بيان علة ذم العلم المذموم:

Ke-Outline 




Lukisan Abstrak "Hati-hati Menuju Pengetahuan": Lukisan ini menggambarkan kompleksitas perjalanan menuju ilmu, dengan garis-garis berliku yang mewakili tantangan dan pelajaran yang ditemukan. Warnanya yang bervariasi mencerminkan beragamnya bidang ilmu yang ada. Lukisan ini mengajak kita untuk menghargai nilai-nilai agama dan bijak dalam mengeksplorasi pengetahuan, sambil tetap berpegang pada panduan yang benar dan hati-hati dalam memilih arah perjalanan kita.

Tentang Keterbatasan dan Kehati-hatian Dalam Menjelajahi Dunia Ilmu

Kata pengantar 

Dalam pencarian tak berkesudahan akan pengetahuan, kita sebagai manusia sering kali terpesona oleh berbagai ilmu yang tersedia. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua ilmu memiliki manfaat yang setara dengan upaya yang kita lakukan untuk memahaminya. Kadang-kadang, menjelajahi bidang pengetahuan tertentu dapat membawa kita pada wilayah yang penuh dengan keraguan, bahkan hingga mengarahkan kita kepada hal-hal yang tidak sesuai dengan pandangan dan prinsip-prinsip yang dianut.


Artikel ini mengajak kita untuk merenungi keterbatasan dan kehati-hatian dalam mengeksplorasi dunia ilmu. Seperti halnya seorang dokter yang terampil dalam memahami rahasia-rasia pengobatan yang tidak dapat dimengerti oleh orang awam, demikian pula para Nabi adalah dokter bagi hati dan jiwa manusia, dan para ulama memiliki pemahaman mendalam terkait faktor-faktor yang berkaitan dengan kehidupan di akhirat.


Terkadang, ketika kita berusaha menggunakan akal untuk mengukur sunnah-sunnah para Nabi, kita dapat terjerumus dalam kesalahan dan menyebabkan kerusakan. Sebagai contoh, tindakan sehari-hari seperti mengoleskan obat pada suatu bagian tubuh yang sakit mungkin bisa saja dianggap sebagai solusi yang tepat, tetapi hanya seorang dokter yang benar-benar terampil yang bisa memberikan pandangan yang akurat. Hal ini menjadi analogi penting dalam pendekatan kita terhadap aspek-aspek kehidupan spiritual dan ajaran-ajaran agama. Beberapa rahasia dan hikmah mungkin tidak bisa sepenuhnya dijangkau oleh pikiran manusia yang terbatas.


Seiring dengan itu, artikel ini juga mengajak kita untuk menilai pentingnya mengikuti petunjuk dan ajaran yang telah ditetapkan oleh agama. Mengabaikan hal ini dan mengandalkan akal semata bisa saja berujung pada penyesatan. Kita diingatkan tentang kata-kata Nabi Muhammad ﷺ bahwa sebagian dari ilmu adalah kejahilan dan sebagian perkataan adalah kebodohan. Ini menyoroti bahwa terkadang, kebijaksanaan terletak pada menghindari "keahlian" tertentu yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama.


Oleh karena itu, marilah kita merenungi kembali bahwa sebagian besar dari apa yang kita cari, bahkan dalam hal ilmu, mungkin tidak selalu bermanfaat atau sesuai dengan pandangan dan prinsip-prinsip kita. Sebagai penutup, artikel ini mengingatkan kita untuk selalu merujuk kepada panduan yang telah ditetapkan oleh para Nabi dan agama, dan merendahkan akal kita di hadapan kebijaksanaan yang lebih tinggi. Dengan demikian, kita dapat menghindari jebakan dari ilmu-ilmu yang sebenarnya tidak bermanfaat dan menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan yang lebih dalam dan lebih bermakna.

Pernyataan tentang kecacatan terhadap ilmu yang dikecam:

Mungkin Anda berkata: Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, dan itu adalah salah satu sifat Allah Yang Maha Tinggi. Bagaimana mungkin sesuatu menjadi ilmu dan pada saat yang sama dikecam?

