الفصل الأول في ترجمة عقيدة أهل السنة في كلمتي الشهادة التي هي أحد مباني الإسلام..... إلى قوله. .... بل {هُوَ الأوَّلُ والآخِرُ والظَّاهِرُ والبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيءٍ عَليمٍ}.
Aqidah Ahlus Sunnah dalam Kalimat Syahadat: Landasan Islam
Dalam bab ini, kita akan membahas tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam kalimat syahadat yang merupakan salah satu dasar-dasar dalam agama Islam. Kalimat syahadat ini menjadi pondasi penting bagi umat Islam dalam mengakui keesaan Allah serta menjalankan ajaran-Nya.
Pertama-tama, marilah kita memuji Allah yang adalah sumber permulaan, pelopor segala yang ada, pemilik kekuasaan yang agung, serta pengendali yang kokoh. Dialah yang membimbing hamba-hamba pilihan-Nya menuju jalan yang lurus, serta memberikan petunjuk kepada mereka untuk mengikuti ajaran yang benar dan jalan yang diredhai-Nya. Allah telah memberikan nikmat kepada mereka setelah mengucapkan syahadat tauhid, dengan menjaga keyakinan mereka dari keraguan dan keraguan yang muncul. Allah membimbing mereka untuk mengikuti jejak Rasul-Nya yang terpilih, Muhammad ﷺ, serta mengambil teladan dari para sahabat yang mulia, yang telah diberi kehormatan dengan pertolongan dan bimbingan-Nya.
Allah menampakkan diri-Nya kepada mereka melalui sifat-sifat-Nya yang agung dan perbuatan-Nya yang penuh kebaikan. Namun, hanya mereka yang mendengar dengan hati yang bersaksi yang dapat memahami sifat-sifat tersebut. Allah dikenal oleh mereka sebagai satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, unik dan tak tertandingi. Allah adalah satu yang tiada awal dan tiada akhir, kekal dan tak terbatas. Dia tetap dalam keberadaan-Nya tanpa akhir dan tanpa batas. Dia adalah Pencipta yang berdiri sendiri, tidak tergantung pada siapa pun. Dia senantiasa dihiasi dengan sifat-sifat keagungan, yang tidak akan berkurang atau berubah seiring berlalunya waktu.
Seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya, "Dia adalah yang Awal dan yang Akhir, yang Nyata dan yang Ghaib, dan Dia Maha Mengetahui tentang segala sesuatu." (QS. Al-Hadid, 57:3)
Dengan demikian, aqidah Ahlus Sunnah dalam kalimat syahadat mengajarkan tentang keesaan dan keabadian Allah, serta mengajak kita untuk mengimani sifat-sifat-Nya yang agung. Dalam perjalanan hidup kita sebagai umat Islam, pemahaman yang benar terhadap aqidah ini sangatlah penting untuk memperkuat keyakinan dan ketaatan kita kepada Allah. Semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah dalam memahami dan mengamalkan aqidah yang benar sesuai dengan ajaran Rasul-Nya.
التنزيه: وأنه ليس بجسم مصور ولا جوهر محدود مقدر. ....الى قوله..... وإتماماً منه للنعيم بالنظر إلى وجهه الكريم.
Tanzih: Ketinggian Allah dari Keterbatasan
Konsep tanzih adalah pemahaman bahwa Allah berada di atas segala kekurangan dan sifat-sifat yang sesuai dengan makhluk. Allah tidak dapat didefinisikan dengan bentuk fisik atau substansi yang terbatas. Ia tidak serupa dengan makhluk dalam hal pengukuran maupun pembagian, dan tidak tergantung pada dimensi atau arah tertentu. Allah berada di atas Arasy, dalam cara yang sesuai dengan keagungan-Nya dan dengan makna yang dikehendaki oleh-Nya, tidak ada kesamaan antara-Nya dengan makhluk. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya, "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia."
Allah tidak dibatasi oleh ukuran, wilayah, arah, atau ruang. Ia berada di atas Arasy dalam cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya, melebihi batas dan dimensi apa pun. Namun, Dia tidak dipikul oleh Arasy; bahkan Arasy dan yang ada di atasnya adalah dalam genggaman-Nya.
