat pada awalnya, namun akibatnya bisa merusak di akhirat. Oleh karena itu, Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada anjing di dalamnya." Dalam konteks ini, "hati" adalah rumah tempat malaikat bersemayam dan berkembang, sementara sifat-sifat buruk seperti kemarahan, hawa nafsu, kebencian, iri, kesombongan, dan keheranan adalah "anjing" yang mengganggu kedamaian hati. Oleh karena itu, bagaimana mungkin malaikat akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan sifat-sifat buruk tersebut?

Hati dianggap sebagai rumah yang dihuni oleh malaikat-malaikat suci, dan cahaya ilmu tidak akan masuk ke dalam hati kecuali melalui perantara malaikat. Seperti firman Allah SWT, "Dan tidaklah patut bagi seseorang, bahwa Allah berbicara dengan dia melainkan dengan wahyu atau dari belakang tabir atau Dia mengutus seorang utusan lalu dia memberi wahyu dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki." Oleh karena itu, pengetahuan dan rahmat dari Allah disampaikan ke dalam hati oleh malaikat yang diamanahkan untuk itu.

Dalam hal ini, penting untuk diingat bahwa pengetahuan yang bermanfaat dan terberkati hanya akan dimasukkan ke dalam hati yang suci dan bersih. Hati yang bersih dari sifat-sifat negatif inilah yang menjadi tempat yang layak bagi rahmat ilmu untuk berkembang. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk membersihkan hati dari sifat-sifat buruk dan mengarahkannya ke arah cahaya ilmu dan kesucian.

Referensi:

(Hadis Nabi Muhammad ﷺ dan ayat Al-Quran sesuai referensi yang disebutkan)

Dalam pandangan ini, kita harus menyadari bahwa hati yang penuh dengan kemarahan, keinginan jahat terhadap dunia, kecenderungan untuk berpura-pura dan bertindak licik dalam dunia, serta keinginan untuk menghancurkan harga diri orang lain, ibarat anjing dalam makna, meskipun wujudnya adalah hati. Cahaya penglihatan itu melihat makna bukan gambar. Gambar-gambar dalam dunia ini lebih dominan daripada makna-makna, sedangkan makna-makna itu bersifat batin. Namun, di akhirat, makna-makna akan mengikuti gambar-gambar dan menguasai atasnya. Oleh karena itu, setiap individu akan dihisab berdasarkan makna batinnya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ, "Maka orang yang mengoyak harga diri orang lain akan dihisab sebagai anjing yang merusak, orang yang berniat jahat terhadap harta mereka akan dihisab sebagai serigala biasa, orang yang membanggakan diri pada mereka dalam bentuk gambaran akan dihisab sebagai harimau, dan orang yang ingin menjadi pemimpin dalam bentuk gambaran akan dihisab sebagai singa." Berbagai riwayat dan kabar telah menyebutkan hal ini, dan para ulama yang memiliki wawasan spiritual mengambil hikmah darinya.

Penting untuk diingat bahwa pandangan ini menggarisbawahi nilai penting kebersihan hati dan kejujuran batin dalam hidup. Menciptakan kedamaian batin dan menjaga hati dari sifat-sifat negatif adalah langkah penting dalam meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, kita diingatkan untuk senantiasa membersihkan hati kita dari sifat-sifat buruk dan berusaha untuk memuliakan dan menghormati hati kita sebagai rumah ilmu dan cahaya spiritual.

Referensi:

(Dikutip dari sumber yang disebutkan dalam teks sebelumnya)

Tugas kedua adalah mengurangi keterikatan terhadap dunia dan menjauh dari urusan keluarga dan tanah air. Karena keterikatan adalah sesuatu yang memakan waktu dan mengalihkan perhatian, Allah SWT berfirman, "Dan Allah tidak menjadikan bagi seorang laki-laki dua hati dalam tubuhnya." Walaupun pikiran tersebar dalam berbagai arah, hal ini dapat membuat kita terhalang untuk memahami hakikat-hakikat yang lebih dalam. Oleh karena itu, ada pepatah yang mengatakan, "Ilmu tidak akan memberimu sebagian darinya sampai kamu memberikannya semua dirimu. Jika kamu memberikan semua dirimu, maka kamu akan menerima sebagian darinya dengan resiko." Pikiran yang terpecah menjadi berbagai hal seperti tabel yang airnya terpecah dan mengeringkan tanah di satu sisi dan mengambil angin di sisi lain, akhirnya tidak akan ada yang tersisa untuk diolah dan mencapai hasil yang baik.

Hal ini mengajarkan pentingnya fokus dan pengelolaan waktu yang bijaksana. Seseorang harus berusaha untuk tidak terlalu terikat pada urusan duniawi sehingga mengalihkan perhatian dari pencarian ilmu yang bermanfaat. Di sisi lain, keterikatan berlebihan pada keluarga dan tanah air juga harus diimbangi dengan tujuan dan aspirasi yang lebih tinggi dalam mencapai pengetahuan dan ketajaman spiritual. Dengan menjaga keseimbangan antara tugas dan keterikatan ini, kita dapat menghindari pemborosan waktu dan energi yang dapat menghalangi perkembangan diri kita dalam menggapai tujuan akhir.