Pernyataan tentang kecacatan terhadap ilmu yang dikecam:


فاعلم أن العلم لا يذم لعينه وإنما يذم في حق العباد لأحد أسباب ثلاثة:

Maka ketahuilah bahwa ilmu itu sendiri tidak dicela, melainkan dicela terkait hamba-hamba Allah dengan tiga alasan:


Pertama: Ilmu yang mengakibatkan kerusakan, baik bagi pemiliknya maupun orang lain, seperti ilmu sihir dan tata letak, yang memang benar dicela. Al-Quran memberi kesaksian atasnya dan menjelaskan bahwa ilmu tersebut dapat digunakan untuk memisahkan antara suami dan istri. Bahkan Rasulullah ﷺ pernah terkena sihir dan sakit karena sihir tersebut, hingga Jibril memberitahunya dan mengeluarkan sihir tersebut dari bawah batu di dasar sumur. Jenis ilmu ini digunakan untuk mengambil manfaat dari sifat-sifat permata dan untuk menghitung pergerakan bintang-bintang, kemudian dibuatlah struktur dari permata-permata tersebut menyerupai gambar orang yang terkena sihir. Dengan bantuan struktur ini, waktu-waktu tertentu ditentukan untuk melakukan bacaan kata-kata kafir dan kata-kata cabul yang bertentangan dengan ajaran agama. Melalui ilmu ini, seseorang mencari bantuan dari setan. Semua ini mengakibatkan adanya perubahan aneh pada orang yang terkena sihir, dan pengetahuan tentang alasan-alasan ini bukanlah pengetahuan yang dicela, tetapi pengetahuan ini hanya cocok untuk merugikan makhluk dan menjadi sarana untuk melakukan kejahatan. Oleh karena itu, ilmu ini menjadi ilmu yang dicela. Bahkan, ada orang yang mengikuti wali Allah untuk membunuhnya karena dia menghilangkan sihir tersebut dari tempat tersembunyi. Ketika orang jahat bertanya tentang lokasinya, tidak boleh memberi peringatan padanya. Sebaliknya, wajib untuk berbohong dalam hal ini. Penyebutan tempat tersembunyi ini adalah petunjuk dan pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya, tetapi dicela karena digunakan untuk tujuan merugikan.

Kedua: Ilmu yang merugikan pemiliknya pada umumnya, seperti ilmu astrologi. Ilmu ini pada dasarnya tidak dicela dalam dirinya sendiri, karena terbagi menjadi dua bagian:


Bagian pertama adalah perhitungan astronomi. Al-Quran telah menyebutkan bahwa perjalanan matahari dan bulan telah dihitung oleh Allah, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya: "Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan." (Q.S. Ya-Sin, 36:40) dan "Dan bulan, Kami tentukan manzilahnya sehingga ia kembali seperti tanduk buru-buru tua." (Q.S. Ya-Sin, 36:39).


Bagian kedua adalah hukum-hukum dan prediksi yang didasarkan pada penyebab, mirip dengan cara dokter memprediksi penyakit dengan memeriksa nadi pasien. Ini adalah pengetahuan tentang jalannya sunnatullah dan kebiasaan Allah dalam penciptaan-Nya. Namun, ilmu ini telah dicela oleh agama.


Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika qadar (takdir) disebutkan, maka berhentilah (dari membicarakannya). Jika bintang-bintang disebutkan, maka berhentilah (dari membicarakannya). Dan jika sahabat-sahabatku disebutkan, maka berhentilah (dari membicarakannya)." (Hadits riwayat Abu Hurairah)


Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Aku khawatir terhadap umatku setelah aku karena tiga hal: kekhawatiran terhadap para imam (pemimpin), kepercayaan kepada astrologi, dan penolakan terhadap qadar (takdir)." (Hadits riwayat Abu Hurairah)


Umar bin Khattab radhiyallahu anhu juga pernah berkata: "Pelajari ilmu astrologi untuk menavigasi daratan dan laut, kemudian tinggalkanlah."



وإنما زُجرَ عنهُ من ثلاثة أوجه:

 Ia hanya dikecam atas tiga dasar:


Pertama: Karena ia merugikan sebagian besar manusia. Ketika efek-efek ini disajikan kepada mereka, yang terjadi sesudah perjalanan planet, muncul dalam pikiran mereka bahwa planet-planet itu sendiri yang memberi pengaruh, dan bahwa planet-planet ini adalah dewa-dewa yang mengatur segalanya, karena mereka adalah permata suci di langit. Pengaruh ini kemudian tertanam kuat dalam hati mereka, sehingga hati tetap terpaku pada pengaruh ini. Mereka melihat baik dan buruk berasal darinya, dan ketidakberdayaan dalam mengambil keputusan. Oleh karena itu, mengingat Allah menjadi hilang dari hati mereka. Orang yang lemah dalam pengetahuan akan terbatas pada penyebab-penyebab yang dangkal. Orang yang paham benar adalah yang menyadari bahwa matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah Allah Yang Maha Tinggi. Sebagai contoh, pandangan lemah melihat terjadinya cahaya matahari setelah matahari terbit sebagai hasil dari matahari itu sendiri, seperti semut yang melihat tinta yang baru diucapkan adalah tindakan pena, dan semut tidak mampu melihat ke sumber pena itu sendiri. Hal ini juga berlaku untuk yang lainnya. Pandangan lemah tidak mampu melampaui sebab-sebab langsung dan dangkal. Ketidakmampuan ini adalah salah satu alasan mengapa astrologi dilarang.