Allah berada di atas Arasy dan langit, dan di atas segala sesuatu hingga batas bumi. Namun, kedekatan-Nya dengan Arasy dan langit tidak menambah kedekatan-Nya dengan bumi. Ia juga tetap tinggi di atas Arasy dan langit serta tinggi di atas bumi.
Meskipun Allah berada di atas segala sesuatu, Ia tetap dekat dengan setiap makhluk-Nya. Dia lebih dekat kepada hamba-Nya daripada urat nadi mereka. Ia tidak berdekatan seperti benda-benda, dan tidak ada yang menyerupai-Nya. Allah tidak terbatas oleh tempat atau terpengaruh oleh waktu; Dia ada sebelum penciptaan waktu dan tempat, dan Dia tetap ada pada kenyataannya sekarang.
Allah di atas kebutuhan ciptaan-Nya. Dia eksis dalam hakikat-Nya, dikenal oleh akal dan terlihat oleh mata yang bersih. Ini adalah nikmat dan karunia-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang saleh, di tempat kekal. Allah berada di atas perubahan atau pergerakan, tidak ada kejadian yang mempengaruhi-Nya. Dia tetap dalam sifat-sifat-Nya yang mulia, tidak ada tambahan yang diperlukan.
Pengenalan terhadap Allah dalam hakikat-Nya dapat dimengerti oleh akal, dan sifat-sifat-Nya dapat terlihat oleh mata. Ini adalah anugerah dan kemurahan-Nya bagi orang-orang saleh di tempat keputusan akhir, dan cara bagi mereka untuk merasakan kenikmatan melalui melihat wajah-Nya yang mulia.
الحياة والقدرة: وأنه تعالى حي قادر جبار قاهر لا يعتريه قصور ولا عجز، ولا تأخذه سنة ولا نوم، .....الى قوله......ولا تغير. دبر الأمور لا بترتيب أفكار ولا تربص زمان فلذلك لم يشغله شأن عن شأن.
Kehidupan dan Kemampuan Allah: Kehidupan Yang Mahakuasa
Allah Ta'ala adalah Yang Hidup, Mahakuasa, Mahaperkasa, dan Mahamenang. Tidak ada kelemahan atau kejadian yang mengatasi-Nya. Ia tidak memerlukan tidur atau istirahat, dan tidak dapat dipengaruhi oleh kepunahan atau kematian. Dia memiliki kekuasaan yang meliputi segala sesuatu, dan penguasaan mutlak. Surga-surga berada dalam genggamannya, dan makhluk-makhluk ciptaannya tunduk pada kuasa-Nya.
Allah adalah satu-satunya pencipta dan inovator. Dia adalah satu-satunya yang menciptakan makhluk-makhluk dan perbuatan-perbuatan mereka. Dia menetapkan nasib dan rezeki mereka, dan tidak ada yang melewati kekuasaan atau pengetahuan-Nya. Allah memiliki pengetahuan dan kekuasaan yang tidak terhingga.
Allah memiliki pengetahuan tentang segala hal, dari batas-batas bumi hingga langit yang paling tinggi. Dia memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya, termasuk gerakan yang paling halus. Dia mengetahui apa yang terbersit dalam hati, gerak-gerak pikiran, dan rahasia-rahasia terdalam, dengan pengetahuan-Nya yang abadi dan tidak berubah sejak zaman purbakala.
Allah memiliki kehendak yang tak terbatas, yang mengatur segala sesuatu. Tak ada yang terjadi dalam kerajaan-Nya kecuali sesuai dengan kehendak-Nya, keputusan-Nya, dan kebijaksanaan-Nya. Setiap tindakan dan peristiwa, baik besar maupun kecil, tidak terjadi kecuali dengan keputusan-Nya dan ketetapan-Nya.
Dia adalah awal dari segala hal yang Dia kehendaki. Dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak akan pernah ada. Tidak ada yang bisa menentang kehendak-Nya atau melarikan diri darinya. Allah adalah yang mengatur segala urusan dengan hikmat-Nya dan dengan kebijaksanaan-Nya.
Allah memiliki kehendak yang abadi, dan tidak ada satu pun yang dapat mengubah atau mempengaruhi kehendak-Nya. Tidak ada halangan atau gangguan yang dapat mengubah keputusan-Nya. Dan tidak ada daya dan upaya yang bisa melepaskan diri dari kontrol dan kehendak-Nya.