Tugas ketiga adalah tidak menyombongkan diri terhadap ilmu yang dimiliki dan tidak berusaha untuk menggulingkan otoritas guru, melainkan harus melepaskan kendali kepada guru secara keseluruhan dalam setiap aspek dan bersedia menerima nasehatnya seperti seorang pasien yang tidak tahu apa-apa tentang pengobatan menTugasgikuti petunjuk dokter yang peduli dan terampil.

Seorang pelajar harus rendah hati terhadap guru dan mencari keberkahan dan kehormatan melalui pelayanannya. Sebagaimana disampaikan oleh Al-Sha'bi, ketika Zaid bin Thabit sedang menghadiri pemakaman, orang menghampiri keledainya untuk naikinya. Namun, Ibn Abbas datang dan mengambil kendali keledai itu. Zaid berkata, "Biarkanlah dia, wahai Ibn 'Amirah Rasulullah ﷺ." Ibn Abbas menjawab, "Kami diperintahkan untuk berbuat demikian terhadap ulama dan orang-orang yang besar." Zaid kemudian mencium tangan Ibn Abbas dan berkata, "Kami diperintahkan untuk berbuat demikian terhadap Ahlul Bait Nabi kita ﷺ." Selain itu, Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda, "Tidak termasuk akhlak seorang mukmin untuk merendahkan diri kecuali dalam mencari ilmu." Oleh karena itu, seorang pelajar seharusnya tidak menyombongkan diri terhadap guru. Sebaliknya, jika ada orang yang menyombongkan diri terhadap guru, ia seharusnya tidak mengambil manfaat dari guru tersebut, kecuali dari mereka yang memiliki reputasi dan terkenal, dan ini merupakan tindakan bodoh. Ilmu adalah penyelamat dan sumber kebahagiaan, dan bagi siapa saja yang mencari jalan keluar dari tujuh bahaya yang mengancam, dia seharusnya tidak menghiraukan apakah petunjuk yang diberikan dikenal atau tidak. Karena kecerdasan yang dibawa oleh ilmu selalu bermanfaat, baik dia diberikan oleh seseorang yang terkenal atau tidak dikenal.

Jika kamu bertanya: "Tetapi Allah SWT telah berfirman, 'Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kamu tidak mengetahui.'" Apakah bertanya itu diperintahkan?

Maka pahamilah, bahwa memang diperintahkan, tetapi hanya dalam hal yang diperbolehkan oleh guru. Jika kamu bertanya tentang hal-hal yang melebihi pemahamanmu, maka itu akan menjadi cemoohan. Itulah sebabnya Khidir melarang Musa AS untuk bertanya. Ia mengatakan, "Tinggalkan pertanyaan sebelum waktunya. Seorang guru lebih tahu tentang apa yang kamu mampu pahami dan tentang waktu untuk mengungkapkannya."

Jika waktu untuk mengungkapkan ilmu tersebut belum tiba pada setiap tingkat dari tingkatan kesadaran, maka waktu untuk bertanya juga belum tiba.

Ali bin Abi Talib ra berkata, "Hak seorang alim adalah kamu tidak terlalu banyak bertanya kepadanya, jangan merendahkan diri ketika dia menjawab, jangan memaksa jawaban ketika dia malas, jangan menarik pakaiannya ketika dia berdiri, jangan membuka rahasia di depannya, jangan menggunjingkan orang di hadapannya, jangan mencari-cari kelemahannya. Jika dia melakukan kesalahan, terimalah permintaan maafnya. Anda harus menghormatinya dan memuliakannya demi Allah selama dia menjaga amanah Allah. Jangan duduk di depannya, dan jika dia membutuhkan bantuan, maka berikan bantuan sebelum orang lain mendahuluimu."

Ini menggarisbawahi pentingnya memperlakukan para ulama dengan hormat dan kesederhanaan. Bertanya adalah suatu hal yang sah dan bermanfaat, tetapi harus dilakukan dengan penuh pertimbangan, menghormati posisi guru, dan memahami kapan saat yang tepat untuk bertanya. Sikap rendah hati dan penghargaan terhadap para ulama adalah kunci dalam mendapatkan manfaat dan wawasan yang sebenarnya dari ilmu mereka.

Tugas keempat adalah untuk menjauhkan diri dari mempertimbangkan perbedaan pendapat manusia dalam perkara awal ilmu. Hal ini berlaku baik dalam ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Mencoba menyelami ilmu yang melebihi tingkat pemahaman awal akan membuat pikiran terkejut, benak terbingung, dan pendapat menjadi goyah, bahkan dapat merendahkan semangat untuk memahami dan memperoleh pemahaman yang lebih luas. Lebih baik memahami terlebih dahulu dasar yang solid yang disepakati oleh guru, lalu setelah itu memeriksa berbagai mazhab dan pandangan.