Kedua: Karena hukum-hukum planet adalah perkiraan semata. Tidak mungkin mendapatkan pengetahuan yang pasti tentang hal-hal spesifik tentang individu-individu tertentu. Mengambil keputusan berdasarkan ilmu semacam ini adalah tindakan kebodohan, dan pengecaman ini pada dasarnya adalah terhadap ketidakmampuan ini bukan ilmu itu sendiri. Pengetahuan ini dikatakan pernah dimiliki oleh Nabi Idris alaihis salam dalam sejarah yang lalu, namun pengetahuan ini kemudian hilang. Hal ini juga berlaku pada sebagian kecil orang yang dikenal dengan nama "al-Munajjimun" (orang-orang yang meramal dari bintang-bintang). Pada dasarnya, jika mereka meramalkan dengan benar, itu disebabkan oleh pengetahuan sebab-sebab yang lebih dekat dengan kejadian, tetapi hasil akhir sebab-sebab ini hanya dapat diakses setelah berbagai syarat terpenuhi, yang tidak mungkin manusia untuk mengetahui secara pasti. Oleh karena itu, jika hasil yang diharapkan terjadi, maka Allah telah menetapkannya, dan jika tidak, maka ramalan tersebut salah, seperti perkiraan seseorang bahwa hujan akan turun hari ini, berdasarkan pengamatannya terhadap awan-awan, dan ternyata bisa jadi hujan tidak turun hari ini, dan ada banyak faktor yang tidak dapat diakses. Hal yang sama berlaku untuk pelaut yang meramalkan bahwa kapal akan tiba dengan selamat berdasarkan pengalaman mereka dengan angin, padahal ada banyak faktor yang tidak diketahui oleh pelaut. Itulah sebabnya mengapa pengecaman ini juga ditujukan kepada ilmu astrologi.


Ketiga: Tidak ada manfaat yang diperoleh darinya. Dalam banyak kasus, hal ini hanya merupakan aktivitas keinginan belaka yang tidak memberikan keuntungan. Ini akan menghambur-hamburkan hidup, yang merupakan aset terpenting manusia, tanpa mendapatkan manfaat yang sesungguhnya. Inilah puncak kerugian. Rasulullah ﷺ pernah melihat sekelompok orang berkumpul di sekitar seseorang. Beliau bertanya, "Apa yang sedang mereka lakukan?" Mereka menjawab, "Dia adalah seorang ahli." Rasulullah ﷺ kemudian bertanya, "Ahli dalam hal apa?" Mereka menjawab, "Dalam puisi dan silsilah suku Arab." Rasulullah ﷺ berkata, "Ilmu yang tidak bermanfaat dan kebodohan yang tidak merugikan." Rasulullah ﷺ juga berkata, "Ilmu adalah tanda yang jelas, sunah yang teguh, atau kewajiban yang adil." Oleh karena itu, terlibat dalam ilmu astrologi dan hal-hal serupa adalah merambah bahaya dan terlibat dalam kebodohan yang tidak memberikan manfaat. Apa yang ditakdirkan akan terjadi, dan kita tidak bisa menghindarinya. Ini berbeda dari ilmu kedokteran, yang sangat diperlukan, dan bukti-bukti ilmiah yang kuat mendukungnya, atau ilmu tafsir, meskipun mungkin berisi perkiraan, tetapi bagian ini hanya sebagian kecil dari enam puluh empat bagian dari kenabian, dan ini tidak membawa bahaya.