Kehendak-Nya berlaku pada diri-Nya, dalam segala atribut-Nya. Kehendak-Nya telah ada dan akan tetap ada. Segala sesuatu yang Dia kehendaki terjadi sesuai dengan waktu yang telah Dia tetapkan, tanpa perubahan atau pergeseran. Allah adalah Pengatur semua urusan, tanpa harus berpikir atau menunggu, sehingga Dia tidak akan terganggu oleh urusan apa pun.
العلم: وأنه عالم بجميع المعلومات محيط بما يجري من تخوم الأرضين إلى أعلى السموات، وأنه عالم لا يعزب عن علمه مثقال ذرّة في الأرض ولا في السماء، بل يعلم دبـيب النملة السوداء على الصخرة الصماء في الليلة الظلماء ويدرك حركة الذرّ في جو الهواء ويعلم السر وأخفى، ويطلع عل هواجس الضمائر وحركات الخواطر وخفيات السرائر بعلم قديم أزلي لم يزل موصوفاً به في أزل الآزال لا بعلم متجدد حاصل في ذاته بالحلول والانتقال.
Pengetahuan Allah: Pengetahuan yang Meliputi Segala Sesuatu
Allah Ta'ala adalah Yang Maha Mengetahui tentang segala hal. Pengetahuan-Nya mencakup segala sesuatu yang terjadi di seluruh sudut bumi hingga langit yang paling tinggi. Allah memiliki pengetahuan yang tak terbatas, dan tidak ada yang bisa tersembunyi dari-Nya, sebesar biji zarah di bumi atau di langit. Dia mengetahui gerakan kecil semut hitam di atas batu di malam yang gelap gulita, dan Dia mengamati pergerakan atom di udara. Allah mengetahui segala rahasia dan hal-hal yang tersembunyi, serta merasuki pikiran batin dan gerak hati manusia. Semua ini terjadi dengan pengetahuan-Nya yang abadi, yang tidak pernah berkurang atau berubah sejak zaman purbakala.
Allah memiliki pengetahuan yang sempurna tentang semua hal. Ia mengetahui segala hal, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Pengetahuan-Nya yang tak terbatas tidak membutuhkan tambahan atau perubahan, dan tidak ada satu pun yang bisa lepas dari cakupan pengetahuan-Nya.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi dan literatur Islam tentang pengetahuan Allah.
الإرادة: وأنه تعالى مريد للكائنات مدبر للحادثات
Kehendak Allah: Penentu Nasib dan Pengatur Takdir
Allah Ta'ala adalah Yang Maha Menentukan nasib segala makhluk-Nya dan Pengatur takdir. Tidak ada yang terjadi dalam kerajaan-Nya, baik itu yang sedikit atau banyak, kecil atau besar, baik atau buruk, bermanfaat atau merugikan, iman atau kufur, pengakuan atau penolakan, kemenangan atau kekalahan, pertambahan atau pengurangan, ketaatan atau kemaksiatan, kecuali dengan qadha-Nya, ketetapan-Nya, hikmah-Nya, dan kehendak-Nya.
Segala sesuatu yang Allah kehendaki, pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki, pasti tidak terjadi. Tidak ada yang bisa menggoyahkan kehendak-Nya atau mengubah ketetapan-Nya. Allah adalah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, tidak ada yang bisa mengubah keputusan-Nya atau menghindari ketentuan-Nya. Tidak ada pelarian dari ketaatan-Nya, kecuali dengan pertolongan dan rahmat-Nya. Tidak ada kekuatan untuk mentaati-Nya kecuali dengan kehendak dan keinginan-Nya. Jika manusia, jin, malaikat, dan setan bersatu untuk menggerakkan atau menjeda sesuatu di dunia ini tanpa kehendak dan keinginan-Nya, mereka akan gagal dalam upaya tersebut.
Kehendak-Nya adalah hakikat yang melekat pada diri-Nya, sebagai bagian dari atribut-Nya. Dia senantiasa memiliki kehendak yang mengarahkan eksistensi segala sesuatu sesuai dengan waktu yang Dia tetapkan. Segala yang Dia kehendaki terjadi pada waktu yang Dia kehendaki, sesuai dengan pengetahuan dan kehendak-Nya, tanpa perubahan atau pergeseran. Allah mengatur segala urusan tanpa perlu merencanakan atau menunggu waktu yang tepat, karena hal ini tidak akan mengganggu kebesaran-Nya.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi Islam yang membahas tentang kehendak Allah dan takdir.