Jika guru bukanlah seorang yang memiliki pendapat independen dan hanya mengikuti berbagai mazhab, maka hendaknya berhati-hati terhadapnya. Karena sering kali kesesatan yang diakibatkan oleh pengikut mazhab lebih parah daripada petunjuknya. Orang buta tidak bisa mengarahkan orang buta lainnya. Oleh karena itu, orang seperti ini berada dalam kegelapan kebingungan dan kebodohan. Menghindari keraguan adalah setara dengan melarang seorang yang baru masuk Islam untuk bergaul dengan orang kafir, dan mengajak yang kuat untuk memeriksa perbedaan adalah setara dengan mengajak yang kuat untuk bergaul dengan orang kafir. Inilah sebabnya orang pengecut dilarang menyerang barisan kafir, sementara yang berani didorong untuk melakukannya.

Beberapa orang yang lemah beranggapan bahwa mengikuti orang-orang kuat dalam hal apa yang dipandang mudah, adalah diperbolehkan. Namun, mereka tidak menyadari bahwa tanggung jawab orang kuat berbeda dengan tanggung jawab orang lemah.

Ada yang pernah berkata, "Siapa yang melihatku di awal, dia menjadi temanku. Siapa yang melihatku di akhir, dia menjadi kafir." Hal ini karena akhir dari segala perbuatan akan kembali kepada niat batin dan tindakan dalam hati, kecuali untuk tugas wajib yang telah dikenal. Hal ini terlihat bagi mereka yang memperhatikan bahwa pekerjaan tersebut terlihat sia-sia, malas, dan diabaikan. Namun, ini hanyalah pemantauan hati dalam keadaan kesaksian dan kehadiran serta tetap mengingat Allah. Sikap seperti ini menggambarkan perangai hati di hadapan mata saksi dan pengamat serta kesungguhan untuk berzikir, yang merupakan perbuatan yang paling utama yang dilakukan secara kontinu. Menyerupai yang lemah dengan yang kuat dalam apa yang terlihat olehnya sebagai kesalahan, setara dengan melarang seseorang yang baru memeluk Islam untuk bergaul dengan orang kafir. Dan mendorong yang kuat untuk memeriksa perbedaan, setara dengan mendorong orang kuat untuk bergaul dengan orang kafir. Oleh karena itu, orang pengecut dilarang menyerang barisan kafir, sedangkan yang berani diharapkan untuk melakukannya.

Tidak ada yang menyadari bahwa laut dengan kekuatannya akan mengalihkan noda pada air, sehingga noda itu kembali menjadi air. Sedangkan segumpal kecil noda dapat mengatasi wadah, dan merubahnya menjadi dirinya sendiri. Untuk kasus ini, Nabi Muhammad ﷺ diberi izin melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan bagi orang lain, yaitu menikahi sembilan istri. Ini karena kekuatannya yang melebihi sifat adil, bahkan terhadap para istri, bahkan jika mereka banyak. Namun, bagi yang lainnya, dia tidak mampu menerapkan keadilan sebagian. Dia akan melebihi dari antara mereka dalam menyakiti, sampai akhirnya dia jatuh dalam kemaksiatan Allah saat mencari kerelaan mereka. Karena itulah, orang yang mengikuti jalan para malaikat dengan penuh kesungguhan dan usaha, adalah orang yang berhasil

Tugas kelima adalah agar seorang pelajar ilmu tidak meninggalkan bidang tertentu dari ilmu yang terpuji atau jenis tertentu dari ilmu, tanpa memeriksa dan memahaminya dengan cermat agar ia dapat mengetahui tujuan dan sasaran dari ilmu tersebut. Kemudian, jika umurnya masih memungkinkan, dia harus mendalami bidang tersebut dengan lebih mendalam. Jika tidak, maka dia dapat fokus pada hal yang lebih penting dan memastikan pemahaman dasar dalam bidang tersebut, sambil memperoleh pemahaman dasar dalam bidang lainnya. Ilmu-ilmu saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain, dan beberapa ilmu terkait dengan ilmu yang lain. Maka, penting bagi seseorang untuk memiliki pemahaman yang luas agar bisa melepaskan diri dari kesalahpahaman tentang ilmu tertentu karena ketidaktahuannya. Allah berfirman, "Dan apabila mereka tidak mendapat petunjuk daripadanya, mereka akan berkata, 'Ini adalah dongeng yang sudah lama.'" (Q.S. Al-Furqan, 4).