السبب الثالث: الخوض في علم لا يستفيد الخائض فيه فائدة علم،

Alasan ketiga: Terlibat dalam ilmu yang tidak memberikan manfaat adalah tindakan yang sangat dikecam. Ini serupa dengan belajar ilmu yang lebih rinci sebelum memahami prinsip-prinsip yang mendasar, atau mencari rahasia-rahasia ilahi yang hanya dapat dipahami oleh para filosof dan pemikir, namun bukan oleh mereka sendiri. Bahkan para filosof dan pemikir tersebut tidak pernah mencapai pemahaman yang memadai tentang rahasia-rahasia itu, hanya para Nabi dan Wali Allah yang memahaminya. Oleh karena itu, manusia harus dihentikan dari mencari rahasia-rahasia itu dan harus kembali kepada apa yang dijelaskan oleh agama. Dalam hal ini, aturan agama adalah cukup untuk membimbing mereka yang mendambakan petunjuk. Banyak orang telah terjerumus dalam berbagai ilmu dan mengandalkan ilmu tersebut, padahal jika mereka tidak terlibat dalam ilmu tersebut, keadaan mereka akan lebih baik dalam agama. Bahkan, ada kemungkinan bahwa beberapa orang sebenarnya mendapat manfaat dari ketidaktahuannya tentang beberapa hal. Sebagai contoh, dikisahkan bahwa seseorang mengeluh kepada seorang dokter bahwa istrinya mandul dan tidak bisa hamil. Dokter mengukur detak nadinya dan mengatakan bahwa tidak perlu menggunakan obat penyubur karena dia akan mati dalam empat puluh hari. Sinyal detak nadinya telah mengarah pada kesimpulan ini. Wanita tersebut merasa ketakutan yang sangat besar dan hidupnya menjadi menderita. Dia membagi harta miliknya, membuat wasiat, dan berhenti makan dan minum, percaya bahwa dia akan meninggal. Namun, saat hari keempat puluh tiba, dia tetap hidup. Suaminya kembali kepada dokter dan berkata, "Dia belum mati." Dokter menjawab, "Saya tahu itu, maka sekarang berkumpullah dengannya karena dia akan melahirkan." Suami bertanya, "Bagaimana Anda tahu?" Dokter menjawab, "Saya melihat dia gemuk dan bahwa lemak telah menutupi mulut rahimnya. Saya tahu bahwa dia hanya akan bermain-main dengan kematian, jadi saya menakutinya dengan hal itu sampai dia ketakutan, dan dengan demikian rintangan bagi kelahiran dihilangkan."


Cerita ini mengajarkan kepada kita tentang bahaya beberapa ilmu dan memberi pengertian tentang ucapan Nabi Muhammad ﷺ: "Aku berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak memberikan manfaat." Oleh karena itu, ambil pelajaran dari kisah ini dan jangan terlibat dalam ilmu yang dilarang oleh agama dan diharamkan, dan ikuti jejak para sahabat yang telah mendapatkan ridha Allah. Batasilah dirimu hanya pada mengikuti sunnah. Keamanan terletak dalam mengikuti, sedangkan bahaya terletak dalam mencari hal-hal dan usaha sendiri. Janganlah terlalu percaya pada pendapatmu, penalaranmu, buktimu, dan argumenmu, berpikir bahwa kamu sedang mencari ilmu untuk mengerti kebenarannya. Ingatlah, bahkan dalam berpikir tentang ilmu, dampak buruk yang bisa datang kepadamu sebagai akibat dari itu lebih besar daripada manfaat yang bisa kamu peroleh. Berapa banyak hal yang bisa kamu ketahui dan menyebabkan kerugian besar bagimu di akhirat jika Allah tidak memperingatkanmu dengan rahmat-Nya.