السمع والبصر: وأنه تعالى سميع بصير يسمع ويرى ولا يعزب عن سمعه مسموع وإن خفي. ...... الى قوله.......كما لا تشبه ذاته ذوات الخلق.
Penglihatan dan Pendengaran Allah: Kualitas Pengindraan Yang Agung
Allah Ta'ala adalah Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Dia memiliki pendengaran yang sempurna dan penglihatan yang tak terbatas. Tidak ada yang bisa menghalangi pendengaran-Nya terhadap segala suara, meskipun hal tersebut terdengar samar. Tidak ada yang dapat menghalangi penglihatan-Nya terhadap segala sesuatu, meskipun itu sangat kecil dan halus.
Pendengaran-Nya tidak pernah lelah atau terhenti, dan penglihatan-Nya tidak pernah terganggu oleh kegelapan atau ketidakterlihatan. Allah melihat tanpa membutuhkan mata atau alat pandang, dan mendengar tanpa memerlukan telinga atau alat pendengaran. Allah mengetahui segala hal tanpa membutuhkan hati manusia, dan Dia memiliki kendali tanpa memerlukan tangan atau anggota tubuh.
Namun, sifat-sifat-Nya yang agung ini tidak bisa dibandingkan dengan sifat-sifat makhluk. Sifat-sifat Allah adalah unik dan berbeda, seperti sifat-sifat-Nya yang lain. Tidak ada yang menyerupai-Nya dalam sifat-sifat-Nya, seperti halnya tidak ada yang menyerupai-Nya dalam hakikat-Nya.
Allah memiliki kemampuan untuk melihat tanpa pupil mata atau kelopak mata. Dia mendengar tanpa telinga atau saluran pendengaran. Ini adalah keagungan-Nya yang tak terbatas dan sempurna. Allah melihat dan mendengar dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya, yang tidak bisa dicapai oleh makhluk-Nya.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi dan literatur Islam mengenai sifat-sifat Allah.
Pengetahuan Allah: Pengetahuan yang Meliputi Segala Sesuatu
Allah Ta'ala adalah Yang Maha Mengetahui tentang segala hal. Pengetahuan-Nya mencakup segala sesuatu yang terjadi di seluruh sudut bumi hingga langit yang paling tinggi. Allah memiliki pengetahuan yang tak terbatas, dan tidak ada yang bisa tersembunyi dari-Nya, sebesar biji zarah di bumi atau di langit. Dia mengetahui gerakan kecil semut hitam di atas batu di malam yang gelap gulita, dan Dia mengamati pergerakan atom di udara. Allah mengetahui segala rahasia dan hal-hal yang tersembunyi, serta merasuki pikiran batin dan gerak hati manusia. Semua ini terjadi dengan pengetahuan-Nya yang abadi, yang tidak pernah berkurang atau berubah sejak zaman purbakala.
Allah memiliki pengetahuan yang sempurna tentang semua hal. Ia mengetahui segala hal, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Pengetahuan-Nya yang tak terbatas tidak membutuhkan tambahan atau perubahan, dan tidak ada satu pun yang bisa lepas dari cakupan pengetahuan-Nya.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi dan literatur Islam tentang pengetahuan Allah.
الكلام: وأنه تعالى متكلم آمر، ناه واعد، متوعد بكلام أزلي قديم قائم بذاته......الى قوله ...... لا بمجرّد الذات.
Sifat Berbicara Allah: Kehendak-Nya yang Menyuruh, Melarang, Mengancam
Allah Ta'ala adalah Yang Berbicara, Yang Memerintah, Melarang, dan Memberikan Ancaman. Kalam-Nya adalah abadi dan kekal, berjalan dengan kehendak-Nya sendiri. Kalam-Nya tidak serupa dengan ucapan makhluk-Nya, bukan merupakan suara yang dihasilkan dari hembusan angin atau gesekan benda-benda. Kalam-Nya juga bukan huruf yang terpotong saat bibir bergerak atau lidah bergerak.
Al-Qur'an, Taurat, Injil, dan Zabur adalah kitab-kitab yang diturunkan kepada rasul-rasul-Nya (alaihimus salam).