Kemudian, ilmu-ilmu memiliki tingkatan-tingkatnya. Ada yang diambil sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau sebagai bantuan untuk memperoleh pendekatan tersebut. Setiap ilmu memiliki derajat yang berbeda dalam mencapai tujuan dan manfaatnya. Para pelaku harus menjaga diri seperti menjaga benteng dan tempat-tempat pertahanan. Setiap orang memiliki tingkatannya sendiri dan akan mendapatkan pahala yang sesuai dengan derajatnya di akhirat jika dia menjalankannya dengan niat yang ikhlas karena Allah.

Tugas keenam adalah agar seseorang tidak terjun langsung ke dalam suatu bidang ilmu dengan gegabah, melainkan memperhatikan urutannya dan memulai dengan yang yang paling penting. Jika usianya tidak mencukupi untuk menguasai semua ilmu, sebaiknya ia mengambil yang terbaik dari setiap bidang dan mencukupi dirinya dengan itu, sambil mengarahkan upayanya pada ilmu yang paling utama dan mulia, yaitu ilmu tentang akhirat. Ini merujuk pada bagian kaidah dan interaksi sosial, di mana tujuannya adalah untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi.

Namun, yang dimaksud di sini bukanlah keyakinan yang diterima oleh masyarakat awam secara turun-temurun, atau proses berdebat dalam menyempurnakan argumen untuk melawan lawan-lawannya. Yang dimaksud adalah suatu jenis keyakinan yang merupakan hasil dari cahaya yang ditanamkan oleh Allah di dalam hati hamba-Nya yang tulus dan telah menjalani usaha batin yang intens untuk menjauhkan diri dari yang tidak baik, hingga mencapai tingkat keimanan seperti yang dimiliki oleh Abu Bakar, yang jika iman seluruh umat manusia ditimbang, maka imannya akan lebih berat. Hal ini juga telah disaksikan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Oleh karena itu, apa yang diyakini oleh masyarakat awam dan yang diatur oleh orang-orang yang ahli berbicara (orator) yang hanya memiliki keahlian dalam seni berbicara, seharusnya tidak lebih dari pandangan orang awam. Mereka tidak memiliki kemampuan lebih dari itu. Hal ini membuat mereka diberi julukan "pengrajin kata-kata" karena keahlian mereka dalam berbicara. Umar, Utsman, Ali, dan semua sahabat tidak memiliki kemampuan ini. Hingga Umar memuji Abu Bakar yang memahami rahasia-rahasia yang diberikan kepadanya dan disimpan dalam hatinya.

Mengherankan melihat seseorang mendengar ucapan semacam ini dari pemegang ajaran syariat, tetapi meremehkan apa yang didengarnya dan menganggapnya sebagai khayalan sufisme yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, perlu bagi Anda untuk memperhatikan hal ini. Jika Anda mengabaikannya, maka Anda telah melewatkan modal utama. Oleh karena itu, pastikan Anda berusaha keras untuk mengenal rahasia ini yang berada di luar barang dagangan fuqaha (ahli fikih) dan orator, dan hanya hasrat Anda dalam mencari akan membimbing Anda ke arahnya.

Secara keseluruhan, ilmu yang paling utama dan tujuannya adalah mengenal Allah Yang Maha Mulia dan Agung. Dia adalah lautan yang tidak ada ujung gelombangnya. Puncak tertinggi manusia dalam hal ini adalah para nabi, kemudian wali-wali, dan seterusnya.

Ada kisah bahwa seseorang melihat dua sosok bijak dari kalangan orang-orang bijak terdahulu di dalam masjid. Salah satunya membawa selembar kertas yang bertuliskan, "Jika kamu melakukan yang terbaik dalam segala hal, jangan pernah berpikir bahwa kamu melakukan yang terbaik sampai kamu mengenal Allah dan menyadari bahwa Dia adalah penyebab segala sebab dan pencipta segala sesuatu." Yang lain membawa selembar kertas lain yang bertuliskan, "Sebelum aku mengenal Allah, aku minum dan haus. Setelah aku mengenal-Nya, aku tidak lagi merasakan haus."

Tugas ketujuh adalah untuk tidak terjun ke dalam suatu bidang keilmuan sebelum benar-benar memahami bidang ilmu sebelumnya. Ilmu-ilmu memiliki tingkatan yang harus diikuti secara berurutan, dan sebagian dari ilmu membantu menuju kepada ilmu lainnya. Orang yang berhasil adalah yang menjaga urutan dan tahapan ini. Allah berfirman, "Orang-orang yang Kami berikan Kitab kepadanya, mereka membaca kitab itu sebagaimana mestinya." Ini artinya mereka tidak melampaui satu bidang ilmu sebelum menguasainya baik dalam pemahaman maupun praktik. Dalam setiap ilmu yang dikejar, tujuannya haruslah mengarah untuk naik ke tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu, janganlah menghakimi suatu ilmu sebagai rusak hanya karena ada perbedaan pendapat di antara ahli-ahlinya, atau karena adanya kesalahan-kesalahan kecil di dalamnya, atau bahkan karena pendapat mereka yang berbeda mengenai praktik yang sesuai dengan ilmu tersebut.