Dan ketahuilah, sebagaimana dokter terampil dapat memahami rahasia-rahasia dalam pengobatan yang dapat diabaikannya oleh mereka yang tidak mengenalnya, begitu pula para Nabi adalah dokter bagi hati-hati dan para ulama tentang faktor-faktor kehidupan di akhirat. Janganlah kamu mengukur sunnah-sunnah mereka dengan akalmu sendiri hingga menyebabkan kerusakan. Sebagai contoh, seorang yang mengalami sakit di jari tangannya mungkin menganggap bahwa mengoleskannya adalah solusi yang benar, tetapi seorang dokter yang terampil mungkin akan memberitahu bahwa pengobatan sebenarnya adalah dengan mengoleskan obat ke bagian tubuh yang berlawanan. Namun, hal itu bisa diabaikan oleh mereka yang tidak memahami bagaimana aliran saraf bekerja dan bagaimana jalur-jalur saraf tersebut tumbuh dan berputar di dalam tubuh. Begitu pula halnya dengan ajaran-ajaran dan aturan-aturan akhirat serta etika-etiak yang ditetapkan oleh agama. Terkadang, ada rahasia dan hikmah-hikmah di dalamnya yang tidak bisa dijangkau oleh pikiran dan daya tangkap akal manusia, seperti dalam hal-sifat khusus batu permata yang tidak pernah diketahui oleh para ahli pembuat batu permata sehingga tidak ada yang dapat menjelaskan mengapa magnet menarik besi. Demikian pula, ada keajaiban dan rahasia dalam keyakinan dan amalan-agamawi, yang dapat membersihkan, membersihkan, mensucikan, dan memperbaiki hati, sehingga membawa mereka lebih dekat kepada Allah dan memperoleh lebih banyak keberkahan dan kemuliaan daripada obat-obatan dan ramuan. Sama seperti akal manusia terbatas dalam memahami manfaat obat-obatan meskipun pengalaman adalah cara untuk mencapainya, akal manusia juga terbatas dalam memahami manfaat yang diperoleh di akhirat, meskipun pengalaman belum mencapainya. Jika beberapa orang yang telah meninggal kembali kepada kita dan memberi tahu kita tentang amalan-amalan yang diterima dan bermanfaat yang mendekatkan kepada Allah, serta amalan-amalan yang ditolak, dan juga tentang keyakinan-keyakinan yang sebenarnya tidak mampu dijangkau oleh pikiran manusia, itu akan menjadi bukti lebih dari cukup bagi kita. Dengan memahami kebenaran Nabi Muhammad ﷺ dan memahami petunjuk-petunjuknya, maka akal harus diabaikan dalam tindakan dan harus diikuti, dan tidak ada jalan selain itu. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengatakan, "Sesungguhnya sebagian ilmu itu adalah kejahilan dan sebagian perkataan itu adalah kebodohan." Tentu saja, ilmu itu bukanlah kejahilan, tetapi pengaruh dari ketidaktahuan memiliki efek yang merugikan. Dia juga bersabda, "Sedikit petunjuk yang diberikan Allah adalah lebih baik daripada banyak pengetahuan." Isa, putra Maryam, juga bersabda, "Begitu banyaknya pohon, namun tidak semuanya berbuah; begitu banyaknya ilmu, namun tidak semuanya bermanfaat."



Kesimpulan: Kehati-hatian dalam Meniti Jejak Ilmu


Dalam perjalanan panjang menuju pengetahuan, kita telah melihat betapa pentingnya memahami batasan-batasan yang ada. Artikel ini telah membawa kita melalui perenungan tentang urgensi kehati-hatian dalam menjelajahi dunia ilmu. Seperti yang telah diuraikan, tidak semua ilmu memiliki manfaat yang sepadan dengan usaha yang kita investasikan untuk memahaminya. Seperti seorang dokter yang hanya akan meresepkan obat yang sesuai dengan diagnosis yang tepat, kita juga harus mempertimbangkan fakta bahwa beberapa ilmu memiliki kedalaman dan kompleksitas yang mungkin melebihi kapasitas pemahaman manusia.


Penting bagi kita untuk mengenali bahwa para Nabi adalah ahli dalam penyembuhan hati dan jiwa, sedangkan para ulama adalah penjaga ajaran dan prinsip-prinsip yang mengarahkan kita pada kehidupan yang lebih baik di dunia dan di akhirat. Seiring dengan itu, marilah kita tidak mengabaikan nasehat-nasehat mereka dan melihat kebijaksanaan yang terkandung di dalamnya.


Dalam penutup ini, kita diingatkan akan pentingnya berpegang teguh pada panduan agama dan ajaran yang telah diturunkan kepada kita. Kita harus menyadari bahwa terkadang, "keahlian" yang tidak selaras dengan nilai-nilai agama dapat membawa kita jauh dari jalur yang benar. Menghargai petunjuk dari para Nabi dan ulama merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan kebijaksanaan yang telah diberikan kepada umat manusia.


Saat kita melangkah lebih jauh dalam perjalanan kita mencari pengetahuan, mari kita selalu menjaga hati-hati dan tidak hanya mengandalkan akal semata. Kita dapat mengeksplorasi dunia ilmu dengan penuh antusiasme, namun kita juga harus mengakui bahwa ada batasan yang tidak dapat kita tembus. Mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya menggabungkan pengetahuan dengan nilai-nilai agama, sehingga kita dapat melangkah menuju hidup yang lebih bermakna, terarah, dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.



Artikel ini bersumber dari terjemahan kitab Ihya Ulumuddin bab 

بيان علة ذم العلم المذموم:

لعلك تقول: العلم هو معرفة الشيء على ما هو به 

وهو من صفات الله تعالى، فكيف يكون الشيء علماً ويكون مع كونه علماً مذموماً؟





Komentar