Al-Qur'an dibaca dengan lidah, ditulis dalam mushaf, dan dihafal di hati. Meskipun demikian, Al-Qur'an adalah kekal dan tidak terpisah dari hakikat Allah Ta'ala. Kalam-Nya tidak beralih ke hati manusia atau tulisan-tulisan. Seperti Nabi Musa (alaihis salam) yang mendengar kalam Allah tanpa suara atau huruf, para hamba yang saleh akan melihat wajah Allah di akhirat tanpa substansi atau bentuk.
Jika Allah memiliki sifat-sifat ini, Dia adalah yang hidup, berilmu, mahakuasa, berkehendak, mendengar, melihat, dan berbicara. Kalam-Nya bukanlah sesuatu yang terbatas pada hakikat-Nya saja, tetapi merupakan atribut yang unik.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi dan literatur Islam tentang sifat berbicara Allah.
الأفعال: وأنه سبحانه وتعالى لا موجود سواه إلا وهو حادث بفعله
Tindakan Allah: Kreatif dan Adil dalam Penciptaan
Allah, Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak ada keberadaan selain-Nya, kecuali Dia sendiri yang menciptakan semua tindakan. Tindakan-Nya merupakan hasil dari kehendak-Nya yang adil dan sempurna, yang mewujudkan segala sesuatu dengan cara yang paling baik, penuh, dan adil. Tindakan-Nya penuh hikmah, dan hukum-Nya selalu adil, tidak dapat dibandingkan dengan keadilan hamba, karena hamba bisa melakukan kezaliman dalam penguasaan atas milik orang lain.
Tidak mungkin ada kezaliman dari Allah Ta'ala, karena tidak ada makhluk yang dapat menghalangi-Nya dalam penguasaan dan tindakan-Nya sampai tindakan tersebut menjadi zhalim. Segala sesuatu selain-Nya, baik manusia, jin, malaikat, setan, langit, bumi, hewan, tumbuhan, benda mati, substansi, benda, pengamatan, atau yang dapat dirasakan, diciptakan-Nya melalui kehendak dan kekuasaan-Nya. Dia menciptakan segalanya dari ketiadaan, dan menciptakannya setelah sebelumnya tidak ada. Allah adalah satu-satunya yang ada sejak awal, tanpa ada yang lain bersama-Nya. Kemudian, Dia menciptakan makhluk sebagai bukti kekuasaan-Nya dan untuk mewujudkan apa yang Dia kehendaki sejak awal dengan kata-kata-Nya. Allah tidak memerlukan makhluk atau tergantung pada mereka.
Allah berlaku penuh kemurahan dalam penciptaan, pengkaryaan, dan penugasan-Nya, tidak karena kewajiban. Dia penuh dengan pemberian, pemberian anugerah, dan perbaikan, tidak karena keterpaksaan. Allah memiliki keutamaan, kebaikan, nikmat, dan kemurahan yang tiada tara. Dia memiliki kemampuan untuk memberikan berbagai macam siksaan kepada hamba-Nya dan mengujinya dengan berbagai macam penderitaan dan ujian. Namun, jika Allah melakukan hal tersebut, tetap akan menjadi adil, bukan menjadi kejam atau zalim.
Allah Ta'ala menguatkan hamba-Nya yang beriman untuk tetap patuh pada perintah-Nya berdasarkan kebijaksanaan-Nya dan janji-Nya, bukan karena kewajiban atau keharusan. Dia menjaga hamba-Nya agar tetap istiqamah dalam ketaatan melalui kemurahan dan janji-Nya, bukan dengan memaksakan keharusan kepada-Nya. Tidak ada yang berhak memaksakan atau menuntut hak dari Allah, karena Dia tidaklah memiliki kewajiban kepada siapapun.
Kemuliaan-Nya dalam ketaatan ditegakkan dengan mengirim para nabi-Nya, dan membenarkan kebenaran mereka melalui mukjizat-mukjizat yang nyata. Para nabi ini menyampaikan perintah, larangan, janji, dan ancaman-Nya kepada umat manusia. Oleh karena itu, adalah wajib bagi manusia untuk mempercayai dan mengimani apa yang diemukakan oleh para nabi-Nya.
Referensi:
Al-Aqidah At-Tahawiyyah (Kitab Akidah Thahawiyyah)
Referensi teks-teks teologi Islam yang membahas tentang tindakan Allah dan kebenaran para nabi.