Anda akan melihat sekelompok orang meninggalkan analisis berdasarkan akal dan hukum fiqih dengan alasan bahwa jika hal itu benar-benar memiliki dasar, pasti para tokoh sebelum mereka akan memahaminya. Namun, argumen semacam ini sudah dijelaskan dalam buku "Ma'yar al-Ilm" (Kriteria Ilmu). Anda juga akan menemukan sekelompok orang yang meyakini bahwa ilmu kedokteran menjadi batal karena kesalahan yang ditemui oleh seorang dokter, dan sekelompok lainnya meyakini bahwa astrologi adalah benar karena pendapat seorang tokoh. Padahal, keduanya salah. Sebaiknya seseorang memahami sesuatu itu berdasarkan substansi dan bukti, bukan hanya berdasarkan pandangan individu. Tidak semua ilmu dapat sepenuhnya dikuasai oleh satu individu. Karena itu, Ali radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Janganlah kamu mengenal kebenaran berdasarkan orang-orang, tapi kenalilah kebenaran, maka kamu akan mengenal siapa yang sesuai dengan kebenaran itu."

Ketujuh tugas ini memberikan panduan berharga bagi seorang pencari ilmu untuk memiliki sikap rendah hati, hati-hati dalam memilih bidang studi, menjaga urutan dalam mempelajari ilmu, dan selalu berupaya mengembangkan pemahaman serta praktek. Dengan memahami dan mengaplikasikan prinsip-prinsip ini, seorang pelajar akan mampu mengejar ilmu dengan cara yang benar dan bermanfaat.

Tugas kedelapan adalah untuk mengetahui sebab yang menjadikan seseorang mencapai ilmu yang paling mulia. Tujuan ini memiliki dua aspek:

Pertama, keunggulan hasil yang diperoleh dari ilmu tersebut. Kedua ,Kehandalan dan kekuatan bukti, misalnya, ilmu agama (ilmu al-din) dan ilmu kedokteran. Hasil dari ilmu agama adalah kehidupan abadi, sementara hasil dari ilmu kedokteran hanya berhubungan dengan kehidupan dunia yang sementara. Oleh karena itu, ilmu agama lebih mulia. Demikian juga, contohnya adalah ilmu matematika dan ilmu astronomi. Jika ilmu matematika lebih mulia, hal itu disebabkan oleh keandalan dan kekuatan bukti-bukti ilmunya. Meskipun ilmu astronomi berhubungan dengan ilmu kedokteran, tetapi ilmu kedokteran lebih mulia berdasarkan pada hasilnya, sementara ilmu matematika lebih mulia berdasarkan pada kekuatan bukti-bukti dan alasan-alasannya. Oleh karena itu, meskipun metode dalam ilmu kedokteran lebih banyak didasarkan pada dugaan, ilmu kedokteran tetap lebih mulia.

Dengan demikian, tampak bahwa ilmu paling mulia adalah pengetahuan tentang Allah Azza wa Jalla, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, serta pengetahuan tentang jalan yang menghubungkan ke ilmu-ilmu ini. Oleh karena itu, hindarilah tergoda oleh ilmu lain atau berusaha mencapai ilmu lainnya selain daripada ini. Hendaknya kamu hanya menginginkan dan mencari ilmu yang mencakup hal-hal ini.

Tugas kesembilan adalah bahwa niat seorang pelajar, pada setiap saat, haruslah untuk membersihkan dan mempercantik batinnya dengan keutamaan serta mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan meningkatkan derajat kehadapan malaikat-malaikat yang paling tinggi dan orang-orang yang mendekat kepada-Nya. Dia tidak boleh bermaksud untuk mencari kedudukan, harta, kekuasaan, bergaul dengan orang-orang yang bodoh, atau memamerkan diri di hadapan teman sebaya. Jika ini adalah tujuannya, maka ia harus mencari ilmu yang paling mendekat kepada tujuannya, yaitu ilmu akhirat. Namun, dalam hal ini, dia tidak boleh meremehkan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu fatwa, ilmu tata bahasa, dan ilmu bahasa yang berkaitan dengan Kitab dan Sunnah, serta ilmu-ilmu lainnya yang telah kita sebutkan dalam pembahasan tentang jenis-jenis ilmu yang merupakan kewajiban berdasarkan kemampuan (fard kifayah).

Jangan mengira bahwa kami melebih-lebihkan pujian terhadap ilmu akhirat untuk meremehkan ilmu-ilmu lainnya. Mereka yang mengejar ilmu adalah seperti orang-orang yang menjaga perbatasan, mempertahankan benteng-benteng, dan berjuang di jalan Allah. Di antara mereka ada yang bertempur, ada yang bertahan, ada yang memberi mereka minum, ada yang menjaga hewan mereka, dan setiap tindakan mereka memiliki pahala jika niatnya adalah untuk mengagungkan kalimat Allah tanpa mengharapkan jarahan. Begitu pula para ulama, Allah Azza wa Jalla berfirman, "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11). Demikian juga, keutamaan adalah relatif.

Tidak adanya penghormatan kita terhadap tukang besi ketika mereka dibandingkan dengan raja-raja tidak mengindikasikan bahwa mereka rendah derajatnya. Begitu pula dengan penurunan pangkat yang paling tinggi tidak menjadikan derajatnya hina, sebab derajat tertinggi adalah milik para nabi, kemudian wali-wali Allah, lalu para ulama yang kuat dalam ilmu, kemudian para orang yang saleh dengan tingkatan yang berbeda-beda. Secara keseluruhan, Allah berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Az-Zalzalah: 7-8). Siapa pun yang mengarahkan niatnya kepada Allah Ta'ala dalam menuntut ilmu, maka ilmu apapun yang dia kejar akan mendatangkan manfaat dan kemuliaan bagi dirinya, tanpa ragu-ragu.

Tugas kesepuluh adalah untuk mengetahui sejauh mana ilmu berkaitan dengan tujuan yang diinginkan, seperti bagaimana hal-hal yang tinggi dan dekat mempengaruhi hal-hal yang jauh dan penting mempengaruhi hal-hal yang lain. "Yang penting" dalam hal ini merujuk pada apa yang penting bagi Anda. Anda hanya harus memperhatikan urusan Anda sendiri, baik dalam dunia maupun akhirat. Jika Anda tidak dapat menggabungkan antara tujuan dunia dan kenikmatan akhirat seperti yang disebutkan dalam Al-Quran dan dinyatakan oleh cahaya penglihatan yang telah terjadi, maka yang paling penting adalah apa yang akan abadi selamanya. Pada saat itu, dunia hanya menjadi tempat tinggal, tubuh menjadi sarana, dan segala tindakan adalah usaha menuju tujuan. Tujuan yang sesungguhnya hanya bertemu dengan Allah Ta'ala, dan dalam pertemuan tersebut terkandung segala nikmat. Namun, banyak orang hanya mengetahui nilai sejati dalam dunia ini yang hanya sedikit.

Ilmu adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan dalam pertemuan dengan Allah dan melihat wajah-Nya yang mulia. Pertama, ini adalah pandangan yang dicari oleh para nabi dan mereka yang memahaminya tanpa panduan sebelumnya. Ilmu memiliki tiga tingkatan yang dapat Anda pahami melalui perumpamaan. Misalnya, seorang hamba yang telah membebaskan dirinya dan diberikan kemampuan untuk berhaji. Dia diberitahu bahwa jika Anda menunaikan haji dan melaksanakannya dengan sempurna, Anda akan mencapai pembebasan dan kepemilikan penuh. Tetapi, jika Anda memulai perjalanan haji dan berada dalam persiapan, dan kemudian ada penghalang yang membuat Anda terjebak dalam perjalanan, maka hanya kebebasanlah yang akan Anda peroleh, tanpa kepemilikan penuh yang diinginkan. Oleh karena itu, ada tiga jenis pekerjaan yang dapat diambil.

Pertama, mempersiapkan sarana seperti membeli unta, perbekalan, dan persiapan perjalanan. Kedua, melanjutkan perjalanan menuju Ka'bah dari tempat tinggal. Ketiga, melibatkan diri dalam tindakan-tindakan haji, langkah demi langkah, hingga akhirnya melepaskan pakaian ihram dan menyelesaikan tawaf wada'. Tindakan ketiga ini pantas diberikan perhatian terhadap kepemilikan dan otoritas. Dari persiapan awal sampai akhir, dari perjalanan awal hingga akhir, dan dari tindakan haji awal hingga akhir. Tidak ada keutamaan dalam mendekati hakikat dari tindakan haji yang lebih dekat dengan kebahagiaan seperti orang yang memulai dari tahap persiapan, atau yang lebih dekat dengan tahap perjalanan, bahkan lebih dekat dari itu. Ilmu juga memiliki tiga bagian yang sejalan dengan langkah-langkah di atas.

Bagian pertama adalah ilmu yang mempersiapkan sarana, seperti ilmu kedokteran dan ilmu fiqh, serta ilmu yang berkaitan dengan kesehatan fisik di dunia.

Bagian kedua adalah ilmu yang sesuai dengan langkah-langkah perjalanan dan mengatasi hambatan, yaitu membersihkan batin dari siklus sifat-sifat buruk dan mengatasi hambatan yang besar yang hanya bisa diatasi oleh mereka yang mendapat bimbingan Allah. Ini adalah langkah dalam perjalanan dan mendapatkan ilmu seputar langkah-langkah perjalanan dan tahap-tahapnya.

Seperti halnya ilmu tentang tahapan dan rute perjalanan tidak akan cukup tanpa mengikuti rute tersebut, demikian pula ilmu tentang tata krama etika tidak akan cukup tanpa melakukan perbaikan diri, tetapi melakukan perbaikan tanpa ilmu tidak mungkin.