Makna Kalimat Kedua: Iman kepada Rukun Iman
Makna kalimat kedua dalam akidah ini adalah meyakini kerasulan para rasul dan bahwa Allah mengutus Nabi Muhammad ﷺ dengan risalah-Nya kepada seluruh bangsa Arab, bangsa-bangsa asing, jin, dan manusia. Allah mencabut hukum-hukum syariat sebelumnya, kecuali yang Dia tegaskan. Allah melebihkan Nabi Muhammad ﷺ di atas semua nabi-nabi lain dan menjadikannya sebagai pemimpin manusia. Iman yang sempurna hanya terwujud dengan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Tawhid) selama bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah (risalah).
Tidak ada iman bagi seorang hamba sampai dia beriman kepada apa yang diwartakan oleh Rasul setelah kematian. Salah satu yang pertama adalah tentang tanya jawab Munkar dan Nakir. Kedua makhluk mengerikan ini akan duduk di dalam kubur seorang hamba, mengajukan pertanyaan tentang Tawhid dan risalah, dan menjadikan kubur sebagai ujian pertama setelah kematian.
Seorang mukmin harus beriman kepada siksa kubur, bahwa itu adalah hak dan keadilan yang ditegakkan pada jasad dan roh sesuai dengan kehendak Allah.
Beriman kepada timbangan amal, Al-Mizan, yang memiliki dua timbangan dan lidah yang berbicara. Ukuran Al-Mizan seperti lapisan-lapisan langit dan bumi. Amal-amal akan ditimbang dengan kekuatan Allah. Pada hari itu, setiap perbuatan baik akan dipertimbangkan, bahkan seberat zarah, dan setiap perbuatan buruk akan dipertimbangkan, bahkan seberat debu. Lalu, lembaran amal yang baik akan ditempatkan di piring cahaya, dan lembaran amal buruk akan ditempatkan di piring kegelapan. Beratnya akan sesuai dengan tingkat amal di hadapan Allah.
Beriman kepada Jembatan Sirat, suatu jembatan yang membentang di atas neraka, lebih tajam dari mata pedang dan lebih halus dari rambut. Kafir akan jatuh ke dalam neraka melalui perintah Allah, sedangkan orang beriman akan berjalan melewatinya dengan bantuan Allah menuju tempat tinggal kekal.
Beriman kepada telaga Rasulullah ﷺ, tempat para mukmin akan minum sebelum masuk surga dan setelah melewati Sirat. Minuman dari telaga ini akan menghilangkan dahaga abadi. Telaganya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Sekitar telaga ada bejana sebanyak bintang di langit.
Beriman kepada Hari Kiamat dan perbedaan manusia dalam penghitungan dan balasan amal di hadapannya. Ada yang akan dihakimi dengan cermat, ada yang akan dimaafkan, dan ada yang masuk surga tanpa penghisaban. Di hari itu, Allah akan meminta pertanggungjawaban tentang penyebaran risalah dan menolak mengakui penyangkalan para pengingkarnya.
Beriman bahwa orang beriman akan dikeluarkan dari neraka setelah mendapatkan hukuman atas dosa-dosa mereka, sehingga tidak ada lagi yang tinggal di dalam neraka yang beriman. Tetapi orang-orang beriman yang masih berada di neraka akan dikeluarkan oleh rahmat Allah, bahkan jika hanya ada seberat biji sawi kecil keimanan dalam hati mereka.
Beriman bahwa sahabat Nabi ﷺ adalah orang-orang yang paling mulia setelah para Nabi, dan urutan keutamaan mereka adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, dan kemudian Ali. Beriman bahwa sahabat-sahabat Nabi semuanya layak dihormati dan dipuji, seperti yang dihormati oleh Allah dan Rasul-Nya.
Semua keyakinan ini didasarkan pada bukti-bukti yang diberikan oleh berbagai sumber berita dan riwayat. Orang yang meyakini semua ini dengan penuh keyakinan adalah orang yang berada di jalan kebenaran dan mengikuti ajaran sunnah, dan ia menjauhkan diri dari kesesatan dan bid'ah.
Kita mohon kepada Allah untuk memberikan keyakinan yang kuat dan keteguhan dalam agama kepada kita dan seluruh kaum muslimin, dengan rahmat-Nya. Dia adalah Maha Penyayang di antara yang penyayang. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad dan kepada setiap hamba yang terpilih.

Komentar
Posting Komentar