Bagian ketiga adalah ilmu tentang Allah Ta'ala, sifat-sifat-Nya, malaikat-malaikat-Nya, perbuatan-Nya, dan semua yang telah kita sebutkan dalam perbincangan tentang pemahaman yang mendalam. Di sini, ada keselamatan dan keberhasilan dalam mencapai kebahagiaan. Keselamatan dapat dicapai oleh semua yang memilih jalur ini jika tujuannya benar-benar mencari kebenaran, yang pada akhirnya adalah keselamatan.

Namun, kebahagiaan sesungguhnya hanya bisa dicapai oleh mereka yang benar-benar mengenal Allah Ta'ala, yang berada dalam kedudukan dekat dan diberkati di sisi-Nya, di antara roh dan bunga-bunga surga kenikmatan. Sedangkan bagi mereka yang tidak mencapai puncak kesempurnaan, mereka akan mendapatkan keselamatan dan perlindungan, seperti firman Allah Ta'ala, "Adapun jika ia termasuk orang-orang yang mendekat kepada Allah, maka (baginya) adalah kesenangan dan bunga-bunga surga kenikmatan. Adapun jika ia termasuk golongan kanan, maka keselamatan bagimu dari golongan kanan" (QS. Al-Waqi'ah [56]: 88-89).

Namun, bagi mereka yang tidak berupaya mencapai tujuan sejati dan tidak berusaha sepenuh hati atau yang berusaha hanya demi tujuan sesaat, mereka termasuk golongan kiri yang sesat, mereka akan mendapatkan tempat di air mendidih dan tempat penuh siksaan.

Dan ketahuilah bahwa ini adalah hak keyakinan yang dimiliki oleh para ulama yang memiliki pemahaman yang kuat. Maksudnya adalah bahwa mereka telah merasakannya melalui pengalaman batin yang lebih kuat dan lebih jelas daripada pengalaman visual, dan mereka telah melepaskan diri dari tingkat peniruan semata hanya karena mendengar. Keadaan mereka serupa dengan orang yang mendengar informasi, lalu ia membenarkannya, kemudian ia menyaksikan secara langsung dan memverifikasinya. Sementara yang lain adalah seperti orang yang sebelumnya telah meyakini dan beriman dengan baik, namun belum berkesempatan melihat dan menyaksikan.

Kebahagiaan ada di belakang ilmu mukasyafah (penyingkapan rahasia Allah), dan ilmu mukasyafah ada di belakang ilmu mua'malah (ilmu etika) yang merupakan langkah dalam perjalanan menuju akhirat dan mengatasi hambatan-hambatan sifat-sifat buruk. Langkah-langkah dalam menghilangkan sifat-sifat buruk ada di belakang ilmu sifat-sifat buruk itu sendiri. Ilmu tentang cara mengobati dan langkah-langkahnya ada di belakang ilmu keselamatan tubuh dan bantuan faktor-faktor kesehatan.

Keselamatan tubuh diperoleh melalui interaksi, penampilan, dan kerjasama yang memungkinkan seseorang mendapatkan pakaian, makanan, dan tempat tinggal. Ini terkait dengan keberadaan pemerintah dan hukumnya dalam mengatur masyarakat sesuai dengan prinsip keadilan dan politik dalam pandangan seorang faqih.

Sementara faktor-faktor kesehatan berkaitan dengan bidang kedokteran, dan ada yang mengatakan, "Ilmu ada dua jenis: ilmu tentang tubuh dan ilmu tentang agama." Dengan ini, mereka merujuk kepada ilmu-ilmu yang nyata dan umum, bukan ilmu-ilmu khusus yang lebih mendalam.

Jika Anda bertanya, "Mengapa Anda membandingkan ilmu kedokteran dan ilmu agama dengan persiapan perjalanan dan perbekalan?" Maka tahu bahwa mereka yang berusaha mencapai Allah Ta'ala untuk mendekat kepada-Nya adalah hati, bukan tubuh fisik. Namun, saya tidak bermaksud hati dalam artian fisik yang terlihat, tetapi lebih kepada esensi yang ada di dalamnya, suatu rahasia Allah yang tidak bisa dicapai oleh indera, dan ini adalah suatu kehalusan di antara kehalusan-kehalusan-Nya. Kadang-kadang disebut dengan istilah "ruh", kadang-kadang disebut dengan "jiwa yang tenang". Syariat menyebutnya sebagai "hati" karena itu adalah tahap awal menuju rahasia tersebut, dan melalui tahap ini seluruh tubuh menjadi sarana dan alat untuk mencapai kehalusan tersebut. Pengungkapan rahasia ini dalam ilmu mukasyafah merupakan hal yang pasti, bahkan tidak boleh dirahasiakan, dan tujuan akhir izin ini adalah untuk mengatakan bahwa itu adalah inti yang mulia, harta yang berharga, lebih mulia daripada benda-benda jasmani yang terlihat. Namun, itu adalah urusan ilahi, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku'" (QS. Al-Isra [17]: 85). Semua makhluk mengacu kepada Allah Ta'ala, tetapi tingkat hubungannya lebih mulia daripada tingkat hubungan semua bagian tubuh, karena Allah adalah pencipta dan pengaturan semua hal, dan hukum-Nya lebih tinggi daripada makhluk-Nya.

Dan inti yang berharga ini, yang membawa amanat Allah Ta'ala, mendahului langit dan bumi, bahkan gunung-gunung, menampakkan bahwa mereka enggan untuk menggendongnya dan takut akan hal itu, berasal dari pengetahuan akan urusan ini. Namun, hal ini tidak boleh diartikan bahwa roh-roh memiliki fisik. Orang yang mengklaim bahwa roh memiliki fisik adalah orang yang sombong dan tidak tahu apa yang ia katakan. Kita akan meninggalkan bidang ini karena itu melampaui yang kita bahas sebelumnya. Yang dimaksud adalah bahwa halusinasi ini adalah yang mencoba mendekat kepada Tuhan, karena itu berasal dari Allah dan kembali kepada-Nya.

Sedangkan tubuh, yang menjadi alat bagi ruh untuk bergerak dan melakukan tindakan, tubuh adalah kendaraan dalam perjalanan menuju Allah Ta'ala seperti unta yang menjadi kendaraan dalam perjalanan haji dan seperti penjaga air yang disimpan untuk kebutuhan tubuh. Setiap jenis ilmu memiliki manfaat bagi tubuh, maka termasuk dalam manfaat tunggangan.

Tidak ada keraguan bahwa bidang kedokteran juga demikian. Meskipun mungkin seseorang tidak membutuhkannya jika ia hidup seorang diri, tetapi dia diciptakan dalam bentuk yang tidak bisa hidup sendiri. Dia tidak bisa mengandalkan usaha sendirian dalam mencari makanan, melakukan pertanian, memasak, dan mencari pakaian serta tempat tinggal. Dia memerlukan interaksi dan bantuan.

Meskipun orang bersama-sama dan nafsu mereka bergolak, mereka saling menarik dengan dorongan nafsu, saling bersaing, berperang, dan dari pertempuran ini, mereka mengalami kehancuran baik karena persaingan dari luar maupun karena pertentangan dalam pencampuran bahan di dalam. Kedokteran menjaga keseimbangan dalam pencampuran bahan di dalam, sedangkan politik dan keadilan menjaga keseimbangan dalam persaingan dari luar. Ilmu tentang jalan menuju keseimbangan dalam pencampuran bahan adalah ilmu kedokteran, sedangkan ilmu tentang jalan menuju keseimbangan dalam interaksi manusia dalam perbuatan dan tindakan adalah ilmu agama.

Semua ini untuk menjaga tubuh, yang berfungsi sebagai tunggangan. Seseorang yang hanya mengikuti ilmu agama atau kedokteran tanpa berupaya memperbaiki dirinya sendiri dan menyucikan hatinya, sama seperti seseorang yang hanya membeli unta dan memberinya makan, atau membeli penjaga air dan menaruhnya tanpa memimpinnya ke jalan perjalanan haji.

Dan orang yang menghabiskan hidupnya dalam pembicaraan yang panjang di dalam bidang ilmu agama seperti orang yang menghabiskan hidupnya dalam persiapan alat-alat yang menjadi kendaraan haji. Persentase orang-orang ini yang mencapai kesempurnaan dalam perjalanan menuju perbaikan hati yang mengarah kepada ilmu mukasyafah, serupa dengan persentase orang-orang yang mencapai kesempurnaan dalam perjalanan menuju haji atau dalam menjalani rukun-rukunnya.

Pertimbangkanlah hal ini dengan seksama, dan terimalah nasehat ini secara gratis dari seseorang yang telah merasakannya, biasanya setelah usaha yang panjang dan tekad yang kuat untuk melawan arus masyarakat umum dan khusus, dan tidak terikat pada peniruan semata karena keinginan. Jumlah ini sudah cukup dalam fungsi-fungsi seorang pembelajar.

Kata Penutup


Dengan niat tulus dan penuh kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca artikel ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kemampuan untuk terus belajar, tumbuh, dan berkontribusi bagi kebaikan umat manusia.

Kami juga ingin memohon doa kepada semua, agar Allah SWT mengampuni segala kesalahan dan kekurangan yang ada dalam tulisan ini. Kami juga memohon doa agar penulis dan pembaca semua diberikan kemudahan dalam menggapai kesempurnaan dalam hidup dan mendapatkan keberkahan-Nya di setiap langkah yang diambil. Semoga kita semua bisa menjalani hari-hari mendatang dengan penuh cahaya dan rahmat-Nya.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Referensi: kitab ihya Ulumuddin

 الباب الخامس في آداب المتعلم والمعلم

Komentar